"Ya lucu. Habis makan, malah ketawa sekarang. Jadi, emang benar kan? Sedih karena laper?" ledek Kinan.
"Apaan sih, Nan."
"Eh, udah mulai malem, nih. Gak pulang? Anterin aja, ya? Gabaik pulang malem sendirian."
"Emang gapapa? Gak ngrepotin?"
"Kayak sama siapa aja deh."
"Ok. Yuk."
Kinan membayar ke tukang nasi goreng, seraya berbalas senyum. "Jaga baik istrinya, Mas."
"Haha. Siap, Pak!"
"Apaan sih, Nan."
"Haha biarin aja. Yuk, mau langsung pulang 'kan?"
"Uhm, emang mau kemana?"
"Sibuk ndak? Atau pengin ke suatu tempat?"
"Apa?"
"Kafe, mungkin? Sekedar lebih menikmati aroma malam. Gimana?"
"Boleh."
"Kamu gapapa?"
"Gapapa."
Malam menyajikan aroma gelapnya. Tak ada yang tahu, gelap pertanda apa. Banyak yang mengira, gelap sebagai tanda kesedihan. Ada pula, sebagai duka nestapa, atau bisa jadi malah tanda kekuatan lainnya. Semacam rahasia-rahasia?
Aku lebih suka yang terakhir; rahasia-rahasia. Ya, aku menganggap malam seperti rahasia-rahasia yang begitu terbungkus sempurna.
Kala kita melihat hanya sekilas, malam hanyalah berisi gelap yang tak menarik mata. Namun, saat kita menikmatinya. Entah dengan teman, sahabat, kekasih, atau dengan siapapun itu malam bisa berubah wujud menjadi apa saja.
Seperti kali ini. Aku bersama Kinan dalam satu motor. Ya, kami berboncengan. Ia akan menunjukkanku ke salah satu kedai kopi. Entah, dimana itu. Aku hanya mengikutinya.
Mungkin, kau bertanya kenapa aku terlihat menurut begitu saja? Itu bukan tanpa alasan. Kamu tahu bukan? Aku perempuan yang cenderung introvert, yang tak mudah percaya dan memercayai orang lain.
Apalagi, untuk urusan berpergian. Kalau diingat, akupun tak memiliki banyak teman. Terlebih laki-laki. Sepertinya, memang hanya Kinan yang paling dekat denganku. Mungkin, kau bertanya bagaimana status di antara kita?
Aku pun tak tahu. Setauku, aku hanya memercayainya. Itu saja. Entah status kita sebagai apa dan apa, aku tak terlalu memedulikannya. Lagi pula, bukankah banyak orang yang menjadikan status sebagai tujuan, lebih sering berakhir kecewa dan duka saja?
Aku tak mau hal itu terjadi. Aku hanya sebatas memercayainya. Memecayai sikapnya menghargai perempuan, sikapnya mendengarkanku, dan beragam hal yang membuatku sampai saat ini begitu percaya.
Pacar? Aku pikir, Kinan pun bukan tipikal orang yang suka publikasi tentang kekasihnya. Entah dia sudah memiliki pacar atau tidak, aku tak mengetahuinya dengan pasti.
Drrrttt
Ponsel Kinan bergetar, ia ijin padaku untuk berhenti di tepian jalan.
"Sebentar, yah. Barangkali penting."
Ia menengok ponselnya, tak lama kemudian ditutupnya kembali.
"Kenapa? Kok cepet banget?"
"Ah, nggakpapa. Biasa. Orang kurang kerjaan. Tak kirain siapa."
"Emang siapa?"
"Biasa."
"Biasa itu siapa?"
"Ih, kok kamu jadi cerewet?"
"Kan cuma nanya."
"Haha ok-ok. Tadi temen kampus, biasa nanyain lagi dimana."
"Terus?"
"Ya nggak terus-terus. Ngapain juga aku kabarin? Udah, gausah bahas lagi. Kita fokus aja ke kafe. Healing kan?"
"Hum. Yaudah."
Sebenarnya, aku masih bertanya-tanya. Siapa yang sebenarnya dimaksud teman oleh Kinan. Aku melihat, dia tersenyum ketika melihat ponselnya.
Ah, apa-apaan aku ini? Kenapa pula curiga berlebihan? Toh, kalaupun memang itu pacarnya, apa peduliku? Aku, hanya teman kecilnya bukan? Kenapa aku harus curiga?
Tak ada yang benar-benar pasti di dunia ini, memang. Selagi adalah ketidakpastian itu sendiri. Entah bagaimana manusia banyak yang mengharap bahagia. Padahal, bahagia bukanlah sekedar berharap dan memberi harapan.
Tak sedikit pula, yang lebih suka menebak-nebak seperti ketika orang menebak cuaca. Bukankah ketika melihat ramalan cuaca itu sudah cukup? Namun, masih ada orang-orang tertentu yang akan lebih puas dengan menebak-nebaknya.
Entah itu dari arah mata angin, dari kumpulan awan, atau bahkan menebak-nebak dari perasaannya sendiri.
"Kalau benar itu pacarnya, lalu kenapa, Tania?" batinku.
Aku berusaha menyingkirkan tanya dan berbagai pertanyaan yang tak perlu kuterlalu pedulikan. Ada dan tiadanya pertanyaan itu, sekarang aku sedang bersama dirinya.
Malam kian gelap, sekitar pukul sembilan, kami sampai di salah satu kedai kopi. Justru semakin malam, malah sepertinya kedai kopi di tepian kota itu semakin ramai.
Lagi-lagi, itu hanya tebakanku saja begitu melihat sekilas di depan kedai kopi yang bertuliskan, "KOKI KOPI"
"Koki Kopi? Nama yang unik," celetukku.
"Namanya lucu, ya?"
"Iya."
"Yuk, masuk." Kinan mengajakku masuk ke kedai kopi itu.
Ia langsung mengajakku ke tempat duduk tak jauh dari rak buku. Ya, selain memang menyajikan kedai kopi, sepertinya konsep dari kedai kopi ini juga mengusung literasi. Ada beragam buku yang terpajang di berbagai sudutnya.
"Gapapa kan di dalam? Barangkali di luar dingin," ucap Kinan.
"Iya, gapapa. Aku kesana, yah?"
"Yuk, bareng."
"Eh, kirain kamu mau ngobrol dulu sama Baristanya."
"Nggak, ko. Cuma bertegur sapa aja."
Aku dan Kinan segera menuju tempat duduk yang kami pesan. Kami pun memilih menu cemilan, berhubung masih kenyang.
"Mau pesen apa?"
"Aku coffe latte aja."
"Cemilannya?"
"Uhm, kamu?"
"Kamu aja yang pesen. Pengin apa? Ouh ini aja? Yang ada stroberinya? Kayaknya enak."
"Uhm, apa sih itu?"
"Entahlah. Coba aja yuk, aku juga penasaran."
"Boleh."
Tak berapa lama kemudian, Kinan menyerahkan pesanan itu. Kami duduk berhadapan. Sesekali, Kinan menatapku. Seolah, menunggu aku bicara atau masih teringat aku yang belum menceritakannya?
Entah, aku pun tergugu. Entah gimana aku seperti begitu kelu. Lidahku seolah kaku ingin bicara apa. Hanya senyumnya yang sekarang kusimpan di mata.
"Kamu kenapa? Eh? Kok canggung gitu, kek sama siapa aja."
"Hehe nggakpapa."
"Ngomong dong. Daritadi aku kan yang ngomong terus."
"Gimana kuliahnya? Lancar?"
"Uhm, kuliah, ya? Bisa lancar bisa ndak."
"Loh, kok gitu?"
"Lancar, kalau mood, kalau dosennya malesin ya mending kabur."
"Gitu, ta rasanya jadi anak kuliahan?"
"Tan... Kamu masih sedih?"
Pertanyaannya kali ini, lebih membuatku rasanya ingin terdiam lama. Apa yang harus kuceritakan padanya? Apa yang harus kuluapkan atas segala duka nestapa?
Bagaimana awal dan akhir yang harus kuceritakan tentang ayah? Tentang ibu? Tentang kepergian? Dan tentang semuanya?
Kepalaku rasanya kembali terasa penuh sekali. Aku tak pernah menyangka, malam ini adalah malam pertemuan dengan Kinan. Satu-satunya orang yang masih mengulurkan tangan.
Aku tak pernah menyangka malam ini ada orang yang menanyakan bagaimana kabar perasaanku berkali-kali. Kupikir, aku telah menghilang dalam dunia gelap yang sangat gelap sekali, dan tak tahu lagi kemana mencari cahaya.
Aku rasa, akulah orang yang paling berhak merasa berduka atas kehidupan, saat itu. Aku sungguh tak pernah menyangka akan kembali bertemu dengannya. Saat ini, bagaimana mungkin, aku harus menceritakan padanya tentang bagaimana aku menyembuhkan diriki sendiri?
Ah, apa pula makna kesembuhan? Bukankah selama ini aku juga masih mencari-carinya? Bagaimana semua hal ini aku bisa ceritakan padanya?