Part 32 - Hari yang Indah?

1044 Kata
Bukankah kita bisa tersenyum bahagia dengan hal-hal sederhana? Sejak kapan kebahagiaan mensyaratkan sesuatu yang mewah dan rumit? Tidak ada satu teori manapun yang menekankan standaritas kebahagiaan. Setiap orang bisa dan mampu mengusahakan kebahagiaan versi dirinya sendiri. Jika kau bertanya dengan apa keceriaan dapat terbuat, barangkali ada dalam percakapan sehari-hari. Satu hal yang tak pernah terpikir bakal terjadi. Percakapan orang-orang di rumah sakit misalnya. Keceriaan yang begitu mengalir apa adanya. Ruangan rumah sakit itu, mau sebagus apapun bentuknya, itu tetap rumah sakit. Tak ada orang normal yang akan betah di rumah sakit. Tak ada. Normalnya, semua orang akan dan ingin sekali keluar dari rumah sakit. Apalagi melihat satu per satu pemandangan yang tak mengenakkan. Suara orang berjerit panjang menahan kesakitan. Ada pula orang yang merintih juga menahan kesakitannya. Tak dipungkiri pula ada beragam air mata kesedihan yang menyaksikan anggota keluarganya harus meninggal dunia. Pergi untuk selamanya. Lalu, dengan apa kesedihan dapat lebih bersahabat untuk ditimang-timang? Tak ada yang tahu pasti tentang hal ini. Tak ada yang tahu pasti berapa dan berapanya obat untuk kesedihan. Tak ada resep dan takaran pasti seperti resep yang kita beli saat menebus obat di apotik. Tak ada yang tahu pasti bagaimana cara menyembuhkan sedih, selain orang yang mengalaminya sendiri. Kesedihan menjadi seperti sebuah seni pada diri manusia yang cukup begitu epiknya. Kesedihan pula agaknya adalah satu memori dalam otak yang akan lebih mudah diingat oleh manusia. Misalnya, ketika sepuluh tahun yang lalu ada pemuda yang ditolak oleh perempuan yang dicintainya. Ketika sudah berlalu hal itu, pemuda itu tumbuh, menikah dengan perempuan lain. Namun, ketika memori itu mencoba diingat kembali, rasa sakitnya akan tetap ada di sana. Masih bisa dirasakannya. Berbeda dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang dirasakan saat jatuh cinta sepuluh tahun yang lalu, ya begitu saja. Sepuluh tahun kemudian, perasaan bahagia dulu kala, tidak akan hadir dengan perasaan yang sama, ketika mencoba mengingatnya. Barangkali, sebab itu pula bagaimana mengolah perasaan sedih dan bahagia agar tetap nikmat itulah, jalan tengahnya. Kinan menatap Tania dari balik kaca spion motornya. Kembali mengucap tanya, "Eh, kamu cantik juga." "Apaan sih? Kan perempuan, ya cantik!" "Hehe dari spion kaca tapi." "Apaan sih, Nan. Garing." "Nggakpapa. Yang penting bisa ketawa kan?" Kado terbaik akan menyertai siapa saja yang terus bergerak. Meski seluruh anggota tubuhnya meminta berhenti. Tapi yang membuat hidup adalah tekad hati. Seseorang bisa saja lemah fisiknya. Namun, selagi ada semamgat dalam hidupnya—ia akan tetap indah begitu adanya. Serupa musim, tak ada musim yang menunggu. Menunggu kotanya siap sedia. Tak ada. Yang ada adalah kesiapan kota. Dengan berbagai kejutan musim dan cuaca. Cuaca hari itu cerah sedikit mendung. Tak sedikit mata yang membacanya memilih menepi. Adapula yang murung. Mata yang menepi, membacanya sebagai kesiapan akan turun hujan. Sedangkan mata yang murung, adalah ketaksiapan diri—lalu membacanya sebagai musibah yang menyebalkan : hujan. Gerimis memang sempat menyapa setelah cuaca itu. Tapi hanya beberapa saat. Ada cerah kembali seolah kejutan untuk mata yang merindukan. Ya, mereka yang merindukan warna-warna selendang pelangi. Tak jarang, kasih akan tumbuh bagi siapa saja yang mau menyadari. Bahwa perihal ketulusan adalah suatu hal yang tak bisa dipungkiri. Ya, tak bisa dipungkiri hal itu sangat dibutuhkan dalam berbagai kasih yang abadi. Namun, seringkali banyak manusia tak menyadari. Lebih suka menaruhnya pada hal-hal yang tak abadi. Entah itu harta dan kemewahan belaka. *** Pernahkah kau juga merasakan hal sama? Ketika hati tak bisa dibohongi bagaimana ketulusannya ingin bekerja sepenuh jiwa? Begini, misalnya ada seseorang yang kau benci seumur hidup. Entah karena apapun kebencian itu tumbuh. Setiap harinya kian tumbuh, tumbuh, dan terus bertumbuh. Alhasil, setiap hari bukan hanya kebencian tapi barangkali sudah masuk lingkup dendam. Setiap kali mendengar namanya, sinyal kebencian itu tumbuh seketika. Namun, angin takdir seolah membawamu pergi ke suatu nuansa berbeda. Inti hatimu tak bisa mengelak, begitu melihat orang yang kamu benci kesakitan, merasa terluka, dan butuh pertolongan. Pernahkah merasa hal seperti itu? Barangkali, begitulah yang Nia rasakan dan lakukan. Sejauh apapun kebencian yang semula ia tumbuhkan di hatinya seseorang, tetapi tak bisa mengelak inti hatinya untuk membantunya. Gerak hati akan membawa seseorang pada kedamaian tiada tara. Bisa iba hati dan merasai penderitaan orang lain, itulah hakikat nikmat ketulusan jiwa. Beruntunglah yang di hatinya masih memilikinya. Jangan pernah takut apapun mengikuti kata hatimu sendiri. Meskipun menampik ego juga perlu waktu. Tak ada yang benar-benar mudah. Sebagaimana tak ada yang benar-benar sulit untuk dilakukan ketika tekad hati telah hidup dalam sanubari. "Nan. Ini beneran nggakpapa aku ke rumahmu? Nggak ganggu Ibumu?" "Hei, justru Ibuku tadi keliatan seneng banget tau." "Oh ya?" "Sejak kapan kamu nggak percaya aku?" Aku refleks tersenyum begitu saja. Entah, apa yang benar-benar kurasakan kali ini. Aku entah bagaimana seolah memilih tak peduli jenis perasaan apa yang kini menghinggapiku. Tanpa menunggu lama lagi, Kinan meraih tanganku. Sekuat hati, ia berusaha melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Raut wajahnya sesekali terlihat tersenyum, dan dalam waktu bersamaan, bisa membuat suatu hal menjadi kelembutan. Entah bagaimanapun, sebuah ketulusan yang diberikan oleh siapapun, tak bisa dihindari efek dari vibe positifnya. Agaknya, mungkin hal itulah yang mulai dirasakan oleh laki-laki bernama Kinan itu. "Nyamanin. Mau agak ngebut." Ucap Kinan. "Hati-hati." "Siap. Pegangan yang erat." "Hati-hati habis hujan." "Iya, Sayang." Deg. Panggilan itu? Apa maksudnya ia mengatakan hal itu? Ah, apa aku salah mendengarnya? Mataku seperti terkena cahaya yang menyikaukan, padahal hujan masih menyisakan rintik gerimisnya. Entah kenapa aku dibuat diam tergugu begitu saja. Apalagi begitu mendengarnya. Apa maksud perkataan itu? Apakah memang aku salah mendengarnya? "Hei, kok diem?" "Ouh nggakpapa, Nan." "Kamu kenapa? Maaf, ya tadi agak ngebut." "Nggakpapa." "Beneran nggakpapa?" "Iya, kok. Aku nggakpapa." "Syukurlah." "Tania..." "Hum? Iya?" "Pernah terpikir tentang hari yang indah?" "Hari yang indah? Maksudnya?" Kinan meraih tanganku. Kembali memasukkannya dalam saku jaketnya seperti semula. "Diluar dingin. Biar tanganmu tetap hangat." "Hum. Makasih." "Kamu pernah... uhm nggak jadi deh." "Kenapa, Nan? Ada yang mau diomongin?" "Nggak. Nggak jadi. Lain kali aja. Udah malem juga. Biar tetep fokus nyetir. Kita hampir sampai kok." "Iyah. Hati-hati." Angin malam kian seolah mengajak lembut meninabobokan. Kudekatkan wajahku pada punggungnya perlahan. Aku tahu, Kinan juga memerhatikanku dari kaca spionnya. Sambil berbisik, entah aku refleks mengucapkan perkataan itu. Perasaan ini hadir terasa begitu megahnya. Ya, aku tak tahu kenapa membisikkan kalimat itu di punggung yang kusandarkan kepalaku. "Nan, Aku menyayangimu." Bisikku perlahan. Kupejamkan mataku. Tak ada perasaan bahagia melebihi perasaanku kini padanya. Aku bahagia bersamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN