Part 44 - Aku Gapapa

1068 Kata
"Tan... udah?" "Gapapa, sok. Kalau masih mau nangis. Maaf, sudah memintamu menahannya." Nia dan Oki sedang berjalan kembali ke tempat Kinan dan aku duduk. Awalnya, Nia sibuk bercanda melihat foto-foto di ponselnya. "Haha ini lucu banget gayanya." "Yang ini bagus. Keren sih keren. Suka fotografi ya, Ki?" "Ehm, lumayan." "Pantes. Hasilnya keren semua. Thanks, ya!" Nia refleks meraih lengan Oki. Seketika, keduanya terdiam. Merasa ada yang salah dengan sikapnya, Nia terburu melepaskan lengan Oki. "Maaf. Refleks. Makasih, ya." Oki tersenyum. Laki-laki berkulit sawo matang dengan rambut agak gondrong itu pun terlihat berbeda. "Eh, ayok susul Kinan dan Tania. Aku kawatir mereka berantem." "Hah?" "Bercanda." Nia berjalan buru-buru. Tanpa melihat, ada batu di tengah perjalanan dan hampir tersungkur. Kakinya yang belum sembuh total karena kecelakaan kemarin, hampir saja dibuatnya makin parah. "Awas, Ni!!" Oki secepat kilat menahan tubuh Nia agar tak terjatuh. Rambut panjang Nia yang terkuncir satu membelai tangan Oki. Kedua matanya bertemu. Dunia seolah berhenti seketika. Nia memandang lekat wajah Oki. Laki-laki berwajah manis, meskipun rambutnya sedikit gondrong. Matanya cekung tapi penuh daya magis. Membuat tatapan Nia, seolah tersedot ke dalamnya. Begitupun Oki. Ia memandang wajah Nia seketika. Perempuan bertubuh tinggi dan berkulit putih bercahaya. Meskipun ia tak begitu femini, tapi Nia juga memiliki kelembutan hati yang membuatnya terpana. "Terima kasih," ucap Nia. "Hati-hati. Jalan yang tenang. Jangan terburu. Yah?" Nia mengangguk perlahan. "Tadi kalau jatuh dan yang kena kaki bekas kecelakaan itu gimana? Bisa lama nanti sembuhnya." Nia menatap wajah Oki. Melihat ketulusannya, membuatnya terkesan pada pertemuan pertama itu. "Makasih ya, Ki. Semoga setelah ini, kita bisa terus sahabatan." "Aamiin." "Yuk. Katanya mau ke Kinan dan Tania." Nia dan Oki kembali berjalan. Melewati bangunan satu lagi, sebelum akhirnya sampai di tempat Kinan dan Aku duduk semula. "Tania!! Kamu kenapa?" Melihat Kinan mendekaplu yang menangis, Nia langsung melepaskan dekapan Kinan. "Kamu apain Tania sampai menangis begini, Nan?" "Ni...." Aku berusaha menahan emosi Nia. "Masih saja kamu jahat setelah bertemu Tania!!" Nia meluapkan kemarahannya. Kinan ingin mengucapkan sesuatu, tapi Nia mencegahnya. "Udah, ya. Aku gamau denger penjelasannya." "Nia.... Kinan gak salah." "Udah, Tan. Jangan tangisi lagi Kinan." "Kinan gak salah, Ni. Aku cuma sedih." "Kenapa?" "Apa harus dikatakan?" "Ya. Biar aku tahu." "Tapi tidak semua sedih harus dikatakan, Ni. Sebagaimana kecewa yang tak perlu dijelaskannya kenapa." "Kenapa begitu? Aksa membuatmu kecewa lagi? Membuatmu sedih lagi? Katakan, Tan! Please." Aku menggelengkan kepala. Oki berdiri agak jauh dari mereka bertiga. Ia tak sampai hati mencampuri urusannya. "Sudah... jangan salahin Kinan. Aku gapapa." "Beneran?" "Iya." "Yasudah.... ini, hapus air matanya," Nia menyerahkan tisu padaku. "Maaf." Ucap Kinan. "Karena aku bilang bukan karena kamu, yasudah. Aku cuma kawatir aja, Nan. Rasanya gak rela kalau kamu kecewakan Tania seperi dulu kala lagi," gerutu Nia. "Sudah, Ni. Jangan salahkan Kinan. Kita kesini berempat mau liburan kan? Mau seneng-seneng kan?" ucapku yang sudah kembali dengan wajahnya normal. Tak menangis lagi. "Nah, iya. Betul kata Tamia. Kita disini untuk liburan, kan? Yuk lanjut aja. Ok?" Celetuk Oki. "Aku setuju!" ucap Kinan. "Gimana, Tan?" "Ya. Aku juga setuju." "Oh ya, kalian dari tadi sudah foto belum?" tanya Oki. Kinan dan aku bersamaan menggelengkan kepala. "Oh iya tuh. Dari tadi duduk di sini aja?" Kinan dan aku kembali bersamaan menganggukan kepala. "Yaaaampun. Yasudah, kamu fotoin deh, Ki. Gapapa kan? Foto kita bertiga dulu. Gimana?" "Siaaap!" Oki mengambil ponselnya. Bersiap memotret dengan kamera di ponselnya. "Satu... dua... tiga!" Cekreek!! Tak berapa lama kemudian, Oki mengusulkan untuk mengambil foto aku dan Kinan berdua. "Ni...kamu kesini dulu deh." "Lo, kenapa?" "Aku mau coba ambil foto mereka berdua." "Gapapa kan?" Nia melirik ke Kinan dan aku. Kami mengangguk. "Baiklah... aku pergi kesitu." "Awas ya, Nan!!" Ancamnya. Kinan tertawa melihat tingkat Nia yang marah dan kesal padanya. "Nah, agak mendekat Tan. Kinan juga." Oki menyarankan pose yang tepat. "Ish... jangan deket-deket tau, Ki." "Udah... percaya sama aku. Aman, ko. Tenang." Aku duduk bersebelahan dengan Kinan. Tak ada jarak dari tempat duduk mereka kini. Aku yang habis menangis, membuat rambutnya agak kurang tertata. Beberapa anak rambut sempat tertiup angin dan membasuh lembut wajah Kinan. Kinan sempat menengok wajahku. Angin yang bertiup membuat nuansanya sangat alami. Terlebih, teduh pepohonan membuat latar belakang foto, kian terasa begitu teduhnya. Oki pun tak mengarahkan mereka berdua untuk berpose. Oki biarkan keduanya berpose alami. Jadilah, beberapa foto mereka. Benar saja, foto itu nampak sangat teduh. "Nah! Selesai!" Gumam Oki. Ia memeriksa hasil jepretan fotonya. "Coba lihat mana?" Nia penasaran dengan hasil fotonya. "Waaaah.... kalian kayak pasangan di drakor-drakor gitu." "Apaan kamu, Ni. Tadi aja ngomel-ngomel. Hu!" Ledek Oki. "Yakan tadi." "Waaah... aku paling suka foto ini. Candid alami." Ucap Nia. "Emang semuanya alami. Aku cuma ngarahkan mereka duduk tidak berjauhan saja." "Kereeeen!! Kamu emang fotografer yang top!" Salut Nia. Ada satu foto yang nampak candid, dan begitu indah. Ya, foto itu adalah saat beberapa helai rambutku tertiup angin dan melintas di wajah Kinan. Kinan yang kala itu menengoknya, membuat hasil foto itu sangat romantis. "Udah, Ki?" tanya Kinan. "Oh iya, udah, Nan!" Ucap Oki. Aku mengembalikan posisi duduknya. Dengan menjarak sedikit. Begitu pun Kinan. "Ni...." "Ya?" Nia masih melihat-lihat foto kami di ponsel Oki yang diserahkannya. "Aku boleh bilang sesuatu?" "Ya? Apa?" "Aku tadi liat sikap kamu ke Kinan. Oke aku gak begitu paham masalahnya. Dan bukan berarti aku mau ikut campur juga." Nia melihat wajah Oki yang nampak serius ingin mengatakan sesuatu hal. "Begini... aku pikir, kamu kurang tepat menghardik Kinan begitu saja tanpa bertanya dan mendengarkan alasannya." "Iya si. Aku salah untuk itu." "Maaf ya, Ni. Aku sengaja bilang face to face seperti ini. Aku cuma gamau negur kamu di depan mereka. Itu sama aja aku memarahi. Bukan menasehati." Nia nampak terkesima dengan cara bertutur Oki. "Aku tahu hatimu lembut. Ingin menjaga sahabatmu, Tania kan? Tapi menurutku ada batas dimaba kita perlu ikut campur dan tidak, Ni." "Yang mana, dengan tidak ikut campurnya kita, bukan berarti tak peduli. Justru, di saat tertentu itu bentuk paling tepat cara pedulinya kita." "Belajar hargai privasi perasaan mereka. Jangan main hakim begitu. Mungkin kurang lebihnya gitu, Ni." "Ki...." "Ya? Maaf kalau aku salah menyampaikan. Aku cuma mencoba peduli sama kamu." "Tidak. Malah makasih banget sudah ngingetin aku dengan kegini." Ucap Nia. "Hei!! Kalian gosipin kita di situ, ya? Lama bener kita dicuekin!!" Celetuk suara teriakan Kinan dengan gaya humornya. "Iyasudah. Syukurlah. Yuk, kita kesana." Nia mengangguk. Meluki garis senyum paling manis. Kepedulian. Barangkali itu salah satu emas termahal dari hati manusia. Beruntunglah yang masih bissa merawatnya. Namun, sudahkah kita tepat mengarahkannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN