Part 25 - Liku Luka

1016 Kata
"Ya. Bapaklah yang selalu ada untukku. Bapak yang mengajarkanku tentang betapa kehidupan akan lebih membahagiakan dengan kemandirian." Aku tak pernah tahu bagaimana semua ini akan kujalani. Dunia seolah-olah berhenti begitu saja. Aku tak pernah tahu bagaimana harus menjalani dunia ini. Katanya, cinta anak perempuan pertama adalah ayahnya. Ya, aku pun merasakan hal yang sama. Aku merasakan cinta kasih Bapak ada dan begitu berharganya untukku. Aku tak pernah benar-benar tahu mengapa dan bagaimana. Malam ini, aku pergi sendirian ke luar kota. Ah, lebih tepatnya ke sebuat kota yang entah ini daerah mana. Kau bertanya padaku kenapa aku pergi sendirian? Sudah pasti karena aku merasa lebih tenang, justru saat sendirian seperti ini. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Entahlah. Aku tak tahu sejak kapan. Aku mulai merasa dengan hal seperti inilah aku bisa terus melanjutkan hidup yang begini. Kehilangan, bukan satu hal mudah yang harus dijalani begitu saja. Aku tahu itu, dan mungkin semua orang juga memahaminya tentang hal itu. Aku? Entah bagaimana harus terus membawa kesedihan di kepala. Terus menimang kesedihan di mata dan wajahku entah kemana. Di salah satu sisi jalan yang agak sedikit basah, aku mengetuk-ngetukkan jari kaki. Ujung sepatuku yang mulai basah, kini tak begitu kupedulikan lagi. Entah, aku justru tertarik dengan sisa air hujan yang tetap berada di tempatnya. Sejenak, aku terlintas apakah kenangan bekerja seperti air bekas genangan itu? Sebagiannya menguap ke udara, sebagiannya entah dengan cara apa bisa kembali ke udara. Beberapa jalan yang ditempuhnya sama-sama terbuat dari ketiadaan diri. Aku sungguh tak pernah benar-benar tau. Rasa-rasanya, kepalaku mulai pusing memikirkan begitu banyak hal aneh di kepalaku. Sesekali wajahku menatap ke arah depan. Lalu lalang kendaraan melintas begitu saja. Mereka seperti bayang-bayang yang disiapkan Tuhan untuk mengangkut berbagai hal intuk disimpan percuma mengejar entah apa. Aku pun tak pernah benar-benar tahu apa tujuannya. Sampai suatu waku, seseorang menegurku, "Tania? Kenapa di tepian jalan sendirian?" "Hum?" "Iya. Kamu Tania 'kan? Ini aku, Kinan, teman lamamu." "Hah? Kinan?" "Ya. Apa kamu lupa? Kita pernah bertemana. Kita bahkan pernah satu kandidat OSIS." "Uhm." Aku hanya menjawab pasrah seadanya, padahal suara di depanku terdengar begitu bersemangat sekali menceritakannya padaku. Akhirnya, dia pun tak menyerah. Orang yang menyebut dirinya sebagai Kinan—teman SMP-ku yang entanh aku sendiri masih berusaha mengingatnya. "Bagaimana kau bisa berdiri mematung begitu saja di tepian jalan, Tan?" sapanya membuka obrolan begitu mengajakku duduk di sebuah kedai tak jauh dari sana. "Aku tak apa-apa." "Tan... Kau dari dulu selalu begitu. Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu 'hah? Apakah ini tentang Bapakmu? Maaf, Almarhum Bapakmu? Atau Ibumu?" Kinan mencecarku dengan sedikit nada paksaan yang lebih tinggi dari biasanya. Aku tahu, malam itu, nada bicaranya sudah berbeda. Aku pun tahu, dari gerak wajahnya, ia menunjukkan kawatir berlebih padaku. Aku semuanya tahu tentang Kinan, termasuk tahu sejak dulu ia memendam perasaan padaku. Ini bukan tentang kepedean atau bagaimana. Namun, hal ini kudapatkan dari berbagai tanfa dan kesaksian berbagai orang yang mengenalnya juga. "Kamu mau makan nasi goreng? Doyan?" tawarnya padaku. Aku yang kebetulan saat itu merasa agak cukup dingin, sontak meng-iyakan begitu saja. Aku tak pernah tahu bagaimana keinginan-keinginan bekerja pada kepala manusia. Terkadang, aku sendiri merasa telah kehilangan keinginginan itu sendiri. Meskipun, aku tak sepenuhnya benar-benar kehilangan. Sebagian kecil, aku masih bisa memilikinya. Atau, untuk tidak menyebut aku hanya sedikit merasakannya. Malam mulai menyajikan berbagai aromanya. Kinan diduk di sebelahku. Ia tidak memandangku, pandangannya ke tukang nasi goreng yang ada di depan kami. Lalu, memecah keheningan yang tiada tara, ia kembali bertanya. "Kamu sebenarnya, Tania? Ceritakan saja kalau kamu ingin. Aku siap mendengarkannya." "Aku gapapa. Aku sudah mengatakannya bukan?" "Maaf, tapi bagaimana mungkin seorang perempuan yang berdiri di tepian jalan tadi kamu hampir ketabrak Tania! Kamu tak lihat klakson yang meneriakimu, hah?" Nadanya kembali mulai terdengar berbeda. Alisnya yang tebal, terlihat ingin menyatu sebal. Pun, matanya yang tajam, berubah semakin tajam seolah begitu menunggu balasan darinya. Namun, aku memilih terus diam. Aku sungguh tak tahu apa yang harus aku katakan lagi padanya. Aku sungguh tak benar-benar mengerti tentang perasaan ini. Lalu, tentang kehilangan. Bagaimana mungkin aku akan menceritakan bagaimana perasaan kehilangan bekerja pada diriku? Pada tubuhku? Bukankah merasa kehilangan saja sudah terasa begitu menyesakkannya? Bagaimana mungkin, aku harus menceritakan dari awal sampai akhir kehilangan itu bekerja? Dimulai dari seperti bayi lahir ke dunia? Dengan pertanyaan serupa tangisan? Dimana aku? Dimana aku? Begitukah? Atau, aku harus seperti anak yang mudah menceritakan segala keluhnya, seperti anak kecil yang begitu ingin didengarkan? Ataupun, seperti seorang remaja yang juga tak jauh berbeda? Harus kumulai dari mana segala perasaan ini kuurai? Bagaimana? Aku harus bagaimana? Aku sedikit mengangkat wajah. Memandangi sepintas wajah Kinan, yang kini tanpa senyuman. Kinan, satu-satunya teman laki-laki yang kubolehkan masuk dalam daftar teman. Bukan, bukan aku tak mau berteman dengan laki-laki. Namun, sejak kecil aku merasa dunia ini sudah cukup dengan kehadiran laki-laki seperti Bapakku. Aku tak begitu merasa ingin menuruti segala apa tang tak mampu kukelolanya. Namun, dari kekawatiran itu, Kinan datang ke hidupku dengan hal lucu. Kenapa hal lucu? Bukankah seharusnya sebuah hal romantis seperti di film-film pada umumnya? Rasa-rasanya, ini justru bukan. Awalnya, Kinan tak sengaja datang ke rumahku. Sama seperti Kinan hari ini yang tak tegaan, Kinan dahulu kala pun sama. Ia bahkan rela pernah belajar dan tak sengaja menyelamatkan ayam Bapak yang saat itu diambil orang asing untuk adu judi ayam. Ya, Kinan yang menyelamatkan ayam Bapak. Sejak saat itu pula, sepertinya Kinan mulai masuk dalam lingkar pertemananku. Aku sebenarnya tak begitu mengetahui pasti, tapi aku yakin semua hal ini seperti tanda tersendiri. "Tania... kamu masih tak ingin menceritakan apapun?" ucap Kinan kembali memecahkan berbagai hening dan pening kepala dan jiwa. Bagaimana ia akan menjawab pertantaan Kinan yang mulai begitu terasa kurang enaknya? "Tan? Tania?! Hallow?!" tanya Kinan sambil tangannya mengayunkan di depan wajahnya. "Tania? Kamu gapapa kan? Hei, jawab aku. Jangan membuatku semakin kawatir seperti ini terus. Sampai kapan kamu diem seperti ini? Hum!" "Apa memang aku ini bukanlah sahabatmu? Kau menganggapku sebagai orang asing? Begitukah kau memandangku sekarang? Apa benar begitu? Hum? Katakan apapun! Kumohon." Kinan terdengar begitu tulus ingij mendengar apapun dari ucapanku. Entah, aku merasa separuh pertahananku runtuh. Apa memang aku harus menceritakan pada dia sekarang ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN