"Hei, gimana? Gapapa ke rumahku? Nanti sama Ibuku. Yah?"
Suara Kinan mengagetkanku yang sedang memerhatikannya. Cara bicaranya yang tajam, tapi tetap terdengar begitu lembutnya. Aku tak tahu bagaimana aku bisa terus memerhatikannya. Ia seperti punya daya magisnya tersendiri.
Tak ada kosa kata sudah baginya. Semua problem apapun, seolah bisa dibuat sederhana dan selalu sederhana. Tak luput, bumbu homor selalu ia tawarkan dengan begitu suka rela.
Pernah suatu ketika, aku dan dia ingin pergi ke sebuah taman yang sejuk. Akhirnya karena pulang sekolah cukup panas siang-siang bolong, aku dan Kinan memutuskan makan dan berteduh di sebuah entah taman juga bukan, tapi ya istilahnya bisa buat duduk. Lebih mirip tempat buat nunggu seseorang.
Hanya ada satu yang begitu menarik perhatianku. Yakni sebuah pohon beringin besar nan begitu rindangnya. Jalanan yang panas luar biasa pun, tak begitu terasa dengan duduk di sekitarnya.
Tempat kami duduk itu berada di depan sebuah sekolah menengah pertama alias SMP. Beberapa siswa pun mulai ramai keluar dari gerbang sekolah. Persis di sekitar kami, beberapa pedagang kaki lima cukup banyak bertebaran di sisi jalan raya.
Ada yang jualan minuman, cemilan, sampai makanan berat seperti bakso dan lengko. Aku? Lebih tepatnya Kinan menawariku makan bakso cuanki. Aku yang saat itu belum pernah mencobanya, hanya menganggukkan kepala.
"Minumnya es jeruk?"
Aku mengangguk lagi begitu ia menawarkanku minuman. Karena pohon di depan kami, angim sejuk pun masih bisa terasa meskipun ketika berdiri di jalan raya, nuansanya akan sangat begitu berbedanya.
"Gimana? Nggakpapa kan kita duduk di sini aja?" tanya Kinan sambil melepaskan tas ranselnya ke sisi tubuhnya. Lalu melentangkan kaki begitu saja. Seolah lelah sekali.
"Gapapa, sih. Lagian lumayan adem, kok."
"Iya, nih. Adem. Lumayan lah ya. Eh, kunci motornya?"
"Kebiasaan deh lupa. Coba di saku."
"Nggak ada, Tan."
"Tas?"
"Nggak ada juga."
"Motor? Masih ketinggalan di motor?"
"Aihh sepertinya iya. Bentar, ya."
Sontak, Kinan segera memeriksa sepeda motornya yang diparkir di tepian jalan raya. Matanya begitu tajam melihat setiap detail motor. Namun, tak ada.
Ia menggaruk kepala, refleks bingung harus mencari kemana. Kakinya mulai responsif menendang angin. Entah, apa yang dia lakukan. Begitu menggemaskan sekali rasanya bisa melihat dia kebingungan dari kejauhan seperti itu.
Karena dia masih berusaha mencari di setiap sisi sepeda motornya, aku pun mendekat dan memanggilnya.
"Kinaan!" panggilku seraya memamerkan kunci sepeda motornya di tangan kananku.
"Aaaaih, Taniaa! Awas, ya. Nanti aku kerjain balik!"
"Haha lagian kamu lupaan. Untung aja aku liat kunci itu, coba kalau ndak? Kalau ada yang maling gimana?"
"Iya,iya. Makasih, yaa peri penyelamat."
"Apaan peri penyelamat. Hanya karena menyelamatkan sebuah kunci aku layak dijuluki kek gitu kah?"
"Emangnya gamau? Hum? Bukannya suka yang lucu-lucu, yah? Peri penyelamat lucu, tau."
"Kalau selama ini berbagai kisah romansa selalu menghadirkan sisi lemahnya perempuan lalu dibantu oleh pangeran dan semacamnya. Nah, Peri Penyelamat beda. Ia justru menyelamatkan pangeran." ucap Kinan begitu sangat membuatku ngantuk dan lapar.
"Haha tau ah! Kamu aneh!"
"Ish! Emang gamau jadi peri penyelamat?"
"Emang tugasnya ngapain aja kalau mau daftar jadi peri penyelamat? Hum? Ada tes tinggi badan? Berat badan? Atau harus bisa jalan ala model gitu?"
"Aihh kamu. Beda lah."
"Bedanya?"
"Peri Penyelamat tidak perlu syarat tinggi badan, berat badan, bahkan warna kulit sekalipun. Tapi, yang dibutuhkan untuk jadi peri penyelamat cuma satu."
"Satu? Apa tuh?"
"Kepo, yaah? Udah, ayoo makan dulu!" Kinan menarik tanganku sambil berlari dan duduk bersama.
"Silakan, Mas, Mbak. Ini bakso cuankinya,"
sapa pedagang bakso cuanki sambil menyerahkan pula dua gelas es jeruk.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
"Nah, udah siap makan. Laper banget kan daritadi?"
Aku menganggukkan kepala. Seraya tak lama kemudian menyantap bakso cuanki yang sudah di depan mata.
Hangatnya kuah turut serta juga senada hangatnya perasaanku. Bagaimana tidak? Tak terasa, saat itu adalah menjelang detik-detik kami berpisah.
Ya, itu adalah kami disaat kelas tiga SMA. Aku dan Kinan memang mengambil jurusan berbeda. Dia ambil jurusan Bahasa. Sedangkan aku? Malah mengambil IPA.
Bukannya dia tak suka dengan bahasa dan jurusannya. Justru, karena saat itu dia amat menyukai bahasa, makanya ia memutuskan untuk mengambil jurusan bahasa.
Barangkali, sosok ibunya juga memengaruhi pula pola pandanganga terhadap hidup dan kehidupan. Ibunya seorang editor senior di penerbitan ternama. Merangkap sebagai translater.
Karena suatu alasan tertentu, sekarang memutuskan di rumah. Lebih ke membagi pengalaman dunia editing dan hanya penerjemah, yang terus ia lakukan. Karena hal itulah yang dapat dilakukan bebas, tak terikat tempat dan waktu. Ia bisa lakukan di rumah.
Sebagaimana Kinan yang lembut dan tahu cara memerlakukan perempuan dengan baik, Ibunya pun lebih lebih begitu sangat lembut nan baik hati. Barangkali, itu sebabnya pula aku dan Kinan seperti sahabat yang dekat sekali. Kekasih? Aku sejak dulu tak pernah ingin disebut dengan hal semacam itu. Biarlah mengalir begitu saja.
Kelembutan Kinan yang membuatku percaya. Tak hanya itu, meskipun ia seringkali begitu cerewet menceritakan apapun. Namun, dalam waktu lainnya, ia pun bisa menjadi seorang pendengar yang baik. Agaknya, skill itu pun ia pelajari dari Ibunya.
Saat aku sedih, ia tak pernah membandingkanku. Saat aku merasa kesedihan itu bertambah dan semakin menyesakkanku, dia pun kembali tak pernah membandingkan kesedihanku dengan kesedihannya atau pun kesedihan orang lain.
Kinan adalah Kinan. Laki-laki yang kupercaya dan begitu kutitipkan kenyamanan padanya. Aku merasa begitu beruntung memiliki sahabat sebaik ia.
Anehnya, meskipun kelas bahasa terkenal dengan banyak peminat perempuan, hanya ada tiga laki-laki di kelas Kinan. Ia justru tak pernah kudapati jalan keluar bersama teman perempuan. Padahal, kalau urusan sekolah ya bisa saja sering harusnya bukan? Namun, ia tidak. Entahlah. Aku pernah bertanya tentang ini padanya. Tapi sedikit menyesal, jawaban yang sangat membuat perutku mual ingin tertawa.
"Nan, kenapa sih gak pernah aku lihat kamu jalan sama perempuan lain? Kan anak bahasa tuh banyak perempuan cantik," celetukku.
"Uhm, perempuan cantik tuh yang gimana sih?"
"Yaaa yang begitulah. Masa gatau? Pasti paham kan?"
"Uhm, bentar-bentar. Ini kamu nanya gini maksudnya apaan?"
"Yaaa nggak kenapa-napa, cuma agak heran aja. Kamu malah jauh-jauh ke ruangan kelasku yang jaraknya di ujung gini."
Maklum, kelas bahasa dan IPA saat itu sangat berjauhan. Malahan, saat istirahat Kinan yang mengajakku jajan ataupu ke perpustakaan. Ataupun sekedar duduk-duduk sambil membahas hal-hal remeh kehidupan.
"Uhm, emang kenapa? Gaboleh gitu aku nyamperin kamu? Hayo, ada yang cemburu, ya? Atau... Kamu yang cemburu sama salah satu perempuan di kelasku? Hayoo," Kinan malah terus meledekku.
Rasa-rasanya aku ingin muntah, tapi tetap tertawa entah apa yang lucu dari percakapan kami saat itu.
"Kinan, benarkah aku pantas jadi peri penyelamat?" Batinku.