Alana masih saja tak menghiraukan panggilan dari Bu Sri. Ia kembali membaca isi dari kertas yang masih dipegangnya itu.
Kali ini, kertas itu berjudul "Ellena"
"Apa yang hendak kutulis, kala sebagiannya tlah melebur dalam diam? apa yang hendak dikatakan, kala sebagiannya telah hilang entah kemana?"
"Kenapa gak nulis? Aku kangen tulisanmu," gumam Ellena. "Baik, akan ia tulis dalam sebelas menit. Tentang apa yang tak tahu aku akan menulis apa."
"Tentang menulis apa yang tak tahu untuk apa ia tentangkan. Sebagaimana riuhnya pertanyaan kabar, yang dibiarkan kabur dan menjelma sabar." Gerutunya.
Meski entah, rumah sabar mana yang kan sabar. Bahkan, sudah sering mendengarnya 'kan? Tiada pun kabar pun adalah kabar. Kabar bahwa tiada kabar. Apa yang biasanya orang rasakan kala merasa tak diberi kabar?
Jauh? Padahal sejak kapan jauh dekat perlu dipertanyakan? Sejak kata baik-baik mengamuflase segala keruwedan perasaanmu? Aku tak tahu lagi harus menulis apa. Pun, Ellena tak tahu, apa yang pantas ditaruh di rumah kata. Namun, setidaknya sejak ribuan hari itu, ia tahu. "Daun yang jatuh tetap mendoakan yang tumbuh." Oh, agaknya sudah hampir sebelas menit. Aya tak kan lagi mengetuk-ngetuk pintu matanya, lalu daun gugur bertaburan. Tidak. Lebih ia sukai rumah pulang—menatap langit dan bintang gemintang. Bayang.
Aroma sejuk udara subuh menyelimuti Ellena. Matanya menatap langit dan bintang tersisa. Seolah mencari apa yang dicarinya. Tapi dari sudut mata lainnya, mencegah untuk tak perlu berusaha. Bangku kayu yang didudukinya kian berat. Bukan oleh bebannya. Tapi apa yang semakin tak terucap. Ellena menyimpan berbagai rasanya. Dan menaruhnya di keranjang bulan menjelang pagi.
"Ibu baik-baik saja di sana 'kan? Ellena sayang Ibu." Desirnya.
Darren melihatnya dari balik jendela depan rumah. Ia amati istrinya itu. Aroma sedih seperti menular begitu saja ke matanya. Suami mana yang akan tega melihat istrinya seperti ini? anak mana yang merasa baik-baik saja saat melihat Ibunya sakit?
Langkah Darren mulai mengayun, tapi ditahan. Tertahan kembali entah oleh apa. Ia mengamati pelan sahabat karibnya itu.
Ellena kini menunduk. Sepertinya telah selesai menaruh sedih di keranjang bulan. Darren pun mantap mendekati.
"Na, kenapa?"
"Ndakpapa, Mas. Aku baik-baik aja."
"Gimana kondisi Ibu?"
"Setiap anak pasti akan selalu sayang Ibunya. Kamu juga pernah merasakannya'kan?"
Darren mengangguk. Lalu dipeluknya oleh Ellena.
"Sabar ya, Sayang. Aku yakin Ibumu pasti akan segera sembuh."
"Ndak dibawa ke rumah sakit saja?"
"Ibu gamau, Mas. Dia lebih suka dirawat anaknya, katanya. Keukeh."
"Tapi kalau sudah mengkawatirkan, mau gamau harus dipaksa, Na."
"Iya. Aku juga niatnya gitu."
"Yasudah... malam ini aku temenin kamu jaga Ibu, yah?"
"Ndakpapa, Mas? Ibumu kalau nyari gimana?"
"Tenang... kalau ijin sama kamu mah pasti dibolehin."
"Ok."
***
Apa yang abadi dalam dunia ini? Bahkan sedih yang kau titip, tak jarang hanya persinggahan dari senang yang sebentar lagi kau tatap. Lantas, sejauh apa manusia mengeluh dan menyerah? Saat semangat selalu bisa tumbuh darimana saja, selagi mata kita mampu membacanya?
Pagi itu Ellena seperti mendapat energi baru. Bagaimanapun, kehidupannya harus tetap berjalan. Meski harus melihat sakit Ibunya. Pun mesti tanpa orang yang disayanginya. Orang-orang terkasihnya boleh pergi, tapi tidak dengan jiwa yang senantiasa tulus mengasihi. Ia akan tetap hidup dan menghidupi. Dalam cuaca apapun nanti.
"Mas, aku ke depan bentar, yah?"
"Mau ngapain?"
"Mau beli jajan di depan dan sarapan buat kamu."
"Mas antar, yah?"
"Jangan. Aku aja naik sepeda dekat ko."
"Yaudah, hati-hati, yah."
Ellena mengangguk dan mengayuh sepedanya.
Tiba-tiba suara klakson mobil menjedanya.
Seorang laki-laki keluar dari pintu depannya. Membawa sebuah buket bunga dan beberapa gantungan kunci dari bunga asli. Dikemasnya dalam wadah yang sangat elegan.
"Ellena... kamu baik-baik saja?" Dion menyapanya.
"Aku baik."
"Oh ya. Kebetulan ketemu kamu di sini. Ini. Terimalah. Anggap saja ucapan terima kasih saat itu sudah mau mendengarkan cerita saya." Dion menaruhnya begitu saja di keranjang depan sepeda Ellena. Wajah bingung menyelimuti Ellena.
Kala itu, Ellena memang meniatkan diri berangkat dengan sepedanya. Entah kenapa ia seperti ingin lebih melihat dunia lebih pelan. Selain memang karena jaraknya cukup dekat.
"Seharusnya tak perlu repot begini."
"Tak apa. Ini tak seberapa dari mendengarkan ceritaku itu. Sekali lagi terima kasih, ya."
"Terimakasih kembali. Ehm, maaf tapi aku harus segera pergi."
"Tunggu. Kamu mau ke mana?"
"Aku ada perlu."
"Sebenernya aku ingin menawari kamu sesuatu."
"Hum?"
"Ini... " Dion memberikan sebuah id card.
"Itu alamat toko bunga milik Ibuku. Letaknya gajauh dari sini. Aku pikir kamu akan suka."
"Kamu menawariku bekerja?"
"Tempat itu dulu milik Ibu. Aku tak sembarang orang memilih karyawan. Setelah aku lihat kamu begitu sabar, aku pikir selain pekerja keras kamu juga telaten. Dua hal yang selalu mengingatkanku pada Ibu."
Dion menunduk.
"Sekarang Ibu dimana?"
"Ibu sudah lama pergi sejak aku duduk sekolah dasar."
"Maaf... "
"Tak apa. Itu saja. Maaf menganggu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
"Ehm, Tunggu... "
Dion menengok kembali.
"Terimakasih." Dion tersenyum dan pergi.
Dalam perjalanan, Ellena mampir ke sebuah kedai dimana sahabatnya, Maria bekerja paruh waktu.
"Just For You Florist? Jadi kamu ditawari kerja disana, Na?" Maria kaget.
"Iya. Kamu tau?"
"Ya tau lah. Siapa yang gak tau toko bunga sekeren itu."
"Sekeren apa?"
"Yaampun, Na. Mainmu kurang jauh."
"Ya emang aku gasuka main."
"Kamu dengerin ya. Disana tuh bukan sekadar toko bunga. Tapi... rumah bunga."
"Maksudnya tempat menanam bunga juga? Punya kebun sendiri?"
"Yap! Bukan cuma itu. Tapi... ehm apa yah. Seperti seorang Ibu pada anaknya."
"Kamu ngomong sih."
"Jadi mulai dari menanamnya, merawatnya, sampai memetik bunganya itu benar-benar terawat seperti kasih Ibu."
"Kalau sudah panen bunganya pun, tak dibiarkan begitu saja. Ada bunga yang sengaja dikeringkan untuk dijadikan berbagai karya yang top banget. Ah bakal panjang deh jelasinnya. Pokoknya itu tempat keren banget!"
"Kamu beruntung deh. Gak semua orang bisa daftar di sana. Jangan sia-siain kesempatan bagus ini!"
"Maria... "
"Apalagi? Kenapa gak coba aja?"
"Maria, memang aku suka bunga juga. Aku juga sempat terlintas pengin kerja paruh waktu sepertimu. Tapi bukan begini."
"Maksudnya?"
"Aku sudah bersuami. Bagaimanapun, ada Mas Darren yang perlu aku ajak diskusi."
"Kamu mendadak sok bijak deh."
"Ish, yasudah terserah deh."
"Bercanda, ya. Makasih ya udah jadi temen yang setia banget aku cerewetin."
"Udah ah jangan lama-lama. Awas kalau besok masih kesini!"
"Ngusir aku nih?"
"Oh ya, gimana kabar Ibumu? Gapapa pagi-pagi udah kesini?"