"Hwaa panas banget nih!" celetuk Nia.
"Iya. Namanya juga di cirebon," timpal Kinan.
"Emang kenapa, Nan?" tanyaku penasaran.
"Kan pesisir pantai. Kalau di GUCI baru adem."
"Huuuu!!! Itu juga tahu!!" sorak Nia.
"Udah... udah... katanya mau kulineran. Yuk makan!"
Nia menyambut dengan antusias. Wajahnya yang semula seperti kepiting rebus—bukan karena marah, tapi karena saking tak bisa menahan panasnya.
"Cocok, nih! Yuk cepetan, Ki!" Nia menggandeng tangan Oki dengan antusiasnya.
Oki terdiam seketika, tapi tak tega membuat hal itu terasa janggal. Alhasil, ia turut mengikuti gaya khas perempuan berkuncir satu itu.
Melihat antusiasnya Nia, Aku menggelengkan kepala. Sesekali menatap Kinan yang berjalan di sampingnya dengan tertawa.
Tinggi Kinan selisih sekitar tujuh senti. Aku melihat alis tebal dan hidung mancungnya dari sisi. Pesona senyum dan rahangnya yang tegas, cukup menjadi ingatan indah baginya.
"Heh, kenapa lihat-lihat?" Tiba-tiba, Kinan berceletuk kepadaku.
"Ehm... enggak, kok. PD!" Aku langsung berjalan lebih cepat dari Kinan. Meninggalkan Kinan yang tersenyum kecil melihat tingkahnya.
"Heh! Kenapa salting gitu kalau gapapa?"
"Mau kayak Nia?"
Aku menengok ke belakang. Menemui sumber suara. Rambutnya yang terurai membuat menutup sebagian kepala dalam sekian detik. Satu momen yang bagi mata laki-laki siapa akan berdetak kagum. Terpesona.
"Apaan sih, Nan! Jangan ngarep, ya! Weee!" Ledekku.
Kinan melihat ada tanjakan kecil di depan langkahku. Namun, sepertinya aku tak memerhatikannya.
Begitu aku akan kembali berjalan, Kinan terus memerhatikannya.
"Awas, Tan!!" pekik Kinan.
Kinan memapahku yang hampir terjatuh. Mata mereka saling menatap dalam seperkian detik. Dunia seolah berhenti berputar. Burung-burung bernyanyi dengan merdunya.
Angin berhembus mesra. Udara yang semula terasa panasnya, tiba-tiba sejuk seketika. Ada bahasa yang barangkali hanya bisa dimengerti orang mereka saja. Orang-orang yang sedang jatuh cinta.
"Hati-hati, Sayang." Ucap Kinan dengan lembutnya.
Aku menganggukkan kepala.
"Sini...." Kinan menggandeng tanganku.
Aku menatap wajah Kinan kembali. Tatapan itu. Sebuah pandangan sepersekian detik, yang bahkan mungkin akan jadi puluhan tahun untuk melukapannya.
Hari ini, dua insan sedang bertabur bunga di hatinya. Biar panas menggelora, tapi hati yang diselimuti perasaan cinta, akan senantiasa sejuk dan indah apa adanya. Begitulah, barangkali apa yang mereka rasakan.
"Hum? Kenapa? Gak nyaman?" tanya Kinan melihat wajahku yang seakan penuh tanya.
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Biar kamu gak jatuh lagi. Yah?"
Aku menganggukkan kepala. Kini, mereka berjalan beriringan. Langkahnya pelan tapi pasti. Langkahnya pasti tapi pelan. Meskipun, tak ada yang benar-benar pasti di dunia ini.
Kemana setiap orang akan melangkah pasti? Tak ada yang tahu. Apakah kebahagiaan akan selalu menyelimuti orang-orang yang sedang jatuh hati?
Belum pasti. Semua berada dalam alur ketidakpastian. Namun, barangkali dengan ketidakpastian itulah manusia hidup.
"Tan...." tanya Kinan.
"Ya?"
"Kamu pernah baca bukunya Dee Lestari?"
"Pernah. Tapi cuma baca beberap cerpen dan prosanya."
"Filosofi kopi baca kam?"
"Baca."
"Disana ada beragam prosa."
"Ya. Aku juga suka."
"Aku belum bilang suka."
"Hehe.... tapi kamu pasti suka, kan?"
"Sok tau!"
"Aku udah baca pikiranmu, sebelum kamu bilang, tau! Wee!"
"Hihh... aneh." Kinan mengacak-acak rambutku.
"Ih... jangan! Ntar susah lagi benerinnya."
Kinan tersenyum seketika melihat tingkahku.
"Kenapa? Mau dikuncir aja kayak Nia?"
"Iya. Boleh dilepasin dulu tangannya?"
"Yaudah.... kamu yang lepas...." ucap Kinan lembut.
"Kan kamu yang pertama. Berarti kamu yang lepasin."
"Kamu...." sangkal Kinan.
"Kamu...."jawabku.
"Kamu, Tan...."
"Kamu, Nan...."
"Hihhh!!" Aku manyun. Wajahku sepertinya terlihat kesal tapi tetap manis.
"Yaudah iya... aku lepasin. Jangan lama-lama ngiket rambutnya tapi."
"Iya, Tuan."
"Hih apaan Tuan."
"Ndak Pangeran Hujan lagi?"
"Iya Tuan Pangeran Hujanku." Ledekku.
Aku mengambil kuncir rambut bermotif awan kecil dengan ekspresi senyum nan lucu. Ikat kuncir itu berwarna hitam. Namun, motif awan dengan ekspresi tersenyumnya itu yang membuatnya terlihat menggemaskan.
Aku mulai merapikan rambutnya. Membiarkan beberapa helai rambut depan dan poninya tergerai. Dalam sepersekian detik, ikat rambut itu akhirnya terpasang indah di rambutku.
"Udah?"
"Udah dong. Cepet kan?"
"Iya. Keren. Biasanya perempuan lama kalau dandan."
"Ini kan bukan dandan. Cuma ngikat rambut."
"Oh iya."
"Yaudah, yuk. Nanti Nia nungguin." Refleks, Aku menggandeng tangan Kinan.
"Kenapa diem?" tanyaku.
Sepertinya, Aku tak menyadari sikapnya. Namun, Kinan tak ingin membuatnya sungkan. Ia justru merasa bahagia. Meskipun, ada cemas yang belum terutarakan padanya.
"Oh ya. Tadi lanjutannya apa, Nan?"
"Yang mana?"
"Yang prosa Dee Lestari."
"Ouh iya... kamu ingat ndak. Ada larik prosa yang bunyinya begini."
"Aku ingin seiring. Bukan digiring."
"Ingat! Itu favoritku!" ucapku antusias.
"Lucu," gumam Kinan melihat kepalaku.
"Hum? Apanya yang lucu, Nan?"
Tak terduga, aku mendengarnya. Selain terkenal dengan sifat pendengar yang baik, aku memang benar-benar pemerhati. Mampu mendengarkan dengan jeli.
"Eh... enggak, Tan. Ikat rambutmu itu. Motifnya lucu."
"Oh... kirain apaan. Itu buatanku lo!"
"Oh ya?"
"Iya."
"Ya beli si bahannya.... cuman tak modif sendiri."
"Kreatif deh."
"Oh ya, kenapa suka larik prosa itu?" tanya Kinan.
"Ehm..."
Aku menjedakan langkahnya. Ia melepaskan genggeman tangan Kinan. Ia terdiam. Seolah mengambil jarak dari beragam cemas yang mungkin juga sedang dipikirkannya.
"Tan, kenapa? Sakit?"
"Ndak, ko. Aku gapapa, ko."
"Sini... duduk dulu aja. Nanti kuwhatsapp Nia biar nungguin bentar," ucap Kinan.
Aku dan Kinan pun duduk di tempat pertama mereka datang. Beberapa meter lagi sebenarnya sudah keluar, tapi melihatlu yang tiba-tiba berbeda, ada perasaan kawatir yang kini mengetuk hati Kinan sepertinya.
"Tan.... tahu ndak apa yang membuat laki-laki cemas?"
"Apa?"
"Melihat orang yang disayanginya sedih."
Aku tersenyum. "Aku cuma keinget sesuatu aja sih. Nggakpapa."
"Cerita, sok. Jangan kawatir. Aku sudah kabarin Nia biar nunggu bentar di luar."
"Hm... aku cuma ingat perasaan kecewaku saat hujan malam itu."
"Aku takut, Nan."
"Takut?"
"Takut tak bisa memaafkan diri sendiri. Sementara dalam prosa itu, aku juga perempuan yang ingin merasa seiring dengan laki-laki yang kusayangi kelak."
"Namun, bagaimana akan berjalan seiring kalau aku belum bisa memaafkan sepenuhnya kesalahannya? Bagaimana mana mampu?"
"Entah sebesar apa rasa kecewaku, aku merasa bersalah pada diriku sendiri yang belum bisa ikhlas memaafkan. Maaf, Nan."
Aku menundukkan kepala. Menahan sesuatu dari mata, agar tak jatuh seketika. Sesekali mendongak. Menahan dengan sepenuh hatinya.
"Tan... udah, ya. Gapapa. Aku tahu aku juga belum bisa menjelaskannya. Tapi aku lebih percaya kepercayaanmu padaku melebihi kekecewaanmu kan?"
Mendengar kalimat itu terucap dari Kinan, Aku merasa sedikit lega. Barangkali memang benar. Seharusnya memang begitu. Bukankah rasa sayangnya lebih besar daripada kekecewaannya? Bukankah memang seperti itu seharusnya?