Part 23 - Ruangan Rahasia?

1006 Kata
"Ibu Kemala harus ikut kami dulu. Mohon maaf, Nak." Beberapa orang tak dikenal datang ke rumah Darren. Mereka memaksa Ibu untuk mengikutinya. "Sudah, Nak. Ibu gapapa. Kamu jaga diri baik di rumah, ya. Ibu gapapa." Ibunya hanya tersenyum. Memasrahkan diri dibawa orang yang tak dikenali. "Bu... tapi, Bu." "Kamu yakin kebenaran akan selalu menemui cahayanya 'kan, Nak?" Darren mengangguk. "Kamu yakin Ibu di jalan kebenaran 'kan?" Darren pun kembali menganggukkan kepala. "Jadi, kenapa harus cemas? Ini cuma salah satu kerikil dalam perjalanan Ibu. Kamu do'ain Ibu agar melewatinya dengan baik. Yah?" Lagi, Darren mengangguk. Seperti sebuah mimpi, keesokan hari harus melihat Ibunya tak berada di sisi. Terdengar kabar, sebuah perusahaan atau entah beberapa pihak di perusahaan yang tidak terima dengan tulisan di berita—dimana berita itu ditulis oleh Ibu Darren, mengajukan keberatan. Mereka menempuh jalur hukum. Membawanya, menuntut redaksi tempat Kemala bekerja mencabut kembali beritanya. Memang, menjadi penulis berita investigasi adalah jalan yang tak biasa. Entah, Darren pun masih tak terpikir kenapa Ibunya mau menempuh jalan penuh resiko ini. Sekarang, ia harus melihatnya sendiri. Ibunya yang kuat, sabar, lembut harus menjalani kasus seperti ini. Namun, ia pun makin bertekad mengikuti jalan Ibunya. Mencintai sastra. Meski untuk hari-hari ini, ia mendapati dua hal paling menyesakkan dalam hidupnya. Baru saja ayahnya tersandung korupsi. Sekarang, Ibunya dibawa pihak tertentu karena berita investigasi. Apakah Darren mampu menjalani? Bayangan Ellena sekelintas menghampiri, "Na, apa kamu masih membenciku? Di saat seperti ini, aku sungguh rindu sisi lembutmu." "Mas... Mas Darren, hallo?" Ellena berusaha menyadarkan suaminya yang melamun di depan teras rumah. "Eh, kamu, Na. Kok cepet perginya?" "Nggakpapa, Mas. Aku cuma mau ada yang diomongin sama kamu." "Tentang?" "Aku dapat tawaran kerja di salah satu florist bagus kata Maria. Bolehkah aku kerja part time di sana, Mas?" Darren menatap lembut mata istrinya. Dipandangnya dengan penuh seksama. "Aku menyayangimu." Tiba-tiba, Darren mendekapnya, entah kenapa. Seperti ada kekawatiran yang begitu ia pikirkan. "Mas, kamu kenapa?" "Mas cuma kawatir. Tapi gabisa melarang begitu saja tanpa memedulikan keinginanmu. Jika itu menurutmu yang terbaik, aku dukung." "Kamu masih ingat kisah masa lalu Ibuku dulu 'kan? Sebaik apapun Ibu, dia di kerjaannya juga ada yang gak suka. Akan selalu ada kemungkinan hal semacam itu. Jaga diri baik." "Yah?" Ellena menganggukkan kepala. Seraya berterima kasih pada suaminya yang begitu mengertinya. Meskipun ia pun masih begitu ingat bagaimana masa lalu yang membentuk suaminya itu. Termasuk kasus ayah dan ibunya yang sempat membuatnya trauma. Sebuah halaman kembali menunjukkan beberapa kalimat yang membuat Alana terdiam. "Pucuk dahlia di rumahku ramai bersiap mekar. Nampak sangat siap sekali jadi penawar. Ya, penawar kesedihan yang bisa bermanfaat bagi perawatnya. Namun sayang, angin meniupkannya. Yang tersisa, kelopak jatuh tak berdaya. Luruh, tapi tidak dengan ketulusan yang senantiasa bertumbuh di ranting selanjutnya." "Seseorang pergi ke gunung, mencari daun biru. Turun ke pantai mencari mata jingga. Berjalan ke hutan mencari diri sendiri dalam keramaian. Meninggalkan segala puja, untuk Cahaya." "Betapa menakjubkannya para pecinta. Datang dan pergi melawan gejala alam hanya untuk menemui sepasang mata. Mata yang membawa gelap dan cahaya dalam satu masa." "MAKSUDNYA APA SIH?" Keluh Alana mengernyitkan keningnya. "Kenapa, Nak?" "Ini, Bu Sri... Alana menemukan ini. Coba Bu Sri lihat, aku tak begitu mengerti." "Surat? Seperti sebuah surat?" "Entahlah. Kenapa ada seseorang yang menuliskan surat tapi lebih mirip seperti sebuah kisah bersambung? Ah, apakah semua cerita itu layak diberi makna bersambung?" Alana terdengar sendiri. Ia masih berjalan mengitari sebuah ruangan tersembunyi yang baru saja ia temukan. Sesekali matanya melihat ke tumpukan buku di atas sana. Sesekali pula melihat rak di dekat kakinya melangkah. Sebuah celah cahaya masuk. Sebuah sinar dari balik jendela. Ya, jendela. Beberapa orang mengartikan jendela adalah tanda. Tanda dari seberapa mampu seorang itu bertahan. Kenapa? Sebuah rumah, jika tanpa jendela maka ia serupa kalimat-kalimat yang tak memiliki tanda-tanda. Pasti terlihat aneh dan tak terbaca. Sekalipun terbaca, akan terasa sekali begitu sesak dan membingungkannya. Demikian pula dengan jendela. Rumah tanpa jendela akan membuat pemiliknya tak mendapat sinar matahari penuh. Entah kenapa cahaya sore yang memantul ke sana, membuat Alana masih terdiam melihatnya. Bagaimana ruangan ini dibuat? Lalu, siapa yang membuatnya sebenarnya? "Bu Sri..." panggil Alana. "Iya?" "Apa Mama Maria pernah menceritakan sesuatu tentang tempat tersembunyi?" "Uhm, sepertinya tidak, Nak." "Bu Sri yakin? Aku merasa aneh dengan ruangan ini. Kenapa ada sebuah ruangan baca yang cukup banyak koleksi buku, tapi ditaruh tersembunyi dan masih ada jendela di sini? Hanya mungkin dari luar juga akan tersamarkan." "Apa ini ada hubungannya dengan Ayah? Apakah Ayah yang membuatnya dahulu kala? Atau justru ini ruangan Mama Maria? Ah, kenapa aku begitu bertanya-tanya sekarang?" "Kalau boleh tau, apakah dahulu kala sejak kecil pernah ke Villa ini sebelumnya? Apa kamu benar-benar tak ingat sesuatu?" "Uhm, sebenarnya saat kecil pernah kesini, tapi aku sama sekali tak pernah tahu tempat ini, Bu Sri. Ini sebuah penemuan ajaib!" Alana mencoba menyentuh salah satu buku di hadapannya. Ia menyentuh sampul buku di atasnya. Dilihatnya kembali tangannya itu. "Debunya tidak begitu banyak. Ruangan ini cukup terjaga. Apa jangan-jangan ada yang tau selain aku? Apakah benar itu Mama Maria?" gumam Alana. "Apakah Mamah Maria yang membuat ruangan rahasia ini? Tapi, apa gunanya? Kalau hanya ruangan buku, kenapa harus dirahasiakan? Aku semakin tak tahu." "Gimana, Nak? Oh iya, ini makanannya. Kamu belum makan, Alana." "Oh iya Bu Sri. Terima kasih. Tapi, bolehkah aku tetap di sini? Aku begitu penasaran. Disini juga ada penerangannya. Lihatlah." Alana menyalakan saklar lampu yang kini semakij membuat ruangan itu tak terlihat gelap lagi. Cahaya dari jendela mulai pudar. Suatu tanda malam mulai menyapa. Tak ada yang tahu bahagaimana rahasia-rahasia bekerja dan untuk apa ia bekerja, tapi bagaimanapun semua hal di dunia ini layak dicari tahu dan diapresiasi, keesokan harinya. Waktu akan senantiasa bergulir mengirkan berbagai tanya. Sementara, manusia terus merasa berjalan, meski hakikatnya tidak. Meraa berhenti, padahal tidak pernah bergerak sama sekali. Barangkali, sebab itulah kenangan di kepala manusia terus lahir dan menjadi bermakna. Tanpa keingintahuan, apakah manusia akan tetap layak disebut manusia? Tanpa rahasia-rahasia, apakah ingatan dan hati manusia layak disebut bergitu berharganya? "Bu Sri. Menurut Bu Sri, siapa dan untuk apa ruangan ini dibuat?" Tanya Alana memecah hening di kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN