"Entah kenapa aku jadi kepikiran ini, Bu," ucap Alana menuturkan dengan tatapan mata yang sedikit sayu itu.
"Apa, Nak? Katakan saja."
"Sebenarnya siapa aku? Apa yang mau kulakukan dalam hidup? Lalu untuk apa selanjutnya hal itu?"
"Pertanyaan yang bagus."
"Alana kepikiran mau ngelakuin apa memangnya, Nak?"
"Mendengar Bu Sri menceritakan kisah, rasanya Alana pengin banyak baca buku juga. Tapi... apa ada buku di sini? Gimana caranya bisa baca?" Bibirnya manyun berpasrah diri.
"Tenang, semua hal baik pasti diperjalankan menemukan caranya."
"Iyakah? Lalu?"
"Sekarang, Bu Sri ambilkan makan dulu, dan kamu mandi. Yaah? Nanti Ibu carikan juga cara gimana dapetin buku-buku untukmu."
Alana tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Siap, Bu Sri!"
"Bagus. Tetap semangat, yah."
Alana kembali menganggukkan kepala.
Di dunia ini, memang penuh dengan sakit dan ketidakpastian. Meskipun dalam beragam rupa bentuknya. Kita pernah merasa bahwa suatu hal itu baik, tapi ternyata diambil oleh Tuhan begitu saja.
Saat itu, barangkali kita lantas refleks merasa sakit dan kecewa. Terus bertanya kenapa dan kenapa. Mengapa Tuhan mengambil semua hal itu? Kenapa Tuhan begitu tak adil padaku? Dan segala perkataan sakit dan kecewa semacamnya.
Padahal, konsepnya selalu sama. Pada satu keadaan lainnya, kita percaya segala yang ditakdirkan atau direncanakan Tuhan, pasti itulah yang terbaik. Tak ada yang bisa memungkiri hal itu.
Bisa diambil contoh, kisah sepasang kekasih misalnya. Ketika sepasang kekasih itu merasa bahagia karena bisa berjalan berdua. Menghabiskan waktu bersama, tapi suatu ketika harus berpisah. Apakah perpisahan itu indah? Tidak juga, pasti ada kesakitan di dalamnya.
Tak dipungkiri, pasti saat itu juga kita merasa sakit dan semacamnya. Namun, apakah dengan hanya meratapi hal itu kita akan kembali melanjutkan hidup?
Sepertinya tidak. Dengan segala kesakitan dan kekecewaan, kita mencoba terus berjalan. Terus berjalan bagaimanapun keadaannya. Entahlah.
Lalu, waktu jadi saksinya. Ternyata, pertemuan dan perpisahan begitu dekatnya. Orang itu kembali datang padamu. Meskipun dengan perasaan dan suasana yang berbeda. Hari itu, kamu menyadari satu hal; Tuhan selalu perencana yang terbaik. Tuhan selalu adil.
Ya, waktu dan kecewa jadi penempa jiwamu agar lebig kuat dan sabar dalam berbagai hal. Satu momen dan keadaan yang akan membuat kembali pertemuan sepasang kekasih itu menjadi lebih baik. Toh, kepercayaan kembali hidup; segala takdir Tuhanlah yang terbaiknya.
Perasan memiliki dan kehilangan menjadi begitu dekatnya.
Pernah begitu merasa bahagia karena seseorang? Aku pun pernah. Pernah begitu merasa sesak karena kepergian seseorang? Aku pun sama. Pernah merasakannya.
Hari-hari yang semula hanya berwarna abu, tiba-tiba berubah penuh warna semenjak ada kamu. Apa yang kulakukan, terasa lebih hidup, karena katamu semangat hidup tak boleh redup.
Ya, semangat. Aku menemukan satu kata itu begitu dahsyat bisa membangmitkan hari-hariku. Pekerjaanku terasa menyenangkan, meskipun aslinya merepotkan. Tak ada kosa kata susah, karena tiap hari kita saling support system dalam kebaikan.
Sesekali keluar bersama. Melihar semesta lebih luas. Kau berjalan di depanku dan aku membawa helmmu di sampingmu. Langkah kita beriringan. Terik panasnya mentari, seolah tak berarti. Bayang-bayang yang menemani, menjadi seolah tersenyum manis pada kami. Kau bertanya kenapa? Entahlah, kadang-kadang aku sendiri tak bia menjelaskannya kenapa.
Bahkan, saat orang lain bertanya kenapa kamu bisa mencintainya? Sekarang aku tergugu. Kenapa, ya? Sambil tersipu malu. Rasa-rasanya semakin aku ingin menjelaskan kenapa, kosa kata di kepalaku langsung membeka. Yaaa karena aku sayang kamu. Itu saja gapapa kan?
Sejenak, waktu terasa berhenti hanya untukku dan dirimu. Kebahagiaan menjadi satu hal yang tak perlu dipertanyakan lagi. Asal bersamamu, sudah, itulah bahagia itu. Kamu tersenyum lebih sering membuatku tertawa, sedangkan aku? Tersenyum mendendangman doa baik untuk keselamatanmu. Hari itu, aku merasa menjadi orang paling bahagia.
Sayangnya, waktu menjedakan itu. Aku paling belum bisa berdamai dengan kepergian. Meskipun aku tahu, kamu bakal pulang, bukan pergi. "Nanti kembali lagi 'kan? Kamu hanya merantau jauh 'kan?" tanyaku dengan penuh kecemasan. Entahlah, kenapa aku jadi seperti anak-anak yang begitu tak ingin kehilangan. Padahal, dia masih di sisimu. Kamu pun menertawai cemasku, "Kamu lucu. Sudah sore, saatnya pulang. Makasih ya, sudah kawatir."
Aku menyerahkan kembali helm birumu. Sekarang, kau bersiap pulang. Meninggalkan bayang-bayang. Menanggalkan segala kenang. Ada perasaan sesak yang selalu kupertanyakan setiap momen seperti ini muncul. Seolah aku terbawa dalam kesadaran lain, "Aku tahu kamu hanya pulang, bukan pergi. Tapi kenapa terasa begitu menyesakkannya?" "Seolah aku telah memiliki perasaan itu dan tak rela kehilangan perasaan bersama dan membersamai segala suka duka?"
Waktu kembali jadi saksi perjalanan manusia. Hari ini, bukan hari yang penuh warna. Bukan pula menjadi abu, tapi berubah dua warna. Hitam dan putih. Kini aku dihadapkan kenyataan, aku dan kamu harus ada dalam ranah makna perpisahan. Meskipun katamu, tidak ada makna perpisahan, bila kita mencintai dengan jiwa, bukan sekadar mata.
Aku yang merasa begitu kehilangan, tak pernah sekali waktu langsung memaknai kata-katamu. Bagaimanapun aku harus pergi? Kamu pun harus pergi? Apa artinya hari-hari kemarin kita saling seiring? Kenapa waktu jadi seolah-olah mengambil tebak-tebakkan yang menyebalkan? Hah! Kenapa tak ada cara yang bisa kita temukan, untuk tak menginjak kata perpisahan? Ah, kata kehilangan? Ya, jika kamu tak menyetujui makna perpisahan.
Entha bagaimana, aku telah kehilanganmu. Ya, sekalipun memang benar adanya. Yang hilang hanya kebersamaan fisik, tidak saling komunikasi, tidak saling bertukar ide, tidak saling membercandai hal-hal remeh dalam kehidupan, dan yaaa demikianlah. Namun, aku akui. Kamu masih di sini. Bahkan, lebih kuat berada di sini.
Kamu telah menjelma dalam bentuk lainnya. Saat hujan, aku tak lagi membayangkan kamu yang berteduh di sampingku, tapi cukup mendoakan segala keselamatan untukmu. Saat terik dan lelah menerpa, aku malu untuk berkeluh panjang. Sebab katamu, hanya dengan semangat kebaikan lainnya, manusia bisa begitu mengagumkannya.
Hai, kamu apa kabar? Baik-baik di sana, ya. Seperti katamu, hakikatnya perihal sakit bukan aku sendiri yang merasakannya, tapi kamu juga. Namun, kesatuan diri kami telah memutuskan demikian. Menjauh, dengan atau tanpa alasan. Apa itu perasaan memiliki? Apa itu pedihnya kehilangan? Aku jawab dua tanya itu dengan satu kata, "Karena kita percaya."
"Bu Sri...," panggil Alana.
"Iya, Nak?"
"Sebentar, yah."
"Iya. Ibu tunggu di luar, yah. Ibu sudah siapkan makanannya."
"Terima kasih, Bu."
Alana terlihat sedang membuka sebuah dinding atau ruangan entahlah apa. Tangannya berusaha menggeser sekuat tenaga. Keringat di pelipisnya, tak dipungkiri bahwa ia sudah melakukannya berkali-kali. Entah, ia begitu penasaran apa yang ada di balik ruangan atau dinding itu?