"Sejak kejadian itu, aku tak tahu lagi dimana Ibu."
"Ibu pergi begitu saja. Bahkan, hanya ada aku di pemakaman Bapak. Semua orang terlihat berwajah penuh tanya. Kemana istrinya?"
"Aku masih ingat jelas, bagaimana aku menangis di pemakaman Bapak. Sementara aku juga masih ingat jelas bagaimana orang-orang melihatku."
"Sebagian mereka nampak begitu iba denganku. Tak sedikit pula yang entah bagaimanan aku tak ingin menebaknya."
"Yang kupikirkan saat itu hanya kenapa Tuhan begitu tak adilnya? Kenapa Bapak harus pergi secepat itu? Kenapa?" Lagi-lagi, aku belum bisa berdamai dengan diri sendiri.
Air mata berlinang. Kesedihan, menjadi satu kata yang tak perlu dipertanyakan lagi. Akan ada masanya pula, kita begitu malas menjelaskannya kenapa.
Kalaupun hal itu dijelaskan, kita hanya mampu mengurai cerita. Lebih tepatnya mengulang cerita di dalam memori otak. Kita berusaha memutarnya kembali selayaknya kita memutar playlist lagu di ponsel atau seperti kita memutar film yang disuka berkali-kali. Kita bisa melakukan itu cukup karena memang menyukainya
Aku masih terduduk di depan minimarket. Kinan di sebelahku. Ia masih diam tak bergeming. Entah, ia tak langsung merespon apapun padaku kali ini.
Ia hanya memandangku bagaimana air mata terus mengalir di pipiku. Sesekali tangannya perlahan mengusapnya. Ya, hanya itu. Dia masih saja diam penuh rahasia.
Apakah dia memang sengaja membiarkanku bercerita mengulang memori saja? Apakah diapun sebenarnya pernah merasakan kesedihan sepertiku?
Aku duduk. Sesekali mengetuk-ngetukkan sepatu ke tanah. Entah, sedikit meluruhkan segala gundah.
Hujan masih saja tak henti-hentinya membasahi tanah. Tak ada yang benar-benar mampu sabar, kecuali ia yang tak pernah berhenti menyerah. Bukankah dalam hidup apapun, kesulitan, kesedihan sudah jadi menu akrab kehidupan?
Lalu lalang kendaraan mulai sepi. Tak ada riuh dalam pemandangan di depanku kini. Sepertinya riuh itu berpindah ke kepalaku. Semakin aku menyimpannya rapat, rasa-rasanya justru seperti ingin memaksa melompat.
"Aku harus bagaimana, Nan? Hum?"
"Bapak sudah tiada. Ibu entah kemana. Aku harus kemana sekarang? Aku harus bagaimana?"
"Bukankah keputusanku sudah benar, aku pergi saja dari dunia ini menyusul Bapak?"
"Ssst.... Jangan bicara seperti itu."
Tangan Kinan sontak memegang lembut tanganku. Tangan satunya mengusap perlahan air mataku yang semakin tak tertahankan.
"Aku tahu kamu sedih, tak mengapa. Menangislah."
"Semua orang di dunia ini boleh menangis. Bahkan, bila perlu nanti kalau aku jadi pemimpin suatu negeri, aku akan membuat hari menangis sedunia." Celetuk Kinan.
Sontak, perkataannya membuatku terkekeh. Aku seperti anak kecil yang mendapat sebuah kado tak terduga, meski tak berwujud, tapi cukup membuatku tertawa seketika.
"Apaan! Masa ada hari menangis sedunia? Orang tuh penginnya bahagia. Bukan bersedih."
"Hei, jangan salah. Coba dipikirkan lagi, kalau tidak ada tangisan, bagaimana dunia beserta kehidupan ini akan berputar?"
"Bagaimana rasa di setiap perasaan manusia akan terpanggil kalau dunia ini tak ada orang yang menangis?"
"Bagaimana jadinya mata manusia yang tak pernah menangis? Bahkan, menangis juga menyehatkan kok. Yaa asal jangan nangis sambil lari di tengah jalan."
"Jangan juga nangis di tepian jalan sendirian."
Sontak, aku mencubitnya. Merasa tersindir dengan perkataannya.
"Ih, apaan nyubit."
"Lagian kamu. Malah nyindir."
"Tapi udah bisa senyum sekarang kan? Gimana! Gimana? Hum?"
"Udahan nangisnya? Apa mau diterusin sampai nanti pagi? Aku siap mengusap air matamu."
"Udah deh. Udah, kok."
"Beneran udah? Kenapa nggak lagi aja?"
"Apaan sih Kinan...," ucapku sebal.
"Beneran. Gapapa. Yaa meskipun nanti aku sesekali mengantuk di sini. Tenang saja, kalau aku ngantuk, aku beli cemilan di dalam. Ah, betapa beruntungnya dunia memiliki mini market dua puluh empat jam ini."
"Setiap orang jadi bebas keluar masuk kapan saja ia mau. Bukankah itu keajaiban dunia yang tak tercatat tapi begitu bermanfaat?"
Seperti kebiasaannya sejak dulu. Kinan, laki-laki berwajah tegas dan berhidung mancung itu selalu saja meracau. Lebih banyak bicara dan cerewet di depanku.
Aku tahu kalau ia sudah lebih cerewet dari biasanya, itu salah satu caranya untuk menghiburku. Ah, Kinan. Kinan yang tampan, manis, humoris, dan aku menyukainya.
Ah, tidak. Aku tak boleh menyukainya. Ia sahabatku. Ya, ia sahabatku!
"Hei, kenapa diem? Ngantuk? Mau pulang?"
"Atau mau pulang ke rumahku? Nanti biar ijin ke Ibuku. Gimana? Lama kan gak ketemu Ibuku?"
"Emang nggakpapa?"
"Ya nggakpapa dong. Emang kamu masih anak kecil yang kawatir bakal ngompol?"
Lagi-lagi, celetukan Kinan yang super garing itu membuatku terkekeh. Tak terasa, aku sudah tak menangis lagi. Air mata seperti menutup alirannya tersendiri.
Tak ada sedih yang selamanya. Sebagaimana tak ada bahagia yang berakhir lama. Sedih dan bahagia menjadi dua hal yang sangat bersisian. Keduanya memang terkadang bisa jadi suatu pilihan manusia.
Namun, kataku beberapanya justru hadir begitu saja. Tak tertebak. Bahkan, kita tak tahu apakah kita harus bersedih atau bahagia. Seperti sebuah perasaan yang begitu sulit untuk dijelaskan.
"Gimana? Masih mau di sini? Hujannya sudah mulai reda, nih."
"Beneran gapapa?"
"Aku ijin Ibu dulu deh biar kamu tambah yakin. Daripada kamu bingung kan mau pulang ke rumah? Masih sedih kan? Jangan sampai kabur lagi ke tepian jalan nangis kek tadi. Aku gamau liat kamu kegitu lagi."
Perkataan terakhirnya membuatku tertegun. "Gamau melihatku kegitu lagi?" Sebenarnya, Kinan seberapa peduli denganku? Kenapa ia datang seperti malaikat penolongku? Aku bahkan tak pernah memintanya pun, ia datang begitu saja tepat di depanku.
Aku melihat rahangnya yang tegas. Matanya yang tajam, tapi begitu teduhnya. Ia menundukkan wajahnya. Fokus menatap layar ponselnya. Menelepon Ibunya.
Kinan. Ya, dialah malaikat penolongku. Kinan, satu-satunya orang yang kini kupercaya. Aku masih melihat dan mendengar setiap tutur kata yang ia ucapkan pada Ibunya di panggilan teleponnya.
Seperti biasa, kala tersenyum akan terlihat begitu manisnya ia dengan sebuah senyuman yang apa adanya. Sampai kapan ia akan jadi malaikat penolongku?
Apakah malaikat datang ke bumi ini hanya untuk menolong manusia? Kalaupun memang begitu, berarti tak ada malaikat jahat bukan? Tidak ada malaikat yang berpikir tentang kepergian bukan? Tak ada malaikat yang rela meninggalkan manusia menderita sendirian bukan? Aku memenuhi kepalaku dengan pertanyaan-pertanyaan absurd. Lebih pada pertanyaan-pertanyaan keraguan bercampur kecemasan.
Bagaimana kalau seluruh pertanyaan kecemasan di kepalaku ini meledeka dan berubah seiring waktu? Ternyata, malaikat bisa membiarkan manusia bersedih sendirian? Ternyata, malaikat juga bisa meninggalkan manusia dalam penderitaan? Bagaimana pula kalau malaikat juga datang bukan untuk memberi pertolongan? Melainkan sebaliknya, memberi berbagai rintangan yang penuh kesedihan—yang seolah justru mempersulit dan memperkeruh permasalahan?
Apa yang sebenarnya sedang kupertanyakan ini? Kepalaku begitu penuh dengan kecemasan.