Part 26 - Tawa Tania

1025 Kata
"Maaf, aku bukan bermaksud mengecewakanmu, Nan, aku hanya ragu," ucapku sendu. "Ragu? Apa aku orang asing bagimu? Hum?" Aku gelengkan kepala refleks begitu saja. Tak lama kemudian, tukang nasi goreng mendekati kami. Menyerahkan nasi goreng yang telah dipesan Kinan. Orang-orang boleh bercerita apa saja. Dimana saja. Dengam siapa saja. Namun, tak semua orang akan mampu mengungkapkan dengan mudahnya. Aku hanya berpikir, bagaimana kesedihan layak untuk dibagi? Dengan alasan apa kesedihan, penderitaan juga layak untuk dibagikan? Aku tak habis pikir bagaimana bisa? Aku harus bagaimana? Malam kian syahdur menggulirkan angin sendu. Senada dengan gelap yang mulai pekat. "Makanlah. Kau boleh pikirkan lagi mau cerita atau tidak, nanti. Yang penting, makanlah dulu." Kinan memersilahkanku makan. "Iya. Terima kasih." Tempat kami makan nasi goreng, dekat dengan jalan raya. Aku bisa melihat lalulalang kendaraan kesana kemari. Dari barat ke utara. Dari sebaliknya. Semua terasa begitu sibuknya. Begitupun dengan isi kepalaku. Raa-rasanya aku tak dapat menahan diri untuk kesedihan ini. Aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan yang terbaik agar orang di depanku ini mengerti; memahami. Bahwa dibalik menghilangku, justru aku hanya ingin menyembunyikan segala keluh dan penderitaanku. Sesekali, aku menatap wajahnya yang lahap menyantap nasi goreng. Meskipun, begitu ia melihatku balik, aku lalu menundukkan wajahku. Rasa-rasanya pula, baru berapa tahun lalu aku bermain kelereng dengannya. Waktu begitu cepat berlalu. Sekarang, laki-laki di depanku bukanlah bocah lugu. Dia salah satu mahasiswa di salah satu universitas ternama. Berbeda dari umumnya yang mengambil jurusan bergengsi dengan segala rekomendasi masa depan jenjang karir, ia malah mengambil seni. Ya, hanya itulah yang kutahu kabar terakhir darinya setahunan yang lalu. Atau... mungkin dua tahunan yang lalu. Aku agak lupa, kapan waktunya. Namun, aku masih ingat; ia juga datang di suasana yang sama. Hujan malam. "Eh? Enak nggak?" sapanya setelah menghabiskan suapan terakhir. "Enak ko." "Habisin, ya. Minum jeruk anget?" "Iya, boleh." "Sebentar, ya." "Iya." Kinan dengan jaket denimnya melangkahkan kaki. Bersegera memesan dua gelas jeruk hangat. "Siap, Mase. Pacarnya, ya? Cantik!" ucap tukang nasi goreng. Aku tersipu malu sayup-sayup mendengar tukang nasi goreng bercakap dengan Kinan. Meskipun, Kinan tetaplah Kinan. Ia malah balas membercandainya. "Emang keliatan seperti itu ta, Pak?" "Iya. Memangnya salah, ya? Apa sudah jadi istrinya? Oh iya tadi kesininya juga barengan gitu, ya. Jangam-jangan memang pasangan muda. Cieee." "Haha. Sudah, cepetan bikinin minumnya, Pak. Haus." Canda Kinan mengalihkan arah bercandaannya. Tak lama kemudian, Kinan kembali duduk di sampingku. "Udah?" "Udah. Bentar, ya." "Gimana?" "Gimana apanya?" "Tadi ngobrol apa sama tukang nasi gorengnya? Kayaknya asik bener ketawa," ucapku begitu saja. "Akhirnya, kamu bicara panjang. Daritadi diem terus. Penasaran ta aku ngobrol apa?" "Hee he. Ndak juga, si." "Yaudah kalau nggak penasaran mah, aku gajadi cerita." "Yaah ko gitu?" "Yakan kamu gak penasaran. Buat apa cerita kalau yang dengerin gak penasaran?" "Iya deh aku penasaran." "Hhaha. Banget?" "Isssh! Kamu tuh ya, gak beda-beda dari dulu nyebelin!" ucapku kesal. "Haha gitu dong sebel. Daripada diem murung, serem tau." "Oh ya? Kalau serem, kenapa tadi datengin aku?" "Kenapa? Kenapa yaaa? Uhmm kayaknya aku tadi gak sadar deketin kamu. Haha wee," ledek Kinan. "Ish!" "Ok-ok. Jadi ceritain ndak, nih kenapa tadi kewata-tawa sama tukang nasi gorengnya?" "Jadi. Kan udah nungguin." "Cie nungguin." "Jadi... Tadi kata Bapaknya, kamu itu dikira istriku. Makanya aku langsung ketawa. Awalnya dikira pacar, terus karena aku ketawa, malah nebak lagi katanya kamu istriku. Langsung ketawa lagi deh," tutur Kinan. "Haha ko bisa gitu!?" "Gatau tuh Bapaknya. Asal nebak aja." "Hahaha lucu." "Nah gitu dong ketawa. Emang kayaknya murung karena laper, ya?" ledek Kinan. "Ish!! Tapi ada benernya sih." "Silakan, Mas, Mbak. Jeruk hangatnya," sapa tukang nasi goreng yang menyerahkan dua minuman jeruk hangat. "Terima kasih, Pak." "Sama-sama. Semoga langgeng pernikahannya ya, Mas." Aku menahan tawa. Begitupun dengan Kinan. Hanya berusaha tersenyum, lalu bapak tukang nasi gorengnya itupun kembali. "Hahaha. Tuh kan lihat Bapaknya kan? Daritadi nebak-nebak mulu." "Iya, lucu." "Nah, kan. Ngakak kan? Bapaknya malah tambah yakin lagi, kita suami istri. Pake doain segala." "Lagian, kamu gak bilang juga kalau kita temenan, bukan suami istri." "Yaa siapa tau nanti doa bapak itu beneran kan?" Uhukkk Sontak, minuman yang sedang diminumku, membuatku terasa ingin tersedak begitu saja. Perkataan Kinan memang kadang-kadang menyebalkan dan mengejutkan. Bercandanya, seringnya adalah serius. Namun, lebih banyak humornya. Sorot matanya yang tajam, tapi teduh itu terasa begitu lembutnya malam ini. Entah kenapa, aku seperti melihatnya begitu berbeda malam ini. Atau, memang aku yang telah lama tidak melihatnya lagi? Kinan, sahabat kecilku, dan juga orang yang selalu ada di kesedihan hujan malam. Kinan, sebenarnya kamu dilahirkan untuk apa di hidupku? Kenapa kamu selalu hadir di saat aku sedih bahkan tak ingin apa-apa selain menjalani sendiri? Kenapa? Kata orang dan nasihat lama, telepati adalah satu cara orang-orang yang merindukan pertemuan dan komunikasi, tapi tak kunjung berjumpa. Beberapanya, melantunkan do'a-do'a dan harapan baik, agar orang yang diharapkan, bisa datang atau cukup hadir dan membersamai dalam mimpi malamnya. Namun, bukankah aku tak juga merindukannya? Bukankah aku juga tak selalu meminta orang lain datang di kesedihan dan kepedihan yang aku sendiri rasanya mulai kesal sendiri? Ya, kesal kenapa aku tak bisa menjarak dengan lebih bijak? Bagaimana mungkin, aku hidup dengan terus membawa kesedihan dalam kehidupanku? Bagaimana mungkin, aku berjalan dengan terus membawa duka nestapa di kakiku? Bagaimana mungkin, aku terus memandang dunia, dengan rasa pesimis dan putus asa dari mataku? Bukankan kehidupan terdiri dari bagaimana membawa langkah perjalanan dan memandang sesuatu apapun dengan lebih bijak lainnya? Setiap orang pun, bukankah pasti membawa kesedihan? Ah, mungkin bukan membawa, tapi juga dihadapkan dengan kesedihannya masing-masing? Bukankah itu suatu kepastian? Lantas, kenapa hanya aku yang sepertinya terlalu membawanya sebagai beban yang begitu terasa melelahkannya? "Hei! Kok diem lagi?" sapa Kinan melihatku kembali terdiam. "Eh, enggak papa. Kan lagi minum. Masa harus ngomong?" "Ouh kirain kenapa. Udah dong sedihnya, yah? Oh ya, gimana? Mau cerita atau nanti atau gajadi?" "Aku gajadi memaksamu cerita deh, tapi setidaknya cukup lega bisa melihatmu kembali tertawa. Tidak sesendu tadi tepian jalan raya." "Jangan seperti itu lagi, ya? Kumohon. Kau bisa mengabariku kapan saja. Bercerita apapun. Kapanpun. Sesukamu." "Atau... Kamu ingin pergi ke suatu tempat yang menenangkan? Hutan? Gunung? Pantai? Atau kemana? Bilang saja." Kinan berbicara runtut begitu saja seperti seorang pembawa berita yang begitu lancar menuturkan kosa kata. "Kamu lucu, Nan." "Lah? Kok lucu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN