"Sudah, Alana. Kamu makan dulu. Jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja ini semacam hadiah dari Tuhan untukmu. Agar tak bosan di ruangan ini. Yaah?"
"Tapi, Bu..."
"Sudah. Ibu juga tak perlu mencari buku. Semuanya ada di sini bukan?"
"Iya, sih. Yasudah. Makasih Bu Sri...," ucap Alana seraya bersiap makan.
"Ibu keluar sebentar ya?"
Alana menganggukkan kepala. Matanya masih menerawang ke atas. Sesekali mengitari sekelilingnya. Doperhatikannya dengan jeli setiap sudut ruanga rahasia itu. Agaknya, entah kenapa ia masih tak begitu percaya. Kenapa ada orang yang menyembunyikan ruangan perpustakaan di villa ayahnya?
Kenapa bisa perpustakaan ini disembunyikan di gudang? Padahal, bisa saja dibuat di ruangan kamar ayah? Atau ruangan tamu? Kenapa dan kenapa? Barangkali, pertanyaan itu yang terus muncul dibalik diamnya Alana.
Bugg!!
Tak disangka, sebuah buku jatuh tepat mengenai kepala Alana. Untungnya, hanya buku kecil yang tak begitu menyakitkan. Entah kenapa buku itu jatuh begitu saja.
Tangannya yang sedang sibuk makan, mencoba dialihkan. Ia pandangi sejenak buku di hadapannya itu.
"Takdir Tania?"
"Ah, ada buku cerita novel juga di sini? Kupikir ini buku yang selalu didongengkan mama untukku? Ternyata bukan."
"Kenapa ada di sini? Apa mungkin ruangan ini justru bukan milik mama?"
Alana terus bertanya-tanya. Entah kenapa ia semakin dibuat penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin memenuhi kepala.
Alana tak sabar membukanya, ia buka dengan tangan kirinya, karena tangan kanannnya masih menyisakkan sisa makanan.
***
Tak ada yang tahu esok hari akan bertemu siapa dan kemana saja waktu akan memerjalankan seseorang. Entah bagaimana waktu menjadi begitu misteriusnya.
Manusia tetap saja berjalan dan seolah tak ada apa-apa. Apa yang akan dilakukannya? Bagaimana mungkin seseorang berjalan dan tak ingin mengambil jeda? Aku tak tahu kenapa dunia ini bisa begitu dikelilingi kebahagiaan? Kenapa orang-orang bisa begitu merasakan bahagia?
Sedangkan aku? Aku rasanya pening sekali. Kepalaku sangat pusing. Aku ingin pergi jauh dari dunia ini. Rasanya, semakin aku memikirkan bagaimana dunia ini berjalan, semakin rasanya aku ingin lari dalam kesepian.
Aku bukannya kesepian, bukan pula terlalu meratapi kesedihan. Kadang-kadang, aku cuma bertanya pada dunia, "Kenapa dunia ini begitu kejam? Kenapa dunia ini seolah tak menyediakan waktu untukku bersedih dan meluapkan kesedihan?"
Seminggu yang lalu, Bapakku meninggal dunia. Entah bagaimana kejadian sebenarnya, aku mendapati Bapak terbujur kain putih di ruang tamu. Rumahku penuh dengan orang yang mengaji. Melantunkan do'a-do'a dan belasungkawa.
Kau bertanya darimana saja aku? Kenapa tak sempat mendapati Bapakku sendiri yang kini telah pergi?
Aku sedang bekerja. Ya, umurku memang belum delapan belas tahun, tapi aku memilih bekerja. Bukannya aku tak ingin melanjutkan sekolah seperti remaja lainnya, tapi aku sadar diri. Aku tak ingin memberatkan Bapak dan Ibuku. Aku ingin mandiri!
Ya, mandiri. Satu kata yang begitu ada di benakku saat itu begitu lulus sekolah menengah atas alias SMA. Teman-temanku saat itu, sibuk membicarakan akan pergi ke universitas bagus entah negeri atau swasta. Tak sedikit pula yang membicarakan nasib percintaannya dengan kekasihnya.
Ya, semua lingkar pertemananku membicarakannya. Aku? Aku hanya pura-pura tertawa. Ya, pura-pura ikut tertawa saja. Meski hatiku merasa perih.
Memang, banyak tawaran beasiswa yang sangat mungkin bisa melanjutkan studi tanpa biaya. Tapi tetap saja mustahil. Lagipula, Bapakku selalu berpesan untuk satu kata itu, "mandiri."
Bapakku sama seperti petani-petani di desa lainnya. Setiap hari pergi ke sawah, merawat tanaman, dan memanennya untuk melanjutkan kehidupan. Ibuku? Ibuku, ibu rumah tangga biasa yang sibuk merawat keperluan keluarga di rumah. Jangan dipikir seorang ibu rumah tangga pengangguran? Tidak!
Aku tak pernah setuju dengan kosa kata itu. Bagiku, justru di dunia ini seorang ibu rumah tanggalah yang paling sibuk dan sangat capek.
Bagaimana tidak? Ia harus mengurus dua adikku yang masih kecil. Sebenarnya, aku bukan anak pertama. Namun, kakakku sampai hari ini berpamitan merantau ke kota, dan tak ada kabarnya. Jadi, aku di rumah sudah seperti anak pertama.
Ya, begitulah kurang lebih latar keluargaku. Sangat sederhana? Mungkin, tapi inilah pemicu dari ketidaksederhanaan itu.
Pagi sebelum berangkat kerja, aku berpamitan pada Bapak.
"Hati-hati, Nak. Jaga diri dengan baik," ucapnya lembut sembari tersenyum dengan gurat kerut di wajahnya yang sangat khas.
Kulitnya yang kuning kecoklatan diterpa angin dan cahaya mentari pagi membuatnya amat menawan. Meskipun ayah sudah tidak berusia muda lagi, tapi aku tahu semangat ayah untuk menafkahi keluarganya sangat tinggi.
Berbeda dengan keluarga lainnya yang ketika ada bantuan pemerintah begitu berharap, Bapakku tidak. Bapakku juga bahkan pernah menolak, eh bukan pernah lagi. Malahan dia berkali-kali menolak ketika ditawarkan bantuan.
Pernah suatu hari, uang bantuan sudah sampai dan hendak diberikan ke Bapakku. Namun, ia menolaknya. Petugas desa memaksanya untuk menerima. Namun, sejak saat itu pula, Bapakku mulai memberlakukan dua hal dalam hidupnya tentang bantuan sosial itu.
Pertama, jika memang masih sekedar pendataan, Bapak menolak untuk didata sebagai warga miskin yang kelak akan menerima dana bantuan dari pemerintah pusat sana. Sementara, jika memang sudah terlanjur dapat, ayahku menyerahkan kepada tetangga yang lebih membutuhkan. Ya, begitulah.
Begitulah Bapak mengajarkanku tentang kemandirian. Pernah suatu ketika, aku berdialog dengan Bapak.
"Pak, kenapa Bapak selalu menolaj bantuan itu? Bukannya kita juga kekurangan?"
"Kekurangan, bukan berarti miskin bukan, Nak?"
"Hum. Tapi... Kan kita bisa pakai uang itu untuk masak Ibu. Bukannya panen masih lama, ayah? Kasian ibu tiap hari makan tahu dan tempe mulu."
"Memang kenapa kalau makan tahu dan tempe? Itu juga makanan sehat kan? Diluar sana masih banyak yang bingung mau makan apa lo, Tania. Tania pernah dengar orang yang tinggal di kolong jembatan? Pernah dengar orang yang gabisa makan sama sekali karena tak ada uang untuk beli makanan?"
"Atau pernah dengar orang yang kaya raya tapi tak bisa menelan makanan karena sakit yang dideritanya?"
Aku menganggukkan kepala setengah mengerti, lebih tepatnya ingin terus mendengarkan cerita Bapakku.
Ia begitu bersemangat sekali ketika bercerita. Seolah-olah aku adalah putri kecil yang masih tujuh tahun, padahal saat itu usiaku sudah masuk SMP. Entahlah, Bapak berulang kali menekankan makna kemandirian itu. Meskipun, baru belakangan ini aku merasa mengerti dan lebih tepatnya sedikit mengerti apa yang Bapak maksud dengan mandiri dalam menjalani kehidupan ini.
"Hidup harus berada di atas kaki kita sendiri. Jangan meminta-minta. Ingat itu, Nak? Sekalipun kita diberi banyak bantuan, kalau bisa berusaha sendiri, lakukan. Itu akan sangat lebih membahagiakan."
"Iyakah, Yaah?"
"Ya. Suatu saat kamu akan merasakannya nanti. Jadi anak Bapak yang mandiri, ya?"