Part 17 - Kisah Selesai dan Pertanyaan Alana

1146 Kata
"Ihhh!" Sebuah cubitan melayang begitu saja ke pinggang Tirta. "Aww!" "Makanya udah sana mandi!" "Ssst... Ini minum dulu. Keburu dingin." Tirta mengambil gelas berisi minuman yang dicampur madu buatannya. "Apa ini, Mas?" "Minuman madu. Biasa aku minum saat perut kosong. Cobain deh. Emang kamu gak pernah coba." "Uhm... Enggak sih." "Baca mulu sih!" "Aku cobain, ya." Tirta mengangguk sambil memandang wajah Hana yang lembut, "Gimana?" "Uhm, lumayan." "Yaudah, sana lanjutin! Mau berangkat kuliah 'kan?" Hana menganggukkan kepala. *** (POV Hana) "Hari ini kuliah pertamaku setelah menikah, tapi aku merasa ada yang berbeda," gumam Hana. "Kenapa? Ada yang kamu pikirin?" tanya Tirta melihat Hana merapikan tali sepatunya. "Ndakpapa ko." "Kamu gapapa kan sementara tinggal di sini? Nanti baru pindah ke rumah kamu sore ini atau besok," ucap Tirta seraya mengecek sepeda motornya. "Iya. Aku manut kamu aja, Mas." Tirta tersenyum. Diulurkannya tangannya pada istrinya. Hana tergugu melihat sikap manis Tirta. "Yuk. Kenapa masih bengong? Kita berangkat bareng." "Serius? Tapi kan kamu mau kerja, Mas." "Yaiya. Untuk sekarang dan seterusnya aku bakal antar jemput kamu biar aman. Wajar kan? Seorang suami ingin menjaga istrinya. Hum?" Hana tersenyum. Rambutnya yang kemerahan ditutupnya helm oleh Tirta. "Kamu pede dengan penampilanmu?" celetuk Tirta. "Maksudnya apaan yah?" Hana mulai kembali kesal. "Jangan sewot dulu. Aku kan cuma nanya. Mastiin istriku nyaman." "Aku pede-pede aja tuh." "Baguslah. Kita berangkat sekarang. Siap?" Hana menganggukkan kepala. Meninabobokan segala cemas dan curiga. "Gamau pegangan? Aku mau ngebut," tutur Tirta. Hana menarik ujung jaket Tirta. Namun, begitu Tirta menambah kecepatan sepeda motornya, Hana terpental ke belakang. Ia hampir saja jatuh. Tangan Tirta yang refleks menahannya. "Makanya pegangan yang bener. Yah? Biar aman." Tirta meraih kedua tangan Hana perlahan. Dilingkarkannya ke pinganggnya. Hana hanya menuruti seperti anak kecil yang dituntun kasih ibunya. "Nah... pegangan yang erat. Mengerti?" Hana menganggukkan kepalanya. Semilir angin menambah syahdu romansa sepasang pengantin baru. Karena takut kembali jatuh, Hana mulai memiringkan kepalanya perlahan. Ia mendekatkan kepalanya ke punggung Tirta. Sesekali terpejam matanya. Menikmati udara jalanan menuju kampusnya. Merasakan aroma tubuh suaminya lebih lekat dari biasanya. Sementara itu, di balik kaca helmnya, Tirta tersenyum bahagia. Ia perhatikan perempuan berharganya itu lewat kaca spionnya. Sesekali tangannya memastikan ia tak tertidur. "Kamu lucu kalau kegitu," gumam Tirta. "Apa?" Tak disangka Hana mendengarnya. "Emang aku boneka lucu." "Telingamu peka banget sih. Jadi takut deh." "Makanya kalau mau ngomongin aku jangan deket-deket. Jarak radius aman," kelakar Hana. "Haha... gitu cara ngomong yang baik sama novelis?" Hana refleks mencubit pinggang Tirta saking kesalnya. Diiringi senyum yang terkembang setelahnya. "Kamu tuh ya. Ngeselin." "Ngeselin tapi suka kan?" "Kenapa bisa suka coba. Padahal kamu kesel banget sama aku kan?" "Gatau nih. Kayaknya sih aku lagi kena hipnotis," canda Hana seraya memegangi pipi dan dahinya. Memastikan dirinya sadar sesadar-sadarnya. "Ih apaan sih. Iya dihipnotis. Hipnotis cinta pria tampan dan gagah berani serta berwibawa bernama Tirta," jawab Tirta dengan nada sombongnya. "Pede!! Wee!!" ledek Hana. "Udah, ah. Sampai nih. Kamu siap?" "Hum?" "Di depan jalanan ini, pasti orang-orang akan memerhatikan kita. Di antara orang itu, pasti ada yang tak suka kita. Kamu siap?" Hana seperti merasa ragu. Matanya memerhatikan lalu lalang mahasiswa yang berjalan di sepanjang jalanan menuju kampus. Hana kembali mengarahkan pandangannya ke mata suaminya. "Aku ragu apakah aku bisa?" "Aku antar kamu." "Yakin?" Tirta tersenyum tenang. Rambutnya yang dulu gondrong kini tampak terlihat lebih rapi. Aroma tubuhnya juga wangi menenangkan hati. Tirta meraih jemari Hana. "Kalau kita pegangan seperti ini, kamu lebih tenang?" Hana melirik Tirta di sampingnya. Ia awalnya ragu, tapi tak bisa menafikan bahwa ia merasa tenang dengan sikap dan perlakuan manis Tirta padanya. Hana menganggukkan kepala. "Ok. Aku punya perjanjian biar kamu ndak ragu." "Apa?" tanya Hana penasaran. "Apapun yang nanti terjadi sepanjang jalanan ini sampai ke depan kelas kamu, jangan pernah lepasin genggaman tanganmu. Apapun," jelas Tirta. "Kenapa?" "Biar kamu yakin. Ada yakinku di atas ragumu. Ada kekuatanku, di atas kamu merasa lemah. Ada aku yang akan menjagamu, di saat kamu merasa takut." Ucapan Tirta memenuhi keraguan hatinya menjadi tenang seketika. Hana refleks mengembangkan senyumnya nan manis. "Siap?" tanya Tirta. Hana menganggukkan kepalanya. Manut. "Ok. Ayo kita berjalan santai biasa saja. Aku akan mengantarmu sampai ke depan kelas. Ok?" Hana kembali menganggukkan kepalanya. "Oh ya satu lagi, jangan menoleh ke belakang." "Kenapa?" "Biar kamu lebih tenang. Percayalah." "Memang bisa begitu?" Tirta melebarkan senyumnya. Tangannya merapikan ujung poni rambut Hana. "Ya. Kamu yakin sama aku kan?" "Baiklah. Aku ikuti semua saranmu. Kita jalan sekarang?" "Ya." Tirta dan Hana mulai melangkahkan kaki. Terlihat mahasiswa dan mahasiswi mulai memerhatikannya. Tak sedikit yang meracauinya. "Heh! Lihat! Siapa yang gandengan itu? Itu bukannya Tirta, pengusaha kaya itu ya? dan Hana?" "Iya. Itu emang mereka, kan emang baru nikah. Kenapa?" "Kok sok romantis gitu sih. Itu ceweknya gatau diri banget. Gak cocok sama Tirta. Mending cocokan sama aku. Iya nggak?" Beberapa obrolan sekelompok mahasiswi mulai mencecarnya. Hana yang telinganya sangat peka, mendengarnya. Ia menghentikan langkahnya sejenak. Matanya berhenti menatap ke depan. Ia menundukkan wajah. "Kenapa, Sayang?" panggil Tirta. Hana kembali mengangkat wajahnya. Menegarkan dirinya baik-baik saja. "Aku gapapa, ko. Kita jalan lagi?" ucap Hana dengan senyum yang dipaksakan terkembang. "Ssst... kamu sedih?" "Ndak. Aku cuma harus lebih menatap ke depan biar tenang bukan?" Tirta tersenyum melihat ketabahan perempuan di depannya. Ia mulai membaca berbagai aura positif yang terpancar darinya. Yang mana Tirta tak pernah membaca sebelum ia memutuskan menikah dengan Hana. Tirta mengeratkan genggaman tangannya. "Biar kamu makin yakin." Ucapnya. Tirta dan Hana kembali melangkahkan kaki. Mereka berdua hampir sampai di ujung pintu utama menuju kampusnya. "Hei! Pasangan pengantin baru. Cieee!! ucap Nia mengagetkan Tirta dan Hana dari samping. "Eh, Ni. Ngagetin aja. Kirain udah di kelas." "Belum. Tadi telat, beburu tapi heran kenapa orang-orang pada liatin apa. Pas aku jalan eh taunya ada kalian. Pantesan pada liatin," cerocos Nia. "Pantes apa?" "Pantes bikin iri! Haha. Kalian pasangan termanis hari ini." Lanjutnya. "Cuma untuk hari ini?" ucap Tirta. "Ouwh... selamanya lah. Semoga kalian langgeng terus, ya. Aku duluan aja biar jomblo kayak aku gak pingsan lihat kalian. Daaah!!" ledek Nia berlarian meninggalkan Hana dan Tirta. "Tuh kan liat. Masih ada orang-orang yang tulus menyayangi kamu. Beruntung," tutur Tirta. "Ya. Kamu benar. Nia itu sahabat lamaku. Udah lama banget. Aku beruntung punya sahabat sepertinya, meskipun bawelnya kadang minta ampun," celetuk Hana. "Oh ya? Aku kira lebih bawel kamu!" ledek Tirta. "Ih. Enggak kali. Kamu yang bawel!" balas Hana. Mereka berdua saling bercanda di bibir pintu masuk utama kampus. Tak jauh dari Tirta dan Hana berdiri, ada orang yang memerhatikan mereka. Ya, orang itu memandang dengan tatapan yang berbeda. Sebuah tatapan sinis itu, kian terasa menyeramkannya. Hana dan Tirta tak melihatnya. Namun, tatapan penuh kebencian itu seperti ingin mencelakai mereka. Siap menerkamnya. "Lihat saja kau, Tirta! Tunggu pembalasanku!" ucap Adi. *** "Selesaaai!" ucap Bu Sri. "Udah?" "Ya. Bukankah hanya ingin mendengar bagaimana mereka menikah?" "Iya sih. Tapi aku jadi punya tiga pertanyaan nih, Bu," tutur Alana sembari jarinya menyanggah dagu. Seolah memikirkan sesuatu. "Apa itu, Nak?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN