Part 28 - Takdir Tania yang Tak Terduga

1000 Kata
Kata Kinan, "Kau ingin jadi apa? Kenapa tak langsung ingin pulang? Kenapa mau diajak kesini?" Lalu jawabku sambil menyulap air mata menjadi mata air, meskipun gagal. "Aku ingin jadi putri tidur, tanpa memakan racun dari apel & tanpa pangeran. Bisa?" Kinan hanya tersenyum. Sesekali terkekeh menahan tawanya. Aku yang kesal, beringsut menarik selimut. "Yasudah, kalau gabisa! Aku gamau jadi apa-apa!" "Begitu cara mengungkapkan keinginan? Kenapa ingin jadi putri tidur tanpa memakan apel dan tanpa pangeran?" "Aku sukanya stroberi, bukan apel. Aku lebih suka cemilan daripada pangeran." Gelak tawapun merekah diantara kita. Malam menjadi saksi atas berbagai tawa dan sapaan. Tanpa disadari, cemilan dan minuman yang kita pesan pun sudah tak bersisa lagi. Malam kian larut, Kinan pun mengajakku beranjak. Ia terlebih dahulu ke administrasi. Ponselnya tertinggal. Ada panggilan masuk. Aku yang saat itu mendengar ponsel berbunyi, refleks melihatnya. Disana tertera foto perempuan. Garis senyumnya. Matanya. Itu sangat indah. Meskipun aku tak tahu dia siapa, entah kenapa ada suati perasaan tiba-tiba yang entah kenapa begitu terasa rumitnya? Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Kinan datang kembali mengajakku pergi. Bersiap untuk pulang mengantarku. "Nan, ini ponselnya ketinggalan," ucapku padanya. "Oh iya, lupa. Makasih ya, Tan." "Sama-sama. Tadi ada panggilan masuk, aku refleks lihat begitu ada dering telepon. Maaf, ya kalau kurang sopan." "Ouh nggakpapa. Santai aja lagi. Gimana tadi kedai kopinya? Enak ndak?" "Uhm, kalau enak relatif. Kalau nyaman menurutku sih lumayan nyaman, meskipun ada di tepian kota, tapi tetap klasik." "Ya, itu yang kurasakan sih, Nan. Kalau kamu?" "Hum? Menurutku ya biasa. Semua akan jadi istimewa dan berhaga sejauh mana menikmatinya." "Ih, jawabannya sekarang skk nyastra banget!" ledekku padanya. "Biarin!" *** Kehilangan. Bukankah setiap orang sudah sering merasakannya? Entah kenapa aku masih saja belum menceritakannya. Entahlah, mungkin hari ini aku akan menceritakannya. Pernah begitu merasa bahagia karena seseorang? Aku pun pernah. Pernah begitu merasa sesak karena kepergian seseorang? Aku pun sama. Pernah merasakannya. "Heh gimana?" sapa Kinan yang masih di depanku. Entah kenapa justru malam itu, aku merasa begitu berisik dengan isi kepalaku sendiri. Sore hari, berbagai ucapan terima kasih datang padaku. Sebagiannya berwarna cerah; entah kuning, jingga, atau merah. Layaknya orang yang mendapat terima kasih, aku pun refleks terima kasih, meskipun aku merasa itu bukan apa-apa. Lalu, datang tangan pujian, katanya bunga yang tumbuh di mataku bagus, menghidupkan kata-kata. Sebagaimana orang pada umumnya ketika mendapat pujian, aku tersenyum entah kenapa. Lalu, gelap menghantarkan abu-abu kehitaman. Angin membawakanku setumpuk keranjang sedih dan perasaan buruk lainnya. Dalam batas waktu yang singkat, aku bisa merasa menjadi orang paling buruk, yang bahkan tak perlu memiliki teman satupun. Sedemikian cepatnya perasaan bekerja. Hari-hari yang semula hanya berwarna abu, tiba-tiba berubah penuh warna semenjak ada kamu. Apa yang kulakukan, terasa lebih hidup, karena katamu semangat hidup tak boleh redup. Ya, semangat. Aku menemukan satu kata itu begitu dahsyat bisa membangmitkan hari-hariku. Pekerjaanku terasa menyenangkan, meskipun aslinya merepotkan. Tak ada kosa kata susah, karena tiap hari kita saling support system dalam kebaikan. Sesekali keluar bersama. Melihat semesta lebih luas. Kau berjalan di depanku dan aku membawa helmmu di sampingmu. Langkah kita beriringan. Terik panasnya mentari, seolah tak berarti. Bayang-bayang yang menemani, menjadi seolah tersenyum manis pada kami. Kau bertanya kenapa? Entahlah, kadang-kadang aku sendiri tak bia menjelaskannya kenapa. Bahkan, saat orang lain bertanya kenapa kamu bisa mencintainya? Sekarang aku tergugu. Kenapa, ya? Sambil tersipu malu. Rasa-rasanya semakin aku ingin menjelaskan kenapa, kosa kata di kepalaku langsung membeka. Yaaa karena aku sayang kamu. Itu saja gapapa kan? Sejenak, waktu terasa berhenti hanya untukku dan dirimu. Kebahagiaan menjadi satu hal yang tak perlu dipertanyakan lagi. Asal bersamamu, sudah, itulah bahagia itu. Kamu tersenyum lebih sering membuatku tertawa, sedangkan aku? Tersenyum mendendangman doa baik untuk keselamatanmu. Hari itu, aku merasa menjadi orang paling bahagia. Sayangnya, waktu menjedakan itu. Aku paling belum bisa berdamai dengan kepergian. Meskipun aku tahu, kamu bakal pulang, bukan pergi. "Nanti kembali lagi 'kan? Kamu hanya merantau jauh 'kan?" tanyaku dengan penuh kecemasan. Entahlah, kenapa aku jadi seperti anak-anak yang begitu tak ingin kehilangan. Padahal, dia masih di sisimu. Kamu pun menertawai cemasku, "Kamu lucu. Sudah sore, saatnya pulang. Makasih ya, sudah kawatir." Aku menyerahkan kembali helm birumu. Sekarang, kau bersiap pulang. Meninggalkan bayang-bayang. Menanggalkan segala kenang. Ada perasaan sesak yang selalu kupertanyakan setiap momen seperti ini muncul. Seolah aku terbawa dalam kesadaran lain, "Aku tahu kamu hanya pulang, bukan pergi. Tapi kenapa terasa begitu menyesakkannya?" "Seolah aku telah memiliki perasaan itu dan tak rela kehilangan perasaan bersama dan membersamai segala suka duka?" Waktu kembali jadi saksi perjalanan manusia. Hari ini, bukan hari yang penuh warna. Bukan pula menjadi abu, tapi berubah dua warna. Hitam dan putih. Kini aku dihadapkan kenyataan, aku dan kamu harus ada dalam ranah makna perpisahan. Meskipun katamu, tidak ada makna perpisahan, bila kita mencintai dengan jiwa, bukan sekadar mata. Aku yang merasa begitu kehilangan, tak pernah sekali waktu langsung memaknai kata-katamu. Bagaimanapun aku harus pergi? Kamu pun harus pergi? Apa artinya hari-hari kemarin kita saling seiring? Kenapa waktu jadi seolah-olah mengambil tebak-tebakkan yang menyebalkan? Hah! Kenapa tak ada cara yang bisa kita temukan, untuk tak menginjak kata perpisahan? Ah, kata kehilangan? Ya, jika kamu tak menyetujui makna perpisahan. Entah bagaimana, aku telah kehilanganmu. Ya, sekalipun memang benar adanya. Yang hilang hanya kebersamaan fisik, tidak saling komunikasi, tidak saling bertukar ide, tidak saling membercandai hal-hal remeh dalam kehidupan, dan yaaa demikianlah. Namun, aku akui. Kamu masih di sini. Bahkan, lebih kuat berada di sini. Kamu telah menjelma dalam bentuk lainnya. Saat hujan, aku tak lagi membayangkan kamu yang berteduh di sampingku, tapi cukup mendoakan segala keselamatan untukmu. Saat terik dan lelah menerpa, aku malu untuk berkeluh panjang. Sebab katamu, hanya dengan semangat kebaikan lainnya, manusia bisa begitu mengagumkannya. Hai, kamu apa kabar? Baik-baik di sana, ya. Seperti katamu, hakikatnya perihal sakit bukan aku sendiri yang merasakannya, tapi kamu juga. Namun, kesatuan diri kami telah memutuskan demikian. Menjauh, dengan atau tanpa alasan. Apa itu perasaan memiliki? Apa itu pedihnya kehilangan? Aku jawab dua tanya itu dengan satu kata, "Karena kita percaya." Ya. Kepercayaan, satu hal yang sulit ceritakan dan akan lebih kelu kalau dipertanyakan ulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN