Part 22 - Masa Lalu dan Trauma Darren

1179 Kata
"Aku udah ijin Mas Darren. Tadi pamit nyari sarapan. Eh, liat kedai kamu udah buka, jadi iseng nengok deh." "Iseng nengok apa kangen aku, nih?" "Hehe." Dipeluknya sahabatnya itu. Ellena memamg sempat bercerita ke Maria ia ingin juga bisa bekerja. Setidaknya ada hal yang pengin lebih dilakukannya. "Na." "Yah?" "Kamu benar. Apapun keputusanmu, seorang istri harus diskusi dengan suaminya. Aku setuju," ucap pelan Maria. Ellena tersenyum dengan mata berbinar didekapnya Maria kembali. Drrrtt... Telepon Ellena berdering. "Maaf. Aku harus segera pulang. Pesananku udah kan? Thanks, ya!" Ellena kembali beranjak mengayuh sepedanya. "Hati-hati!! Cepat sembuh buat ibumu." *** Rumah ini memang bukan pilihan Ibu. Tidak dipilih karena batu-batu rindu. Namun tetap disapu oleh berbagai waktu. Karena bukan Ibu, lalu rumah ini adalah pilihan Ayah. Dibangun dengan payah. Susah. Sedari kecil, kabarnya ayah sudah merasai bagaimana hidup susah. Orangtua ayah, bukan berasal dari keluarga mapan. Tak mengenal kekurangan. Bukan, tapi sudah lebih dulu mengenal apa itu makna kesusahan. Lahirlah aku: Darren Dewandaru. Kau pasti sudah bisa menebak siapa ayahku, bukan? Ya, Dewandaru. Lengkapnya, Dani Dewandaru. Meski sampai hari ini, detik ini aku sering mempertanyakan diri "Kenapa ayah melakukan hal ini? Kenapa sampai terjerat korupsi?" Tapi aku tak mau bercerita perihal Ayah. Karena kata Ibu, Ayah sedang melukis senyum di awan. Tak bisa diganggu. Sekedar menceritakannya pun tak boleh kata Ibu. Kuanggukan kepalaku, tiap kali tangan Ibu lembut membelai kepalaku. "Nak, kamu ndapapa ndak berangkat kuliah. Asal tetep giat belajar, yah..." tuturnya lembut. "Kenapa begitu, Bu?" "Sebab sekolah hanya satu tempat belajar. Kehidupan adalah tempat kamu belajar sesungguhnya. Agar... " "Agar punya jiwa yang lembut. Tak hanya akal yang cerdas!" ucap Darren ceria. "Hafal, yah?" "Bu... Ibu jangan pergi yah. Tetep di samping Darren." Darren masih ingat, pagi ini Ibu mengucapkannya ke dua ratus tujuh puluh dua kali. Ya, Darren menyebut itu karena ia selalu menuliskannya di buku diary. Sebuah ucapan yang hampir selalu sama. "Belajarlah selalu, bukan untuk cerdas saja, tapi agar jiwamu lembut." Memang, begitulah Ibu. Perempuan pecinta sastra, yang mengalirkan cinta itu padaku. Tiga hari lagi ulang tahun Ibu. Darren tak memberi apapun sebagai hadiah untuknya. Sebab ia pun tak suka merayakannya. Bukan sebab halal haram yang dikatakan agama. Ibunya jarang sekali melarang dan memerintahkan sesuatu padanya, langsung menyebut "Ini haram! Itu halal!" Meskipun dengan begitu pun sah-sah saja. Namun ia berbeda. Ia selalu menuturkannya begitu ramah, lembut, dan bersahaja. "Bu, Darren ijin pergi ke rumah temen dulu ya," "Mau ada apa, Nak?" "Dia minta bantuan Darren ngerjain tugasnya." "Kenapa nggak temennya aja yang kesini?" "Kendarannya lagi mogok katanya. Gatega kalau suruh ngangkot. Biar Darren aja kesana. Sekalian main. Mumpung udah di sini." "Darren nggak ngurusin kuliahnya. Tapi mau belajar ke rumah temen?" "Kan kata Ibu kehidupan adalah tempat belajar yang sesungguhnya," ucap Darren seraya menirukan gaya Ibu saat mengucapkannya. Tersenyum lembut. Candanya. Darren pun pergi membawa senyuman. Tanpa perlu ia ambil dulu dari awan. Ataupun susah-susah dilukis terlebih dahulu seperti pekerjaan Ayah. Entahlah. Darren tak mau terlalu mengingatnya. Barangkali yang ia ingat: ia hanya mau kasih hadiah ke Ibu. Apapun itu. Pagi ini teman Darren mengabari. Agar ia segera berangkat karena akan menemaninya melanjutkan mengurus studinya di kota kelahirannya itu. Namun, Darren tak begitu bersemangat diri. Ibu mendekatinya. "Kenapa belum berangkat, Nak?" "Ehm, ndak, Bu. Sebentar lagi juga Darren berangkat. Ibu baik-baik di rumah ya." "Maafin Ibu yah, Nak." "Kenapa maaf? Darren gapapa kali. Bahkan, kalau pun Darren gak lanjut, Rinai gapapa ko." "Hush! Gaboleh bilang gitu. Apapun yang sedang kita jalani sekarang, pendidikan tetep nomer satu. Kamu mesti selesaikan studimu. Yah?" "InsyaAllah, Bu. Darren janji akan selalu banggain Ibu. Do'ain Rinai yah biar lancar." "Tanpa diminta. Ibu selalu doain kamu yang terbaik." "Assalamualaikum." Darren berpamit diri pada Ibunya. "Waalaikumsalam. Hati-hati, Nak." "Nak..." Tiba-tiba Ibunya memanggil lagi. "Iya, Bu?" Rinai menoleh. "Nak, tidak ada yang sia-sia dari orang yang menempuh perjalanan menuntut ilmu. Belajar. Bahkah ikan di lautan pun turut mendoakan spesial untuk mereka. Yang semangat yah... " "Meski Ibu selalu nasehatin Darren belajar gak harus di kelas, sekolah, dsb. Tapi bukan berarti jadi males." "Iya, Bu. Nak, kamu ndapapa ndak berangkat sekolah. Asal tetep giat belajar, yah..."Darren mengulang gaya Ibu saat menasihatinya. Dengan senyum lembutnya. Senyum paling ramah. "Sebab sekolah hanya satu tempat belajar. Kehidupan adalah tempat kamu belajar sesungguhnya. Agar... " Darren masih menirukan gaya Ibunya. "Agar punya jiwa yang lembut. Tak hanya akal yang cerdas!" ucap Ibu melanjutkan intonasi Darren. "Darren sayang Ibu." Darren peluk ia dan bersegara berangkat ke kampus. Tak lama kemudian, ia pulang membawa sesuatu di tangannya itu. "Kue spesial untuk Ibu. Perempuan teramah sepanjang rumah," "Lho, kok hanya sepanjang rumah?" "Karena rumah tak pernah terukur luasnya. Tapi di sana kita bisa rasain kedalamannya. Mana rumah yang penuh ramah. Dan mana rumah yang penuh jengah." "Hah?" "Iya. Itulah rumah hati. Ibulah rumah terrraamaah," Darren peluk ia penuh kasih. "Nak, terimakasih, ya. Kamu satu-satunya anak Ibu yang lembut dan penuh kasih. Dapat darimana sih kata-kata manis itu? Bikin Ibu melting aja." "Kan emang anak Ibu cuma satu, kan? Yaa dapat warisan dari Ibunya lah. Siapa dulu. Juru Sastra." "Kamu tuh ya... " ia memeluk Darren penuh kasih. Darren lihat mata Ibunya mulai gerimis. Menitikkan air sedih dan bahagia. Bahagia dan sedih. Namun, tak kan ia biarkan menjadi hujan deras. "Ibu, jangan sedih," "Ibu bahagia, Nak," "Ibu pengin apa dari Darren?" "Ibu tak punya keinginan... " "Harapan? Setidaknya apa yang harus Darren lakukan buat Ibu?" "Ibu hanya berharap bisa memesan awan untuk menjagamu, kala Ibu tak lagi bisa bersamamu, Nak." "Ibu bicara apa, Bu? Maafin Darren kalau menyakiti hati Ibu," Darren peluk ia erat. Dan ekor matanya makin menderas. Tak bisa ditebas. "Di saat seperti ini, ayahmu tak bisa hadir bersama. Sekali lagi, maafin Ibu ya, Nak." "Nak, Ibu juga punya hadiah untukmu. Lupa Ibu ambil. Sudah Ibu taruh di meja samping kamar Ibu. Tapi Ibu agak pusing, Nak." "Ibu jangan terlalu kawatirin aku tentang ayah. Darren gapapa." "Ibu istirahat dulu aja. Kan besok nanti bisa Darren ambil sendiri. Ini masih terlalu dini hari. Ibu istirahat aja, ya." Ibunya mengangguk. Dan beristirahat ke kamarnya. Darren membuka sebuah kotak kecil di bekas kamar Ibu. Yang berdindingkan kesunyian. Beratapkan kesabaran. Sebuah kotak persegi berlapiskan warna hitam. Dan bermotifkan bunga matahari yang di atasnya ada awan. Ia buka pelan sepotong surat di dalamnya. Digulung manis, berpita suci. Untuk anakku, Darren Dewandaru Maafkan Ibu yang selalu tak memberimu ruang sulit ketika bertanya tentang Ayah. Bahkan sekedar menceritakannya. Pasti kau akan kelu, anakku. "Ia sedang melukis senyuman di awan" Begitu kataku kepadamu, selalu. Entah, bagaimana kamu memahaminya, Nak. Ibu hanya takut, kamu membenci Ayah. Atau mengandung luka dengan payah. Saat kau mengenal kembali kata Ayah. Tapi mungkin ada saatnya kau pun akan mengetahuinya, Nak. Maka Ibu menuliskannya. Dengan tinta segala kepasrahan diri. "Ayahmu memang sekarang sedang di ruang lain. Meninggalkanmu saat batu-batu rindu rumah: berdiri gagah." Tapi jangan kawatir, Nak. Ibu akan selalu memesan awan untuk menjagamu. Di saat mata terbuka. Maupun terlelapku. Entah bagaimanapun Ayahmu, Ibu harap tak ada kebencian yang tumbuh setelah kau membaca surat ini, Nak. Dari Ibumu yang semoga selalu memiliki jiwa yang ramah sepanjang rumah; seperti katamu. Kemala. Darren meneteskan air mata saat membacanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN