"Sebentar, Bu."
Braaak!!
Sebuah buku jatuh dari rak tiba-tiba. Alana pun baru menyadari dinding yang selama ini disandarinya, ternyata kamuflase dari sebuah rak buku.
"Waaah. Ajaaaib. Apa ini semacam rak buku raksasa seperti dongeng-dongeng?"
"Bu.... Bisa tolong kesini?!" pekik Alana.
Bu Sri pun lantas membantunya.
"Tolong bantu Alana dorong ini. Tadi ada buku jatuh, entah tiba-tiba dinding ini terbuka sendiri, tapi hany sekotak lantai. Aku yakin kalau kita mendorongnya lagi, ada hal luar biasa lainnya."
"Ayo, Bu Sri! Bantu aku!"
Sontak, Bu Sri pun hanya turut mematuhi ajakan Alana. Entah bagaimana akan berakhirnya. Apakah memang ada sesuatu menakjubkan dibaliknya? Namun, kalaupun tidak ada, bagaimana mungkin tiba-tiba dinding yang disandari Alana terbuka seukuran kotak rak buku atau sekotak lantai yang menjatuhkan salah satu buku. Bukankah itu pasti ada maksud lainnya?
Alana masih merawat rasa penasarannya. Entah bagaimanapun, ia tak bisa diam begitu saja.
Orang-orang bisa mengatakan ikhlas dan tabah dalam satu waktu. Meskipun kenyataannya, tak ada yang benar-benar ikhlas dan tabah dalam sekejap waktu.
Waktu menjadi bahan bakar utama berbagai kejadian. Waktu pula yang menjadi saksi banyak kisah hidup seseorang. Termasuk berbagai kejadian dan pengalaman.
Alana berusaha mungkin tqk menyerah begitu saja. Ia bersama Bu Sri turut mendorong dinding itu. Seolah benar-benar yakin ada rahasia tersembunyi dibaliknya. Bagaimana mungkin semua hal ini begitu ia percayaikan?
"Aaah, akhirnya. Wow!"
"Menakjubkan! Surga tersembunyi."
"Lihatlah, Bu Sri. Sekarang Bu Sri tak perlu memikirkan lagi bagaimana membawakanku buku. Aku sudah menemukannya."
Bu Sri ikut tersenyum melihat senyum kegembiraan dari Alana.
Sebuah amplop berisi kertas putih jatuh tertiup begitu saja ke depan Alana. Alanapun membuka amplop itu dengan ragu-ragu. Disana tertulis pesan entah dari siapa dan untuk siapa.
Seseorang berusaha mengingat sesuatu. Kekawatiran, sangat lekat tumbuh di matanya. Sebagaimana seorang kekasih yang ingin selalu melindungi pujaan hatinya, Dia pun sama.
Begitu mendengar istrinya terlibat masalah, naluri cinta suaminya muncul. Padahal, keduanya menikah dan dipersatukan tanpa ikatan cinta sebelumnya.
Kalau pepatah berkata cinta akan terbiasa karena sering berjumpa, adakalanya bukan demikian. Cinta antar keduanya, tumbuh dengan kejujuran apa adanya. Bukan cinta lagi, namun bagaiman saling menyayangi. Melihat kekasih hati, sebagai orang yang disayangi. Bukan hanya meminta untuk dikasihi.
Begitulah seharusnya cinta bekerja. Tetap memberi, meskipun sebelumnya tak dikenali. Tetap menyangi dan menjaga sepenuh hati, apa-apa yang sudah dimiliki.
"Sebentar. Aku ingat sesuatu."
Si laki-laki itu mengambil ponselnya. Ia menselancarkan jemarinya yang panjang di layar ponselnya. Entah, mencari apa. Tak berapa lama kemudian, ia menemukan sesuatu.
Tanpa menunggu lama, ia tunjukkan sebuah foto pada laki-laki yang sudah mengaku itu.
"Apa ini orangnya?" tanya suaminya.
Tak perlu waktu lama, laki-laki itu menganggukkan kepalanya, "benar. Ini laki-laki yang sudah memerintahkanku."
Keduanya segera melihat foto di ponsel salah satu teman.
"Dia?!" seru keduanya.
"Ya. Aku langsung curiga ke dia saat tak sengaja melihatnya sekilas memakai warna biru saat pagi tadi aku mengantarnya."
"Tapi... kenapa dia melakukan ini semua?" tanya istrinya.
"Apa lagi kalau bukan dia cemburu?!"
"Ouh, aku tak pernah menyangka dia akan melakukan hal ini."
"Katakan padaku, apa yang membuatmu mengaku, hah? Apa ini juga rencana dia?" seru suami si perempuan itu menginvestigasi laki-laki di depannya itu.
Salah satu temannya terlihat kikuk. "Ehm, tentang itu... sebenarnya karena aku yang memaksanya mengaku."
"Kamu?"
"Aku pernah tak sengaja melihatnya dan dia berdua tepat di bawah ruangan kelasku."
"Aku sempat heran, kenapa mereka berdua tiba-tiba bisa akrab?"
"Tak lama kemudian, berita itu tersebar siang harinya. Entah kenapa, aku langsung terfikir saja menginterogasinya," papar istrinta.
"Kamu memang sama seperti ibumu. Pantas jadi jurnalis investigasi," ledeknya.
"Sekarang, aku sudah boleh pergi?" ucap laki-laki bertopi itu.
"Ingat. Berpura-pura saja kami tak menangkapmu."
"Kenapa?"
"Aku ingin kamu tak diancam atau apapun."
"Tapi... bagaimana?"
"Tenang saja. Kalau kamu sedang butuh uang untuk pengobatan ibumu, aku siap membiayainya. Ini kontakku. Kamu bisa menghubungiku," ucap Tirta tegas.
Laki-laki itu berkaca-kaca. Ia tak menyangka justru dengan mengakui kesalahannya, ia mendapat nikmat tak terduga.
"Tapi... kamu tak menyuruhku berbuat aneh kan? Jujur, saya takut berurusan dengan laki-laki itu. Saya berencana akan mengganti nomor ponsel untuk menghilangkan jejak," laki-laki bertopi itu nampak ragu.
"Tenanglah. Aku tak memintamu banyak, kok. Aku tulus membantu ibumu yang sakit. Bagus kalau tak mau berurusan lagi," ucap suaminya.
Laki-laki bertopi itu menganggukkan kepala, dan berlari menaiki anak tangga.
Istrinya tersenyum bangga melihat sisi lembut Tirta. Tirta yang semula dikiranya amat sombong, ternyata memiliki jiwa sosial yang tinggi.
"Heh, ngapain senyum-senyum?" tegur suaminya melihat istrinya.
"Eghem! Aku juga naik ke kelas dulu, ya. Obrolan selanjutnya biar untuk 20+!" ledek temannya.
"Heh! Kamu juga sudah 20+!"
Akhirnya, tanpa menunggu lama pelaku foto itu tertangkap. Cinta pun makin tumbuh di antara keduanya.
Tak ada yang benar-benar baik-baik saja di dunia ini. Yang kita kira baik, bisa jadi hanya karena ingin terlihat baik. Pun, yang kita nilai buruk, bisa jadi karena tak ingin kebaikannya dipedulikan orang lain.
Lalu, batas mana seseorang berhak menilai sesuatu baik atau tidak? Sampai di mana kewajaran kita bersikap sebagai pemaafan sesama manusia?
Dengan segenap rasa kesal dalam hati, Suaminya sedikit berlari. Sorot matanya yang tajam itu seakan ingin menyergap apapun di depannya. Namun, untung saja ia punya mata tak hanya tajam, tapi juga teduh di dalamnya.
"Hati-hati jalannya. Yang tenang, Sayang," pinta Hana sambil terus berjalan dalam genggaman tangan suaminya.
"Aku tahu. Tapi aku gak akan biarin laki-laki itu tak mendapat pelajaran!" gerutu suaminya sembari terus mencari sosok yang sedang dicarinya.
"Iya, tapi... bagaimanapun juga dia sahabatmu, 'kan?"
Pertanyaan itu ternyata malah menjedakan langkah Tirta tiba-tiba. Hal yang semula dikawatirkan istrinya, kini malah bertambah kawatir.
Diamnya suaminya di hadapannya, cukup membuat detak jantungnya tak karuan. Ia takut suaminya itu marah.
Sambil memegang lengan atas istrinya, suaminya itu melebarkan ujung bibirnya. Terkembang senyum khas laki-laki dewasa yang ingin menangkan pasangannya.
"Apa, Nak? Apa yang tertulis di surat itu? Benarkah itu sebuah surat yang memiliki pesan tertentu?" Bu Sri pun turut menunjukkan wajah antusias dan rasa penasarannya.
Alana masih melihat isi surat itu. Entah, apa yang sebenarnya ia bayangkan. Bulir keringat mengucur dari pelipisnya ke pipi sampai dagunya. Kembali, ia belum menjawab apapun dari pertanyaan Bu Sri. Entah bagaimana yang sebenarnya disembunyikannya. Atau memang ada isi kelanjutannya dari surat itu yang membuat Alana terkejut dan diam?