Part 47 - Memulai Hal Baru?

1010 Kata
Mereka bertiga terus menunggu Kinan menjawabnya. Namun, yang ditunggu malah berceletuk dan tertawa. "Kalian aneh! Lebay! Haha!" "Kinan...." ucapku kawatir. "Tadi Ibumu benar nggakpapa?" Lanjutnya. "Gapapa, Tan. Cuma kangen aja sama anak gantengnya." "Ish.... jadi nyesel udah nungguin." Jawab Nia. Berbeda dengan Oki. Ia tak memberi respon lagi dan mencoba mengalihkan pembicaraan itu. "Udah-udah.... jangan ganggu Aksa. Biarin habisin makanannya. Gimana docangnya? Enak nggak?" "Enak-enak aja, si." Jawab Nia. "Yaiyalah. Semua makanan yang masuk juga menurutmu enak," ledek Kinan. "Kalau menurutmu, Tan?" "Enak ko. Aku suka ada kacangnya. Unik." "Alhamdulillah. Syukurlah kalau suka." Tak berapa saat kemudian, mereka berempat melanjutkan perjalanan. Menuju masjid At-Taqwa. Salah satu masjid megah di Cirebon. "Yuk! Udah masuk dhuhur, nih. Pas!" Mereka sampai di pelataran masjid At-Taqwa. Bangunan megah dengan halaman yang cukup luas. Beberapa tanaman hijau dan percikan air mancur di luar, cukup menambah sejuknya. "Oh ya, tempat wudhu perempuan di sana, ya. Aku sama Aksa kesana. Nanti ketemu di sini lagi. Ok?" pesan Oki. "Ok." Aku dan Nia berjalan menuju sisi samping sebelah barat masjid. Aroma sejuk nan syahdu sudah begitu terasa. "Oh... akhirnya bisa menghirup suasana segar seperti ini. Daritadi panas banget," ucap Nia melepaskan ranselnya. "Iya. Alhamdulillah. Masjidnya bagus, ya?" "Iya, Tan. Aku suka." "Udah. Kamu duluan yang wudhu. Biar aku tungguin. Skalian jaga tasnya," pintaku. "Kamu duluan aja, Tan. Aku masih pengin duduk. Capek banget." "Yaudah. Aku titip tasku, ya." "Siap!" Aku melepaskan kaos kaki. Bersiap menuju tempat wudhu. Di depannya ada area wudhu melingkar. Namun, di sisi area melingkar itu juga ada tempat wudhu berderet. Kalau masuk lagi, ada area toilet dengan cermin cukup besar di sana. Bagi perempuan, menemukan cermin di toilet seperti menemukan benda berharga. Tak luput dariku. Aku masuk ke arah cermin itu. "Ouh... ndak nyangka bisa ke tempat seperti ini bareng kamu, Nan," gumamku di depan cermin. Aku melepaskan ikat rambutnya. Melihat ekspresi tersenyum di motif awan pada ikat rambutku yang menggemaskan. Tak lama kemudian, Aku membenarkan ikat rambutnya terpasang kembali. Ia bersegera ke area wudhu yang berderet panjang di depan area melingkar itu. Membasuh wajah sampai ujung kaki di tengah cuaca terik seperti ini, membuatnya terasa sejuk. Senyum terkembang, setelah doa usai dihaturkan. "Nah, sekarang kamu, Ni. Sana!" Pintaku. "Aku tungguin di sini, ya." "Ok, Say!" Sambil menunggu Nia kembali, Aku memeriksa ponselnya. Entah kenapa, ia sepertinya belum yakin dengan apa yang Kinan ucapkan. Aku membuat keputusan aneh sepanjang hidupku. Meskipun bagi orang umumnya itu biasa saja. Ya, Aku mulai mendownload beberapa aplikasi media sosial yang digunakan seperti orang umumnya. Aku mendownload w******p, i********:, dan f*******:. Sinyal cukup baik kala itu, tak perlu waktu lama mendownloadnya. "Bismillah... di masjid ini. Aku memulai hal baru yang kulakukan. Semoga dengan bersosial media, bisa jadi jalanku lebih mengertimu, Nan," gumamku. "Heh! Nglamun!" Nia mengagetkannya. "Lagi lihat apaan? Waaah... kamu udah download w******p, i********:, dan facebokk? Ada angin apa nih?" Nia menaruh tangannya di dahiku. "Biasa aja. Kan umumnya juga orang pakai kan?" jawabku sambil menyingkirkan tangan Nia. "Kan kamu biasanya gak umum. Wajar dong aku nanya?" "Udah. Nanti bahasnya. Sholat dulu aja." "Ok. Tapi nanti cerita ya?" Aku tak menjawabnya. Malah berjalan meninggalkan Nia. "Heh tungguin!" Setelah sholat, Nia dengan antusiasnya segera menagih jawaban dari pertanyannya itu. "Ayo cerita! Pasti ada apa-apa nih," ucap Nia mengawalinya. "Duduk dulu di sana aja," Aku menunjuk pelataran di depan air mancur. Di sana memang nampak teduh. Nyaman untuk duduk "Tolong kabari Oki atau Kinan dulu, Ni. Kali aja mereka nungguin." "Nggak pengin kamu sendiri ngabarin?" "Aku belum aktifin w******p. Baru download." "Ok ok. Udah." "Sekarang ayo cerita kenapa?" "Apa yang membuat seorang Tania mau membuat sosial media?" Aku menarik nafas perlahan dan mengembuskannya. Mencoba menenangkan diri. "Sejujurnya aku cemas sekali, Ni." "Kinan?" "Ya. Sebenarnya tiap kali kamu ngabarin tentang Kinan sejak dulu. Baik itu lewat pesan w******p atau i********: dan lainnya, aku ingin melihatnya sendiri." "Tapi... aku kalah dengan perasaan kecewaku. Aku belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Tapi setelah kupikir, perasaan seperti ini akan lebih menyakitkan lagi." "Ya. Kamu benar. Kamu harus keluar dari perasaan kecewa seperti itu. Gak baik buat jiwamu." "Makanya aku kepikiran buat pakai sosial media. Aku pengin selangkah lebih bisa berdamai dengan diri sendiri." "Siapa tahu dengan aku pakai sosial media, aku lebih bisa membaca Kinan dengan lebih objektif." "Nah... yang kayak gini nih yang dari dulu gue tunggu! Kenapa nggak nyadar-nyadar sih. Sekarang apa yang ditunggu coba?" "Kamu tahu kan Kinan sayang kamu? Kamu juga aku rasa masih sayang kan sama dia? Ya... meski sejauh ini aku belum tahu juga kesalahan apa yang Kinan perbuat sampai kamu sebegitu kecewanya, Tan." "Tapi gini... aku suka keputusanmu kali ini." "Setidaknya... kamu selangkah meninggalkan kekecewaanmu itu. Entah apapun nanti yang terjadi di depan." "Bahkan kesedihan sekalipun, siapa tahu justru dengan kamu tahu kondisi sisi lain Kinan, kamu jadi lebih ngerti." "Lebih ngerti bahwa Kinan pun barangkali punya banyak alasan yang tak sempat atau masih kelu ia ucapkan padamu sekarang, Tan." "Aku yakin Kinan orang baik. Ia pantas menjagamu kelak. Dan kamu masih ingat kan, Tan? Bukankah ia begitu kuat?" "Maksudmu, Ni?" "Kamu masih ingat bagaimana kasus Ayahnya kan? Dan bukankah Ibunya juga sempat terkena fitnah di pekerjaannya sebagai wartawan investigasi?" "Tapi Kinan tak pernah menampakkan kesedihan itu dengan kita. Aku sebenarnya ingin tahu. Tapi rasanya segan bertanya seperti itu." "Menurutku bagi Kinan, barangkali itu caranya melepaskan kemarahan, kesedihan, dan kekecewaannya." "Kamu itu suka baca dan nulis. Kamu pasti lebih peka, Tan. Pasti lebih tahu maksudku gimana." Ucap Nia dengan nada yang lebih rendah dari biasanya. Aku terngiang dengan ucapan Nia tersebut. Barangkali memang benar, selama ini aku kurang bisa lebih peka pada Kinan. Aku terlalu sibuk dengan perasaan kecewaku sendiri. Yang mana pada akhirnya, malah menutup diri dari perasaan mengasihi yang harusnya tumbuh di hatiku. Perasaan ingin turut merasakan kesedihan yang tak sempat Kinan ucapkan. Bahkan, yang dari dulu Kinan selalu ceritakan apapun, kini dengan segala persoalan dan masalahnya, ia tak menceritakan. Bukankah dari hal ini sudah berbeda? Bukankah aku seharusnya memang mengkawatirkannya? Akankah dengan aku berusaha melihat Kinan lebih dekat lewat sosial media dan komunikasi nantinya, bisa membuat hubunganku terjaga dan lebih baik lagi ke depannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN