Part 14 - Bagaimana Cerita Bertumbuh

1049 Kata
"Lalu? Apakah Hana menjadi sepasang kekasih?" tanya Alana pada Bu Sri. "Ya. Bahkan menikah." "Kok bisa?" "Ya. Bisa saja." "Bagaimana? Coba ceritakan lagi, Bu!" pinta Alana dengan mata membulat. "Baiklah. Dengarkan Bu Sri, ya." Alana menganggukkan kepala. Bu Sri mulai kembali menceritakan bagaimana kelanjutannya mereka sampai menikah. *** Ketika banyak orang memutuskan menikah karena cinta, tapi tidak dengan Hana. Perempuan cerdas, dan idaman laki-laki pada umumnya. Namun, entah kenapa kisah cintanya selalu tragis dan berakhir memilukan. Berangkat dari hal itulah, Hana mulai membuat keputusan tak terduga. Ia merelakan diri menikah karena Ibunya yang memercayakan sosok laki-laki—yang menurutnya baik. Entah, perasaan apa yang membuat Hana yakin memutuskan hal itu untuk pernikahan. Ibunya tak pernah memaksanya sama sekali, Hana memutuskannya sendiri. Absurdnya, laki-laki itu adalah seseorang yang pernah begitu dibencinya. Dialah Tirta. Bagaimana mereka berdua menjalani lika-liku pernikahan yang sama sekali tak diawali dengan jatuh cinta seperti pada umumnya? Apa sebenarnya hakikat cinta dan mencintai? Apa persepsi tentang cinta selama ini keliru? Han, baru pulang, Nak?" Sosok suara nan lembut menyapa Hana. Tak lain adalah Ibunya. "Iya, Bu. Maaf, ya agak telat. Hana beli ini!" Sambil menunjukkan seplastik buah jeruk untuk Ibunya. "Ini buat Ibu, lo. Ibu suka kan?" "Iya. Terima kasih, ya." "Sama-sama Ibuku yang cantik." "Nak..." "Ada apa, Bu?" "Ibu pengin bilang sesuatu ke kamu, Nak. Duduklah..." Hana pun duduk. Disusul Ibunya yang juga duduk di sebelahnya. "Ada apa sih, Bu? Tumben." Hana bertanya dengan wajah seperti biasanya. Ceria. Tak ada raut sedih yang mengganggunya. "Nak, kamu baik-baik saja?" "Maksud Ibu?" "Apa benar kamu baik-baik saja?" "Memangnya Hana kelihatan pucat, ya?" Sontak, Hana mengambil ponselnya. Dan menatap dirinya di kamera ponsel. Memastikan wajahnya tak terlihat pucat. "Hana baik-baik aja kok, Bu." "Hmmm." "Ada apa, Bu? Ibu sebenarnya kenapa?" "Terkait ucapanmu kemarin, Nak. Apa kamu yakin?" "Apa alasanmu akan menikah sesuai pilihan Ibu? Bukannya dulu kamu sendiri yang bilang tak ingin Ibu ikut campur? Kamu bisa menentukan pilihan sendiri?" Hana menunduk sekilas. Namun, bukan menangis. Melainkan mengambil napas panjang. Seolah menyiapkan energi untuk menyampaikan sesuatu. "Bu... Ibu sayang Hana, kan?" "Tentu, Sayang. Tak ada Ibu yang tak menyayangi anaknya." "Itulah jawabannya. Hana sadar. Barangkali selama ini Hana kurang mendengarkan nasihat Ibu." "Dan... tentang jawaban Hana kemarin. Hana sudah yakin, ko. Hana yakin sepenuhnya pada pilihan Ibu. Hana cuma...," ia menjedakan suaranya. Seolah menantik sesuatu hal. "Kenapa, Nak?" "Nggak papa, Bu. Hana cuma pengin hidup lebih tenang. Pengin menyederhanakan sesuatu. Barangkali ini langkah terbaiknya untuk masa depan cinta Hana, Bu." Hana menjawabnya dengan nada cukup tegas tapi juga lembut. Tak ada bulir mata satu pun yang jatuh dari mata bulatnya. Ia tetap menarik garis senyum paling bahagia. "Apa kamu bahagia dengan pilihan ini, Nak? Bagaimana kalau nanti menyesal?" "Ehm... Hana yakin. Hana tak akan menyesal dengan pilihan Ibu." "Kenapa begitu yakin? Sementara Ibu mencemaskanmu, Sayang. Kalau belum siap, tak apa. Ibu tak akan memaksamu menikah dulu. Nunggu kamu wisuda juga tak apa." "Ibu tak akan menyuruhmu menikah muda, seperti Ayahmu dulu. Itukah yang membebanimu, Sayang?" Hana menarik ujung bibirnya lebih panjang. Terlukis garis senyum lebih sempurna. Dengan percaya diri yang entah dipaksakan atau tidak, Hana menjawabnya begitu tenang. "InsyaAllah, Hana memutuskan menikah kali ini bukan karena itu, Bu. Ini pilihan Hana sendiri. Hana cuma berpikir, ini mungkin akan lebih baiknya." "Dan Hana siap. Siapapun laki-laki yang Ibu pilihkan. Hana yakin, Ibu mau menyarankan laki-laki itu, pasti karena berbagai pertimbangan bukan?" "Tentang siapa dia? Kamu yakin?" Raut wajah Ibunya kian terlihat cemas. Alisnya berkerut memandangi putri semata wayangnya. "Ya. Hana yakin. Ibu juga gak pernah sebelumnya menyarankan laki-laki pada Hana bukan? Entah kenapa Hana merasa yakin." "Cuma dengan cara ini Hana yakin tak akan sedepresi dulu. Hana tak perlu menyimpan banyak nama yang nanti hanya akan makin menyesakkan." "Bagaimanapun, Ibu tak ingin kamu merasa terpaksa, Nak." "Hana tak merasa terpaksa. Keyakinan sepenuhnya pada pilihan Ibu. Rasanya sakit sekali mengingat orang yang pergi, tapi tak pernah menetap di hati. Semoga keputusan Hana tepat." "Bahkan sampai sekarang. Hana masih belum bisa benar-benar baik-baik saja kala teringatnya." Hana menunduk. Seolah tak kuat mengingat berbagai kisah patah hatinya. Meskipun ia bisa terlihat begitu ceria, tapi sebagaimana manusia pada umumnya. Pasti ada hal yang bisa membuatnya terenyuh. Hana tak pernah main-main dalam urusan cinta. Selama perjalanan cintanya, ia pun berusaha menjadi kekasih yang baik. Pengertian, setia, dambaan laki-laki pada umumnya. Namun, nasibnya memang tak tertebak sama sekali. "Ibu ingat kan? Saat kekasih Hana pertama dulu, bagaimana? Bagaimana dia menyayangi Ibu dan Bapak pas masih hidup?" "Pun Hana. Hana sangat sayang padanya." "Namun apa? Menjelang hari pernikahan, Bu. Ia tiba-tiba pergi begitu saja. Hana bisa apa? Apa Hana mau mengutuknya?" "Dan yang kedua, Ibu juga masih ingat bukan? Bapak juga mulai menerimanya dengan baik. Pun Ibu yang selalu mendukung Hana juga. Namun, apa? Dia malah main di belakang Hana." "Hana sangat drop. Depresi kala itu. Hana sempat berpikir apakah Hana tak layak menikah? Apa Hana sangat pantas disakiti?" "Hana berusaha jalani hidup, layaknya orang yang diberi motivasi dan mimpi-mimpi. Apa motivasi dan mimpi itu? Sesederhana aku tak mungkin membuat Bapak dan Ibu bersedih melihatku terpuruk." "Aku tak ingin Bapak dan Ibu bertambah sedih melihatku kehilangan harapan hidup." "Sampai suatu hari menyedihkan itu datang. Ternyata, Tuhan juga mengambil Bapak dari kehidupanku. Tepat saat Hana percaya bahwa segala duka bisa bersanding dengan bahagia." "Hana masih sangat ingat pesan Bapak dulu. Dengan wajah tersenyum. Terlihat begitu ceria, beliau berpesan ingin melihat Hana menikah dan hidup bahagia." "Bukankah itu sederhana, Bu?" Ibunya memeluk Hana seketika. Air mata Hana tak terbendung lagi. "Nak... Ibu tahu kamu anak yang berbakti. Ceria seperti Bapakmu. Namun, kalau dengan pesan Bapakmu kamu melakukan ini, Ibu yakin Bapak juga akan menanyakan hal yang sama dengan Ibu." "Ibu cuma tak ingin melihatmu berduka kesekian kalinya." "Ya. Hana tahu. Tapi Hana tak melakukan ini karena Bapak. Tidak sepenuhnya. Ibu masih ingat juga kan? Gimana kondisiku saat kembali mempercayai seorang laki-laki?" "Kembali jatuh cinta, menyimpan nama, kenangan dan segala dukanya. Sebagaimana sepasang kekasih yang memadu cinta. Ibu ingat kan laki-laki itu?" "Sudah, Nak. Tak usah dilanjutkan. Ibu mengerti sekarang." Ibunya menepuk-nepuk pelan pundak Hana. Memastikan dan menenangkan hati anaknya. "Tidak. Hana cuma ingin melanjutkan cerita itu. Meskipun pahit. Hana yakin bisa menceritakannya kembali." "Di hari pernikahan. Ya. Rencana pernikahan ketiga, tapi belum dikehendaki Tuhan juga. Bedanya, ini bagian paling menyakitkan. Namun, setelah Hana pikir juga cara Tuhan membahagiakanku." "Hum?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN