Part 43 - Memaafkan Luka Lama?

1031 Kata
Kinan makin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Perasaan takut mulai menyelimutinya. Itu sangat terpancar dari sorot mataki. Ia tak berani menatap mata Kinan lekat-lekat. Untuk menutup gugupnya, Aku memejamkan mata. Entah, apa yang ia terka saat itu. "Heh! Ngapain merem? Ini ada daun jatuh di rambutmu." Celetuk Kinan. Seketika, aku tersipu. Ia sangat malu. "Hih, kenapa senyum-senyum?" Lanjut Kinan. "Hayo... mikirin apa?" "Nggak, ko." "Hmm... yaudah deh." Nia dan Oki belum juga kembali. Semilir angin bertabur terik siang hari masih menyelimuti. Aku dan Kinan tetap duduk berdampingan. Pada sebuah kursi panjang di bawah pepohonan. Sejuk dan menentramkan. "Aku paling suka tempat kaya gini," celetuk Kinan. "Emang apa?" "Adem." "Sama." "Nan...." "Ya? Kenapa?" "Aku mau tanya, boleh?" "Emang tanya apa? Sejak kapan gak boleh tanya?" "Iya, aku tahu. Aku cuma gaenak." "Gapapa. Sok aja...." "Apa kamu pernah marah atau kesel sama aku?" Kinan langsung menengok ke samping. Melihat wajahku. Seperti mencari sesuatu di wajahnya. Namun, seketika tak lama kemudian, ia kembali menatap ke depan. Anehnya, tak menjawab apapun. Ia seperti memikirkan sesuatu, tapi kali ini aku sungguh merasa kacau tak bisa membaca apa yang dirasakannya. "Kinan.... kamu kenapa? Kok diem?" Kinan tersenyum sekilas. Lalu, tak lama mengatakan, "Aku minta maaf ya, Tan." "Hum? Untuk?" "Aku selama ini banyak bikin kamu marah dan kesel." "Bukankah karena hal ini kamu bertanya seperti itu?" "Nan... bukan gitu maksudnya." "Lalu? Bukankah itu faktanya?" "Aku banyak membuat kesalahan padamu. Bahkan, aku sendiri belum mampu menjelaskan alasan semuanya." "Nan... bukan itu maksudku." "Aku tahu kamu memendam marah kan? Pertemuan kita kali ini juga seperti mimpi. Sejak malam hujan itu, ucapan yang kau kirimkan itu." "Ya, sejak saat itu sebenarnya aku sudah membunuh harapanku sendiri padamu. Aku merasa menjadi laki-laki paling bersalah di dunia." "Betapa bodohnya aku tak bisa menjaga perasaanmu yang begitu tulusnya?" "Nan.... udah. Aku sudah maafin, ko. Yang penting kita sudah baikan kan?" "Baikan? Benarkah itu?" "Aku masih menganggap ini seperti mimpi. Yang sewaktu aku bangun nanti, ini bisa hilang dalam sekejap mata." "Nan.... kamu mau pergi?" Kinan kembali menengok ke arahku. Tersenyum kecil lalu kembali menatap ke depan. "Aku tak tahu. Tapi... aku hanya mungkin belum bisa memaafkan diriku sendiri. Aku benar-benar minta maaf untuk kejadian hujan malam itu. Dahulu kala." "Nan.... itu sudah berlalu. Meskipun sebenarnya, aku juga belum bisa memaafkan sepenuhnya." Aku serius menatap ke depan. Sebagaimana Kinan yang sedari tadi bicara. Pada kedalaman matanya, ia seperti melihat sesuatu. Berbagai hal yang ia timbun dan terus saja menimbunnya. Kekecewaan, barangkali menu hidup yang dialami siapa saja. Namun, bisa memaafkan diri sendiri atas segala kecewa, belum tentu setiap manusia mampu. Aku mencari sesuatu di bayang matanya. Terus mencari, apa kata yang tepat diucapakan untuk Kinan. Laki-laki yang sesekali kujuluki sebagai pangeran berwajah hujan, karena keteduhan sikapnya. "Tan, kamu baik-baik saja?" Kini, Kinan yang mulai kawatir. Aku tak menjawab. Ia menghelakan napas panjangnya. Sekilas, seperti seseorang yang telah menemukan sesuatu yang tepat. Pun, seperti seseorang yang mendaki perbukitan, dan melihat danau yang menyegarkan. Aku tersenyum, dan dari matanya yang enak dipandang, memancarkan energi positif siapa saja yang melihatnya. Turun ke bibirnya yang kini, mulai ada tekad mengatakan sesuatu itu. "Aku gapapa, Nan." "Itu kalimat sederhana dari perempuan, dengan pemaknaan yang sulit terpecahkan bagi laki-laki sampai detik ini," celetuk Kinan dengan nada humornya. "Bisa aja kamu." Aku tersenyum lalu tertawa kecil mendengar Kinan menanggapinya dengan humor. "Lagian, ngapain diem?" "Kamu juga gitu kan tadi?" "Hmm... yaudah aku diem karena sedang memikirkan apa yang tepat diucapkan biar tak ada kata yang bisa menyinggung perasaanmu." "Kalau kamu kenapa? Hayo?" "Sama. Aku pun sempat memikirkannya." "Iyakah?" Aku mengangguk. Mengehelakan napasnya sebentar. Kembali mengungkapkannya. "Sebenarnya kita memiliki satu hal yang sama. Sama-sama berhati lembut, yang memikirkan bagaimana agar kita tak melukai orang lain." "Namun, sebagaimana kehati-hatian itu, manusia memahami istilah khilaf bukan, Nan?" Kinan hanya memandangku yang masih bicara. Tak menjawab pertanyaannya, karena itu bukan pertanyaan yang perlu dijawab dahulu. "Bukankah, hanya dengan pemaafan setiap orang pernah khilaf, itu akan jadi meluruhkan segala kecewa, Nan?" "Barangkali, malam hujan itu kamu juga tak berniat menyakitiku. Entah siapapun perempuan yang kau bonceng dahulu itu, aku tak ingin tahu." "Aku hanya marah dengan diriku, kenapa aku harus kecewa dengan sikapmu? Bahkan kecewa yang diiringi marah sekian lamanya." "Nan....." "Iya?" "Aku tanya lagi, kamu pernah juga marah denganku? Ataupun kecewa?" Kinan meraih tanganku kini. Ia menggenggamnya perlahan. Mencoba membuat energi ketenangan untuk perempuan yang matanya selalu dirindukannya itu. "Tan, manusia mana yang gak pernah kecewa? Bukankah kamu sendiri tadi yang mengucapkannya?" Mataku mulai berkaca. Kinan menggenggam erat tanganku. Ingin sekali menyandarkan kekasihnya itu. Namun, ia tak sampai hati melakukannya. "Sssst.... jangan nangis dulu, ya. Aku yakin kamu kuat." Aku mengangguk. "Tan, dengerin, ya.... kamu benar." "Kamu benar setiap orang pasti pernah kecewa. Dan beberapanya, bahkan tak mampu menjelaskan alasan kenapa ia kecewa." "Bukan. Berarti ia benar-benar tak mampu menjelaskan. Namun, bisa jadi karena rasa sayang di hatinya lebih tinggi dan mampu meredam kecewanya itu." "Orang-orang ini lebih takut kalau orang yang membuatnya kecewa, sedih dan marah, lalu pergi entah kemana." "Kesedihan, barangkali menu hidup yang dekat darinya. Dan berusaha untuk ditepisnya." "Nan.... Kamu gapapa?" Kinan tak menjawabnya. Ia masih menatap wajahku yang berusaha menahan bulir mata agar tak jatuh dari mata teduhnya. "Dan... barangkali, akulah bagian dari beberapa orang itu." "Aku sungguh tak mampu menjelaskan alasan kecewaku, Tan. Aku lebih kawatir perasaan yang tumbuh, harus kubunuh saat aku menyadari cinta itu bisa pergi begitu saja." "Saat orang yang kita kasihi, pergi meninggalkan dengan cinta yang tak retak." "Nan.... kamu gapapa?" Lagi, Kinan tak menjawabnya. Ia terus mengatakan sesuatu yang dipikirkan dan dirasakannya. "Tan, kita belajar bareng memaafkan diri sendiri, yah. Aku merasa... cuma dengan itulah kekecewaan yang kita alami, mungkin bisa luruh dengan sendirinya." Aku mengangguk. Kinan melepaskan genggamannya. "Terima kasih sudah tak menahan tangis di depanku." Aku melihat wajah Kinan. Matanya yang teduh. Alisnya yang tebal menaunginya. Hidung mancung dan rahang tegasnya—Aku memandangnya seolah menahan emosi yang dirasakannya. Tiba-tiba, bulir mata jatuh seketika. Ya, Aku kini tak mampu menahannya. Tepat, setelah Kinan berterima kasih karena tak menangis di depannya. "Tan.... " Kinan langsung mendekapnya. Berusaha menenangkannya. "Tania, maafkan aku." "Maafkan aku membuatmu banyak kecewa." Kinan terus saja meminta maaf, padahal tangisan itu belum tentu tangisan kekecewaan. Tangisan. Adakah itu pertanda refleks kekecewaanku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN