"Alana?" panggil Bu Sri tiba-tiba. Sontak, Alana menutup buku berjudul "Takdir Tania" itu.
"Iya, Bu Sri?"
"Makannya sudah?"
"Uhm, belum. Lagi tak habisin."
Alana nampaknya tak ingin Bu Sri tau tentang buku yang sedang dibacanya. Entah, apa yang dipikirkan Alana saat itu. Entah bagaimana ia malah menyembunyikan dibalik tubuhnya.
"Oh belum, ya. Yasudah. Kamu masih tetap mau di sini?"
"Iya, Bu."
"Oh ya, Bu Sri!" panggil Alana ketika Bu Sri hendak meninggalkannya.
"Iya? Ada apa?"
"Tolong, jangan kasih tau tentang aku yang nemuin ruangan ini ke Mamah, ya? Aku gapengin Mamah tau dulu. Boleh kan?"
"Tentu, Nak. Ibu juga akan bilang menyarankan seperti itu tadinya."
"Syukurlah. Terima kasih Bu Sri."
Bu Sri tersenyum. Seraya tak lama kemudian meninggalkan Alana.
Ruangan perpustakaan tersembunyu itu masih sama. Beberapa lampu dinyalakannya. Sebuah ruangan yang kini menjadi begitu berharga bagi Alana.
Kesedihan memang sanggup memerangkap manusia dalam ruang tergelap. Pekat. Senyap. Kesedihan menjadi satu hal dalam hidup yang begitu memilukan. Seakan seluruh hidup akan musnah begitu saja, begitu setiap orang merasakannya.
Lalu, bahagia. Apa itu bahagia? Apakah dengan memiliki uang banyak? Harta berlimpah? Mobil mewah? Atau segala hal seperti itu lainnya?
Setiap orang barangkali memiliki definisi makna tentang bahagianya masing-masing. Baik itu yang terlihat maupun tak terlihat.
Bagaimana mungkin seseorang bisa merasakan bahagia saja? Pun, bagaimana mungkin manusia dapat merasakan kesedihan saja? Sedangkan, dunia ini penuh dengan menu kesepertiituan; bahagia dan sedih yang bersisian.
Alana menghabiskan makanannya. Ia menengok ke belakang tubuhnya. Memastikan bukunya masih berada di belakang tubuhnya itu.
"Ah, Bu Sri gaboleh tau dulu tentang buku ini. Pokoknya, aku gamau cerita apapun dulu, " gumam Alana.
"Ouh banyak sekali buku yang perlu k****a sepertinya. Aku seperti terkurung dalam perangkap."
"Tapi entah kenapa aku merasakan kebahagiaan tersendiri. Entah, kenapa. Siapapun yang sudah menciptakan ruangan indah ini, pasti dia juga orang yang hebat."
"Andai saja aku bisa bertemu dengannya. Aku ingin sekali meminta padanya, buku mana yang cocok untukku?"
"Ah, daripada aku pusing berhayal, mending aku baca lagi buku tadi."
"Sepertinya seru. Tania disini punya kesedihan juga bukan? Bukankah sama sepertiku?"
***
Malam itu, adalah malam yang cukup membuatku merasa berbeda. Kinan mengantarku pulang. Entah kenapa aku merasakan kesedihan tak lagi terlalu menghantuiku. Setidaknya, malam itu aku merasa kembali memiliki teman.
Meskipun aku juga tahu. Kebahagiaan itu tak lama. Tepatnya, aku merasakan dan membawa sendiri keraguan setelah melihat profil perempuan di panggilan telepon itu. Entah kenapa aku merasa perempuan itu berbeda.
Aku melihat garis senyum tersendiri dari diri Kinan. Kinan, senyum Kinan nampak begitu ceria begitu mengangkat panggilan telepon itu. Namun, aku tak begitu menampakkan rasa penasaran dan keraguanku di hadapannya. Lagipula, siapa aku? Aku hanya teman kecilnya yang kebetulan dipertemukan kembali bukan?
Malam itu, aku pulang melewati jalan yang berbeda. Entah kenapa gerimis dan tak lama kemudian hujan menerpa. Jalan pintas yang biasa kulalui, tak bisa dilewati.
Jalan pintas yang kumaksudkan karena di jalan itu ada sebuah jembatan. Namun, di bawahnya ada sungai yang meluap. Otomatis, tidak bisa dilewati siapapun. Bahkan, gang tempat masuk kendaraan itupun ditutup. Kami disuruh putar balik lewat jalan yang berbeda.
"Bahaya, Mas! Putar balik! Jembatannya gabisa dilewatin!"
"Banjir ta, Pak?"
"Iya. Meluap penuuh. Lewat lainnya saja!" Seru Bapak-bapak yang menjaga sebelum jembatan.
Akhirnya, Kinan memutarkan haluan. Kami pulang lewat sebuah jalan berbeda. Bisa tiga kali lipat dari biasanya. Padahal, waktu sudah cukup malam.
Dingin malam kian menjadi-jadi. Aku pun menggigil kedinginan. Entah kenapa, sweater yang kupakai, seolah tak berfungsi. Melihatku terdiam, Kinan mengajakku bicara.
"Tan? Tania? Kamu baik-baik saja."
"Iya." Aku hanya mencoba menjawabnya singkat.
"Kita mau berteduh dulu atau lanjut? Hujannya makin deres."
"Memangnya berteduh dimana?"
"Kita cari toko atau minimarket. Gimana?"
"Boleh."
Angin kian begitu terasa dinginnya. Ditambah hujan yang semakin deras membuatku begitu amat menggigil.
Kepalaku mulai terasa pusing dan sakit. Pandangan seolah kabur begitu saja.
"Nan... Kinan...," gumamku setengah sadar.
"Tania? Hei? Kamu baik-baik saja?"
Melihatku yang tak menjawab, Kinan sontak meraih tanganku agar masuk ke saku jaket Kinan.
"Biar hangat. Aku pegangin."
"Tahan sebentar, yah. Sepertinya ada minimarket di depan."
Aku tak bisa menjawabnya lagi. Suara yang kudengar darinya pun mulai samar-samar. Entah, apa yang kurasakan sekarang.
"Ah, itu dia. Ada minimarket! Sebentar, yah? Sabar."
"Nah. Tania?"
Brrukk!!
Aku hampir jatuh ke tanah. Untung saja, Kinan masih responsif dan memapah tubuhku.
"Tan? Tania? Maaf, aku membuatmu kegini."
Di depan minimarket, ada beberapa kursi kosong. Kinan mendudukkanku di sana. Ia sontak pergi sebentar. Sepertinya masuk mini market.
"Sebentar. Aku beli minum."
Tak berapa lama kemudian, Kinan membawakanku minuman.
"Minum dulu, Tan. Maaf, aku lupa kamu alergi hujan. Pusing? Masih sakit?"
"Aku gapapa, Nan. Maaf, kamu jadi repot begini."
"Udah, jangan bilang repot. Aku tulus bantu kamu. Kamu gapapa sampai malam begini? Mau kabarin dulu Bapak atau Ibu? Biar aku yang ngomong."
Aku terdiam. Entah kenapa bayangan Bapak kembali hadir di depanku. Sontak, air mata kembali tak bisa kubendung.
"Nan, kamu kenapa? Hei...," ucap Kinan seraya berusaha menghapus air mataku.
"Hei, kamu kenapa?" Ucapan lembut Kinan sedikit menenangkanku. Aku masih belum bisa menceritakannya. Tentang bapak. Tentang ibu. Tentang tragedi yang membuatnya ingin pergi dari dunia ini.
"Yasudah, kalau kamu belum mau cerita. Aku hanya tak ingin orangtuamu kawatir."
"Tapi Bapak sehat kan? Ibu juga sehat kan?"
Begitu pertanyaan itu muncul, aku lantas menjawab.
"Bapak sudah nggak ada, Nan. Bapak sudah pergi jauh," ucapku perlahan.
"Maksudnya, Tan? Bapakmu merantau?"
Aku menggelengkan kepala, "Bukan. Bapak sudah meninggal, Nan. Aku sendirian."
"Hah? Kenapa aku baru tau, Tan? Kenapa kamu gak pernah cerita?"
"Aku kehilangan ponselku. Aku juga kehilangan kontakmu."
"Kamu bisa nanya ke sosmedku. Kenapa diem aja? Kenapa selama ini gak ngabarin apapun hal sebesar ini, Tania?" cecar Kinan entah kawatir dan gugup atau juga memang begitu peduli denganku. Hanya dia satu-satunya sahabat yang kuceritakan.
"Bapak bukan hanya meninggal, Nan."
"Maksudnya?"
"Bapak dibunuh."
"Hah? Dibunuh? Taniaaa hei, kenapa aku baru tau? Aku merasa begitu buruk sekarang."
"Bukan karena kamu tak memberitahuku. Tapi aku juga yang selama ini menghilang begitu saja tak mengabarimu. Ini pasti sangat berat banget."
"Bagaimana ceritanya Bapak bisa demikian, Tania? Ah."
"Ceritanya panjang, Nan."
"Ok. Ibu? Ibumu baik-baik saja, kan?"
"Dia... Diaa aku tak tahu dia dimana, Nan."
"Apa maksudnya, Tania? Hei!"