Part 46 - Panggilan Ibu

1035 Kata
Tak ada yang benar-benar tahu selangkah kemudian akan menemui apa. Bahagia? Sedih? Kecewa? Apakah kebahagian itu? Adakah fase sekilas dari perasaan sedih yang menunggunya? Apakah sedih itu? Adakah hanya kealpaan manusia yang lupa melihat sisi lainnya? Dan apakah kekecewaan itu? Kenapa manusia seringkali memilih pergi jauh karenanya? Kinan berhasil membujukku untuk melanjutkan langkah. Kini, mereka sudah bertemu Nia dan Oki di parkiran. "Akhirnya datang juga. Kenapa sih, Sa?" tanya Nia. "Gapapa. Lo aja yang jalannya kecepatan, Ni. Mentang-mentang... ehem." Ledek Kinan. "Apaan ehem ehem." "Itu tuh." "Apaan sih gajelas!" "Udah.... mau makan apa ribut, nih?" Aku meleraikan mereka berdua. "Tau nih Kinan! Rese!" "Udah, Sa. Makan dulu aja, yuk. Belum dhuhur juga kan?" tanyaku. "Belum. Masih tiga puluh menitan lagi kayaknya." Oki menjawab sambil melihat jam di tangannya. "Oh ya pas. Berarti kita makan dulu." "Kalaupun udah masuk dhuhur, emang mau nahan lapar? Ndak kan?" Ledek Kinan tak henti-hentinya pada Nia. "Kinan...." Aku menyudahinya. "Udah, yuk. Nanti waktunya habis lihat kalian bertengkar mulu." "Katanya biar pulangnya ndak kesorean kan?" "Nah. Bener itu!" "Ki, tempat makannya ndak jauh kan?" "Tergantung mau makan dimana sih. Kalau mau makan yang deket itu di ujung situ ada makanan khas cirebon juga. Tapi gerobakan gitu modelnya. Bukan rumah makan." "Ada sih empal gentong di sebelahnya. Tinggal kalian mau lebih selera makan yang mana?" "Gimana, Tan?" tanya Kinan. "Entah kenapa aku pengin coba rasain yang Ibu itu bikin." Aku menunjuk seorang Ibu dari kejauhan dengan gerobak jualannya. "Nah, aku juga sih. Gimana, Ni? Oki?" "Aku sih ngikut aja, Nan. Mana aja boleh." "Hayo sekarang tinggal kamu, Ni." "Ehm... boleh si." "Beneran?" "Iya. Aku juga makan apa aja ko. Ndak harus di rumah makan. Kayaknya juga menarik." "Ok. Berarti kesana aja, ya. Mau jalan kaki apa pake motor?" "Pake motor aja. Kan mau sholat juga habis ini kan?" "Iya. Ok. Yaudah yuk!" "Parkirnya?" tanya Kinan. "Sudah tadi." "Thanks, Bro." Mereka berempat pun segera menuju ke arah barat. Tak sampai tiga menit, sudah sampai. Seorang Ibu berkerudung coklat sedang berdiri di depan gerobak jualannya. "Docangnya 4, Bu." "Ouh iya, A. Pedes?" tanya Ibu itu. "Pedes semua ndak, nih?" "Aku sedengan aja." Jawabku. "Aku juga." Lanjutku. "Pedes satu, Ki." Kinan menjawabnya. "Pedes dua, sedangnya dua ya, Bu." "Mangga, duduk.... " Mereka berempat duduk di bangku kursi kayu yang cukip panjang. Di sebelahnya berderet ruko kecil yang rata-rata menjual aneka kuliner. "Emang isinya apaan itu, Ki?" tanya Nia yang duduk di sebelah Oki. "Ouh... kayak semacam opor gitu, tapi beda. Nanti lihat aja sendiri." "Punten, minumnya apa, A....?" suara remaja perempuan bertanya disela pembicaraan mereka. "Ouh iya. Apa, nih minumnya?" "Teh manis semua aja?" "Aku es jeruk, Ki." "Aku es jeruk!" Aku dan Kinan kompak memesan es jeruk. Mereka berdua menatap sekilas. "Kalian itu yah. Jago bikin baper!" Celetuk Nia. "Aku es teh aja, Ki." "Ok. Es tehnya dua. Es jeruknya dua ya, Dek." "Ok. Nuhun, A." Remaja perempuan itu nampaknya adalah anak Ibu penjualnya. Tak berapa saat kemudian, pesanannya datang. Empat piring docang dengan dua gelas es jeruk dan es teh. "Alhamdulillah... akhirnya bisa makan. Laper banget," celetukku. "Jangan lupa bismillah dulu, Ni." Ucap Oki. "Oh ya. Untung ingetin." Suasana siang itu di nampak biasa-biasa saja. Bahkan, cenderung penuh aroma kebahagiaan. Bukankah Nia juga merasa lebih baik dengan sakit setelah kecelakaannya itu? Apalagi bisa berkenalan dengan sahabat baru seperti Oki? Dan... Kinan dan aku bukankah mereka sudah baikan? Ah, apakah kalimat yang pantas untuk kondisi mereka? Namun, bukankah setidaknya sudah ada kelegaan tersendiri aku sudah mengatakan bahwa ia pernah sebegitu kecewa? Pun dengan Kinan yang memang juga sudah mengatakannya meskipun tak bisa mengatakan alasannya. Semuanya terlihat baik-baik saja bukan?" Bukankah itu akhir yang manis? Namun, apa yang benar-benar akhir di dunia ini? Sesuatu tak terduga bisa saja terjadi. Drrttt.... Ponsel Kinan bergetar. Panggilan telepon masuk dari Ibunya. "Maaf, aku angkat telpon dulu, ya. Dari Ibu." Ucap Kinan keluar sebentar dari tempat duduknya. "Jangan jauh-jauh, Nan." Pesanku. "Iya, sebentar. Disitu aja, ko." "Hallo, Bu. Ada apa?" Sapa Kinan lewat teleponnya pada Ibu. "Nak, kamu dimana? Belum pulang?" "Tadi kan Kinan sudah pamit, Bu. Aksa sama temen-temen lagi jalan-jalan di Cirebon. Ada apa, Bu?" "Ada kabar buruk. Ayahmu, Nak." "Apalagi dengan Ayah, Bu?" "Ayahmu baru saja divonis penjara lima belas tahun." "Ibu baru saja mendengar beritanya, Nak." Kinan terdiam seketika. Kabar tentang Ayahnya memang sengaja tak pernah ia ceritakan pada Tania lebih detail. Kinan barangkali belum siap menceritakan luka batinnya. Bahkan, melihat dirinya telah mengecewakan sedemikian dalam luka padaku, membuatnya justru ingin menghilang kembali. "Nak.... kamu masih dengar, Ibu?" "Iya, Bu. Ibu tenang, yah... Kinan sedang makan siang bareng teman-teman. Ibu sudah makan?" "Ibu sudah, Nak. Setelah makan siang tadi, ibu nyalakan tv, tak sengaja melihat vonis berita itu," dari kejauhan suara Ibunya terdengar menahan tangis. "Bu. Ibu tenang, ya. Ganti channel tvnya atau matikan tv skalian. Ibu bisa alihkan fokus baca buku saja. Yah? Jangan terlalu mikirin Ayah. Kinan ndak mau Ibu drop." "Iya, Nak. Ibu sepertinya akan baca buku sebentar, lalu tidur siang. Maaf, Ibu mengganggu waktumu, Nak." "Nah, itu lebih baik. Tidak, Bu. Ibu ndak ganggu. Kinan cuma lebih tenang kalau Ibu tak melihat berita itu. Biarkan Ayah yang menjalaninya." "Kamu membenci Ayahmu, Nak?" Pertanyaan itu membuat gemuruh hati dan berkecamuknya Kinan. Tangannya sempat mengepal menahan amarah. Namun, berhasil dilepaskannya kembali. "Sudah... Ibu tak perlu kawatirkan Kinan. Kinan baik-baik saja. Ibu jangan lupa tidur siang, yah. Oh ya ibu mau apa? Mumpung Kinan belum pulang dari Cirebon." "Ibu gak pengin apa-apa, Nak. Asal kamu pulang selamat saja sudah cukup." "Iya, Bu. InsyaAllah Kinan akan pulang selamat." "Oh ya, Nak." "Iya, Bu?" "Tania masih sama kamu di sana, kan?" "Iya, Bu. Aku sama Tania. Ada Nia, teman Tania dan Oki temen kampusku yang lama, Bu." "Oh iya. Ibu ingat. Tolong sampaikan pesan Ibu padanya ya, Nak. Kapan-kapan ajaklah Tania kemari lagi. Ibu rasanya rindu padanya." "Iya, Bu. Kinan akan sampaikan." Setelah salam, panggilan telepon itu pun selesai. Kinan kembali ke tempat duduknya. Tentu dengan ekspresi yang seolah baik-baik saja. "Eh, udah pada mau habis aja, nih!" celetuk Kinan. "Iya. Buruan abisin, Nan. Eh, tadi kenapa? Ibumu gak papa, kan?" tanya Oki. Aku memerhatikan jawaban yang akan Kinan katakan. Begitupun Nia. Mereka bertiga seolah begitu menanti dan turut cemas. Apakah Kinan akan mengatakan yang sejujurnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN