"Ya. Memang saat itu dia menghianatiku begitu miris. Namun, bukankah itu baik? Setidaknya Tuhan masih menjagaku untuk tak berlama-lama menjadi istri laki-laki tak setia sepertinya."
"Ya. Seharusnya aku bahagia kan, Bu?" Hana berkaca-kaca mengucapkannya. Bulir mata memang tak jatuh kembali. Namun, Ibunya seperti bisa merasakan betapa hati anaknya sangat pilu.
"Hana sudah berusaha menerimanya. Namun, dengan cara inilah Hana berusaha membalut itu semua. Aya tak ingin menyimpan nama laki-laki sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi."
"Setidaknya, kalaupun hal itu terulang kembali, aku tak punya ingatan banyak tentangnya. Karena aku tak pernah menyimpan namanya."
"Dalam waktu sekarang ini, aku lebih takut menyimpan daripada merelakan, Bu."
"Ibu mengerti kan sekarang?" Hana merebahkan tubuhnya di pangkuan Ibu.
"Ssst... sudah, Nak. Ibu mengerti. Maafkan Ibu membuatmu menangis."
"Ibu tak perlu meminta maaf. Hana masih beruntung masih ada Ibu yang bisa dengarkan keluh dan duka Hana."
"Hana yang minta maaf belum bisa menunaikan pesan Bapak."
"Sudah, Nak. Bapak di sana pasti bahagia, kalau melihat putrinya bahagia. Semoga keputusan yang kamu buat ini, bisa jadi jalan bahagiamu, Sayang."
"Aamiin. Terima kasih sudah mengerti, Bu." Hana memejamkan mata di pangkuan Ibunya. Seperti anak kecil yang sangat merindukan kasih sayangnya.
Dalam benaknya sebenarnya bertanya-tanya, "Apa benar ini keputusan yang akan membahagiakanku?" "Apa yakin aku bisa menikah dan mencintai orang yang bahkan tak ingin kusimpan namanya sama sekali? Entah kenapa sekarang aku merasa yakin dan ragu dalam satu waktu."
***
Dua bulan kemudian...
Hari itu tiba. Hari dimana penantian jadi hal yang harus dilakukan. Apakah hari itu juga dinantikan kedua orang itu?
"Sejak aku bertemu dengannya, hanya kebencian yang kurasa, dalam sekian bulan, takdir memerjalankanku menikah dengannya. Ya Rabb, apakah ini yang terbaik?"
"Nak... kamu sudah siap?"
"Iya, Bu."
"Nia dimana?"
"Tadi dia di belakang, Bu. Mungkin bentar lagi kesini."
Baru saja dikatakan, perempuan berwajah ceria itu hadir dengan senyum sumringahnya.
"Hana! Aku akan di sampingmu."
"Bu..." sapa Nia sambil mencium tangan Laras, Ibunya Hana.
"Nak... doakan Hana, yah?" pinta Ibunya Hana.
"Iya, Bu. Aku akan selalu doain Hana yang terbaik."
Dari jarak beberapa meter, suasana meriah memenuhi pandangan mata Hana. Berbagai tamu datang menyambut hari pernikahan itu. Hari pernikahan dua orang yang sama sekali tak tertebak akan menikah.
Tirta, laki-laki karismatik yang dikenal sangat misterius di kampusnya. Pintar, cukup diidolakan banyak perempuan di kampusnya. Meskipun begitu, Tirta tak peduli segala hal tentang ketenaran.
Hana, perempuan pecinta novel yang sama sekali tak menyukai sosok seperti Tirta. Entah takdir mana yang memerjalankannya menjalani pernikahan itu. Keyakinan, barangkali semacam energi terbesarnya memutuskan pilihan berat itu.
Kabar pernikahan Hana dan Tirta menjadi buah bibir hampir di seluruh kampus. Hana, mahasiswa berprestasi yang populer juga sangat diincar para laki-laki di kampusnya. Tak terkecuali oleh sahabat Tirta sendiri, Adi.
"Gila! Tega kau!" gerutu Adi, melihat Tirta yang sedang bersiap mengucapkan ijab qabul di depan penghulu.
Rambut Tirta yang awalnya gondrong, sedikit dipotong, tapi masih terlihat panjang. Hanya saja kini lebih nampak rapi. Rahang tegas dan hidung mancungnya adalah suatu padu padan ciptaan Tuhan yang sangat elegan.
Matanya tajam tapi teduh. Hanya bibirnya yang cukup pelit untuk tersenyum. Ia terlihat monoton, jarang sekali nampak ceria. Entah apa yang membuat mahasiswi di kampus begitu tergila-gila pada sosoknya.
"Gue gak nyangka. Diam-diam lo nusuk gue dari belakang, Tir!" Adi terus menggerutu sedemikian rupa. Menatap Tirta yang sebentar lagi akan mengucapkan janji sakral itu.
"Nak... kamu terus berdoa, ya. Sebentar lagi Nak Tirta akan mengucapkan janji." Pinta Ibunya.
"Iya, Bu."
Hana memandang Tirta dari kejauhan. Wajahnya teduh, meskipun tak tersenyum. Ada aura berbeda yang dilihatnya hari ini. Bukan Tirta yang menyebalkan. Pun, bukan Tirta yang seperti jadi musuh bebuyutan.
"Ya Rabb, jika dia yang terbaik bagi dunia dan akhiratku, lancarkanlah."
Para hadirin dan tamu undangan juga mulai lebih khidmat. Menanti janji suci itu diikrarkan Tirta. Nuansa berdebar itu barangkali merasuk siapa saja yang melihatnya. Kecuali Adi.
Dia masih mematung kesal melihat sahabatnya itu. Gerutu di wajahnya kian kentara begitu Tirta mulai mengucapkan ijab qabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hana Amalia binti Herman Nugraha dengan mas kawin dan perlengkapan sholat tersebut dibayar tunai," dengan lancar, Tirta mengucapkan janji suci itu.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!!"
"Alhamdulillah...."
Doa dilantunkan penghulu dan diaamiinkan para hadirin yang datang di sana. Kecuali Adi, yang tak mengangkat tangan. Wajahnya kian beringsut kecewa.
Ia masih mematung melihat suasana yang dibencinya itu.
"Alhamdulillah, Nak. Sekarang kamu sudah sah menjadi istri Nak Tirta," ucap Ibunya.
Hana menitikkan bulir mata. Entah, apa yang kini sedang dirasakannya.
"Nak... kamu ndakpapa?" tanya Ibunya.
"Hana ndakpapa, Bu. Hana hanya lega."
"Syukurlah. Sekarang siap-siap, ya. Sebentar lagi kamu duduk di samping suamimu."
"Iya, Bu."
"Jaga dia baik-baik, Nak. Suamimu adalah pakaian bagi istrinya. Demikian juga sebaliknya."
Sebuah nasihat yang sering Hana baca di novel-novel romance itu, kini ia dapatkan di kehidupan nyata. Ibunya dan Nia mengantarkan Hana duduk di samping Tirta, begitu doa selesai dipanjatkan.
Tirta memasangkan cincin pernikahan di jemari Hana. Begitupun Hana yang memasangkan cincin pernikahan di jemari Tirta.
Hana memandang sebentar wajah suaminya. Tak lama kemudian menunduk khidmat. Mencium tangan suaminya. Sebelum Tirta menyuruhnya mengangkat wajah, Hana tak menegakkan tubuhnya.
Begitu Tirta memberikan kode untuk menyudahi, Hana menegakkan tubuhnya kembali. Tirta belum mengucapkan satu kata pun pada istrinya.
Ia memandangi Hana. Perempuan yang juga sempat membuatnya kesal bukan main. Bedanya, ia tak terlalu ambil pusing.
Beberapa saat kemudian, Tirta mendekat ke wajah Aya. Ia mencium kening Hana dengan penuh khidmat. Seketika, hadirin dan tamu yang melihatnya, sontak membuat baper dan gemuruh
"Wuuuuu so sweet."
"Selamat, Cucu Socrates!!" teriak salah seorang kawan Tirta yang datang. Meskipun pernikahan itu begitu tiba-tiba, tapi tak menyurutkan kawan seangkatannya hadir.
Sontak, gerombolan makhluk aneh teman sekelasnya itu pun memenuhi riuh suasana.
"Cuit... cuit!! Bentar lagi ada yang jadi filsuf beneran nih!" celetuk kawan lainnya.
Tirta menengok ke sumber suara sekilas. Ia tersenyum berterima kasih melihat antusias teman-temannya yang turut hadir menyempatkan waktunya. Tirta kembali ke hadapan Hana.
Ia menatap mata Hana dengan tatapan penuh tanda tanya. Degup jantung yang kian terasa antar keduanya. Hana sempat menunduk, tapi ditegur Tirta dan kembali mengangkat wajahnya.
"Kenapa nunduk?" ucap Tirta memerhatikan perempuan yang kini sudah jadi ratu bagi hidupnya.