Alana membaca kembali kelanjutannya. Ia belum menghiraukan panggilan dari Bu Sri.
***
Tentang Makna Cinta
Tak ada yang benar-benar baik-baik saja di dunia ini. Yang kita kira baik, bisa jadi hanya karena ingin terlihat baik. Pun, yang kita nilai buruk, bisa jadi karena tak ingin kebaikannya dipedulikan orang lain.
Lalu, batas mana seseorang berhak menilai sesuatu baik atau tidak? Sampai di mana kewajaran kita bersikap sebagai pemaafan sesama manusia?
Dengan segenap rasa kesal dalam hati, Tirta sedikit berlari. Sorot matanya yang tajam itu seakan ingin menyergap apapun di depannya. Namun, untung saja ia punya mata tak hanya tajam, tapi juga teduh di dalamnya.
"Hati-hati jalannya. Yang tenang, Sayang," pinta seorang istri itu sambil terus berjalan dalam genggaman tangan suaminya.
"Aku tahu. Tapi aku gak akan biarin laki-laki itu tak mendapat pelajaran!" gerutu Suaminya sembari terus mencari sosok yang sedang dicarinya. Tak lain pasti orang itu.
"Iya, tapi... bagaimanapun juga dia sahabatmu, 'kan?"
Pertanyaan itu ternyata malah menjedakan langkah Tirta tiba-tiba. Hal yang semula dikawatirkan Hana, kini malah bertambah kawatir.
Diamnya suami di hadapannya, cukup membuat detak jantungnya tak karuan. Ia takut suaminya itu marah.
Sambil memegang lengan atas istrinya, suaminya melebarkan ujung bibirnya. Terkembang senyum khas laki-laki dewasa yang ingin menangkan pasangannya.
"Na, aku minta kamu percaya sama aku. Itu saja. Ok?"
Istrinya tak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan itu dari suaminya.
"Atau... kamu mau ndak ikut? Biar aku saja. Kamu barangkali ada perlu sama temanku," lanjut Suaminya.
"Tidak, Mas. Aku ikut kamu. Aku kawatir kamu kenapa-napa."
"Ok."
Mereka berdua berjalan cepat menuju ruang kelas mahasiswa jurusan hukum. Tangan suaminya tetap menggandeng istrinya, memastikan ia aman dari jangkauannya.
"Di sini biasanya kebanyakan cowok, kalau nanti ada yang usilin kamu, selagi cuma ucapan, yang sabar, cuekin aja. Kecuali kalau ada yang sampai fisik, bilang ke aku. Ok?" pinta suaminya begitu ia sampai di deretan ruangan menuju kelasnya.
Istrinya mengangguk meskipun belum sepenuhnya mengerti. Namun, ia hanya mencoba mengikuti suaminya kemanapun melangkah. Sebab ia percaya, ia adalah orang baik dan dapat dipercaya.
"Wuih... Bro. Liat tuh sapa yang dateng," celetuk salah seorang laki-laki melihat sepasang kekasih itu berjalan melewati deretan ruangan sebelum masuk kelasnya itu.
"Hoho pengantin baru, Bro. Pantas gandengan, bentar lagi juga jalannya sendirian."
"Haha bisa aja lu!"
Suaminya tentu mendengarnya, tapi enggan membalasnya. Karena tujuannya sekarang adalah satu. Menemui orang yang mencurigakan dan memberi pelajaran untuknya.
Akhirnya, suaminya sampai di ujung kelas yang dituju. Seseorang yang sempat bertemu di Base camp berceletuk.
"Eh, udah selesai di base camp mau ajak cewenya ke kelas? Janganlah. Nanti jomlo kasian."
"Berisik lu! Dimana dia?" tegasnya.
"Dia? Bukannya biasanya dulu kalian satu paket? Oh ya, sampe lupa dia belum lulus!"
"Di dalam gak ada?"
"Tau tuh. Dari tadi pagi juga ndak ada."
"Kemana dia? Beneran gak ada yang tahu?"
"Enggak. Lagian mana ada yang mau temenan sama cowo blagu yang sok kaya itu."
"Kita-kita biar laki-laki kere juga gak akan ngorbanin idealis demi nggaet hartanya dia doang. Risih gue kalau deket sama dia."
"Apa maksudnya?"
"Lu tau sendiri kan bokap nyokapnya siapa? Pejabat semua Bro! Dan penuh kisruh biasa lah. Pejabat di sini gimana rata-rata."
"Gue gamau aja deket-deket sama mereka. Oposisi aja lah."
"Terserahmu!" tegasnya dan kembali mengeratkan tangan istrinya yang sedari tadi hanya menyimak obrolan suaminya.
"Kita mau kemana, Mas?"
"Aku ingat satu tempat. Kita ke sana."
"Tempat biasa dia?"
"Ya."
Beberapa saat kemudian, Tirta sampai di tempat tak jauh dari taman kampus. Benar. Di sana ada orang yang dicari yang duduk menundukkan kepala. Ia pegangi kepalanya seolah benar-benar putus asa.
Suaminya yang tadinya berniat menghajarnya seketika, mulai mengantongi kembali rencananya itu. Ia mulai berjalan perlahan mendekat sahabatnya itu.
"Heh lu...." panggilnya.
Laki-laki di depannya seraya mengangkat kepala perlahan. Melihat laki-laki di depannya adalah sahabat lama ya, ia sontak kaget. Matanya terbelalak apalagi begitu melihat Hana di sampingnya.
"Kalian mau apa kesini? Mau ikut membullyku? Hah? Pergi!!" pekiknya.
"Tidak. Kami kesini hanya mencarimu."
"Untuk? Untuk apa? Oh... foto itu? Iya, itu suruhanku."
Orang yang dicurigai mengaku begitu saja. Ia seakan tak peduli apapun respon yang bisa saja akan melakukan pembalasan padanya.
Namun, berbeda. Ia mengurungkan niatnya membalas. Ia mendekat perlahan pada yang dicurigai itu. Berusaha mendengarkannya itu. Meskipun ia adalah orang yang telah berusaha merusak rumah tangganya.
"Ada apa memangnya, di? Ceritakan saja," ucap perlahan.
Ia menepis tangan sahabat lamanya yang berusaha menepuk pundaknya.
"Gausah sok lu! Bilang aja lu juga sama kayak lainnya kan? Semuanya di sini nganggep gue sama! Anak konglomerat yang makan duit rakyat. Iya kan?"
"Maksudnya?"
"Gausah pura-pura polos gitu deh. Muak gue liatnya!" Ia malah beranjak meninggalkan sepasang kekasih itu. Sahabat lamanya berusaha menahan langkahnya, tapi tak berhasil. Tangannya menepis tangannya kembali.
Ia sempat kembali menoleh pada keduanya. Dan berkata, "oh ya, tentang foto itu, nanti gue hapus!" ia kembali melanjutkan langkahnya entah kemana.
"Tunggu!!" Ia berusaha menahan sahabatnya percaya kembali.
"Sudah, Mas. Biarkan saja," Istrinya mencoba menenangkan suaminya.
"Kamu sudah tahu kan sekarang? Siapa pelakunya?"
Istrinya menganggukkan kepala.
"Apa yang ingin kamu lakukan padanya?"
"Aku tak ingin apapun, Mas. Mungkin saja beban hidupnya lebih berat dariku. Hingga dia nekad melakukan cara apapun untuk mendapatkan kesenangannya," tutur istrinya begitu bijaksana.
suaminya mendekatkan tubuh istrinya pada dadanya yang hangat. Didekapnya seketika istrinya yang berhati lembut itu. Jiwa pemaaf dan bijaksananya berhasil menenangkannya.
"Aku beruntung memiliki istri sepertimu."
"Kenapa?"
"Disaat aku cemas, kamu yang menenangkanku. Dan di saat kamu cemas, aku pun yang ingin selalu berusaha menenangkanmu," tutur lembut suaminya sambil membenamkan kepala istrinya lebih dalam. Didekapnya erat dan semakin erat. Nyaman dalam sebuah pelukan kasih sayang.
"Maaf, tidak bisa membalas apapun padanya," ucap suaminya seraya melepaskan dekapannya perlahan.
Istrinya tersenyum dan menatap suaminya. Sebuah wajah dengan rahang tegas itu amat tampan. Pantas saja, banyak mahasiswi yang menggemarinya. Hanya karena ia lebih cuek, itu tak begitu terlihat dalam hidupnya.
"Kamu tampan, Mas," celetuk istrinya.
"Apa? Coba bilang sekali lagi." Suaminya mendekatkan telinganya ke arah Hana.
"Kamu tampan!"
"Apa?"
"Kamu jeleeeek!!" seru istrinya meledeknya.
"Ish... awas, ya!" .
"Udah, Mas. Geli tau."
"Lagian ditanya apa malah jawab apa."
"Hehe... lagian aku juga gak ngarep kamu balas apapun, ko. Cukup lega aja sudah tahu siapa pelakunya. Itu sudah sangat cukup bukan?"
Suaminya menganggukkan kepala dan terkagum dengan sikap istrinya. Hari-hari memang tak ada yang pernah semuanya manis. Masalah tentu ada. Namun, bagi keduanya itu bukan halangan, tapi rintangan membawa pernikahan itu dalam ketenangan.
"Yasudah, kamu kembali ke kelas, yah. Belajar yang rajin," ucap suaminya.
"Berasa lagi jadi anak kecil yang habis dijagain Bapaknya."
Suaminya tersenyum. Dengan lembut, ia menyibakkan ujung poni istrinya, seraya bertutur, "Aku suamimu. Aku sudah berjanji di hadapan Tuhan akan menjagamu. Ini sudah bagian kewajibanku, Sayang."
***
"Alana... Apa yang kamu baca? Apa sebenarnya isi surat itu?" Tanya Bu Sri kembali memanggil Alana yang masih mematung dengan surat di tangannya.