Part 42 - Tatapan Aneh

1000 Kata
"Aku gapapa, Tan." "Kamu seperti menutupi sesuatu." "Gapapa, kok. Yuk. Ini udah sampai keraton. Sayang, kalau gak dinikmatin." "Kamu kalau ada yang pengin dikatakan, bilang yah. Jangan diem. Aku kawatir." Kinan mengulas senyum di wajahnya. Berusaha meyakinkan perempuan yang ia kasihi di depannya. "Iya, Sayangku Tania." "Nah gitu dong. Ceria. Seperti Kinan yang kukenal." "Eh, kalian ngapain disitu? Ayo kesini!!" Panggil Nia yang sudah duluan berjalan dengan Oki di depan. "Eh, baru ngeh ketinggalan." "Kamu, sih." Ledekku. Sebuah bangunan penuh nilai sejarah, budaya, spiritual keislaman sangat khas di sana. Keraton yang menjadi cermin berbagai keindahan dari kehidupan manusia pada masanya. "Kok bisa ya, bebatuan disusun begitu bisa sampai kuat ratusan tahun?" celetuk Nia. "Karena yang bangun pasti orang spesial. Bukan orang bawel kayak kamu, Ni." Ledek Kinan. "Ish! Yang pasti, yang bangun juga bukan penyair level kayak kamu, Nan!" Kembali, Nia menjawab candaan Kinan. "Eh, emang aku level apa?" "Level penyair gak pekaan!" "Apaan dih. Gajelas." "Udah, Nan. Jangan ribut terus. Malu." Aku menenangkan. "Haha iya, sorry. Tapi kamu seneng kan?" Aku hanya tersenyum sekilas. "Eh, ada tempat duduk yang pas ndak, Ki? Agak capek nih. Skalian minum dulu." "Oh ada. Duduk di situ aja ndakpapa." Oki menunjukkan sebuah bangunan dimana pada masa itu digunakan tempat singgah tamu. "Adem, ya. Padahal panas." Ucapku. "Karena ada kamu." Celetuk Kinan yang duduk di sampingnya. "Eheem." Nia meledeknya. "Oh ya, habis ini mau kemana?" Tanya Oki. "Baru aja sampe, Ki. Udah nanya mau kemana." "Ya... maksudnya biar jelas aja. Jadi bisa perkirain waktunya biar pulang gak kesorean." "Nah betul tuh. Aku sih terserah kamu aja, Ki. Aku kurang tahu tempat lainnya." "Gimana, Tan? Pengin kemana?" "Ehm, aku ngikut aja deh. Bisa kesini aja bersyukur banget. Tempatnya suka. Penasaran di dalamnya ada apa aja." "Yaps. Sama." "Aku boleh usul nggak?" ucap Nia. "Apa? Awas jangan aneh-aneh!!" timpal Kinan. "Ish... diem dulu." "Mumpung disini, kita explore aja sepuasnya. Pasti banyak kan nilai sejarahnya." "Iya. Terus?" Oki penasaran apa yang akan diusulkan Nia. "Kalau tempat makan deket sini yang khas tau, ndak?" "Yaampun.... kirain mau usul apaan, Ni." Ledek Kinan. Aku pun hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu. "Ouh kuliner, ya. Di depan keraton sini ada empal gentong sama makanan khas lain juga ada. Tinggal pilih mau yang di kaki lima atau masuk kayak rumah makan gitu." "Nah itu maksudnya. Belum lengkap kalau belum nyobain makannanya kan?" "Huh!! Bilang aja tukang makan!!" Kinan kembali meledeknya. "Kinan...." Aku menahannya untuk tak melanjutkan meledek. "Ya gapapa daripada laper. Kalian juga kan?" "Udah, ah. Yuk lanjutin masuk ke dalam aja, Ki. Penasaran ada apa aja, nih." "Jangan lupa pake maskernya, ya." Ucap Oki. "Siap Pak Oki!!" "Pak Eko kali!!" Sangkal Nia. "Itukan di yang viral. Yang depan kita kan Oki. Yah?" "Udah, Nan. Kalian ribut mulu deh." Aku heran sambil tersenyum geleng-geleng kepala. "Tau nih, Ran. Gimana si? Tadi aja diem. Sekarang bawel lagi." "Yaudah yuk masuk aja." Oki kembali berjalan di depan Kinan, Nia, dan aku. Sampai di taman bundaran dewandaru. Di dalamnya ada dua patung khas berbentuk seperti macan putih. Namun, itu adalah simbolik kendaraan spiritual atau hewan peliharaan pada masa itu. Yang tak kalah indahnya, beberapa benda tertentu dari bangunannya tak hanya mencirikan satu budaya. Ada gabungan beberapa buda di dalamnya. "Nah, patung hewan ini adalah bukti Islam dan hindu bisa hidup saling toleransi. Maklum, dulunya keraton ini dipimpin oleh bukan Muslim." Jelas Oki. "Indah, ya. Berarti kayak hari ini kalau ada berita orang gampang banget rasis, intolerir, aneh juga. Ternyata dari dulu orang-orang pendahulu sudah nunjukin contohnya," ucapku. "Yaps! Mereka sudah paham makna toleransi." "Taman dewandaru. Ini pohon dewandarunya ya, Ki?" tanya Kinan. "Iya." "Kok kayak mistis gitu ya keliatannya," celetuk Nia. "Mukamu tuh yang mistis!" ledek Kinan. "Kinan....," Aku mencoba menahannya. "Lagian, ngomongnya hati-hati kalau di tempat sejarah seperti ini." "Aku kan cuma bilang jujur." "Udah, udah... emang beberapa mitosnya gitu. Ada yang mengatakan pohon dewandaru ini bisa mengusir jin atau makhluk halus yang jahat." "Nah... tuh kan." "Tapi ada berbagai makna menarik lainnya dari pohon ini. Yang kupikir, lebih indah dari sekadar mitos tadi." "Apa tuh, Ki?" "Pohon dewandaru ini berbuahnya cukup lama. Simbolik kesabaran bagi manusia untuk bersabar dalam setiap usahanya." "Itu sebabnya pohon ini sangat diberkahi. Meskipun tak jarang orang salah persepsi kayak tadi aja liatnya." "Nah... ini lebih filosofis, sih." Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. "Eh, nanti mau sholat duhur dulu apa gimana?" tanya Oki. "Kalau pas duhur masih di sini, sekalian sholat di sini aja, Ki. Ada kan masjidnya?" "Oh iya. Ada, kok. Itu yang sebelum kita masuk." "Oh iya. Di depan keraton ini juga ada kan? Tadi sempet liat." "Iya. Itu juga. Tapi biar gak keluar area mending nanti sekalian di sini aja." "Ok, Pak Oki!" "Duduk dulu aja, yuk. Haus." Ucapku sambil menunjukkan bangku tak jauu dari taman bundaran dewandaru. "Ehm... tapi aku penasaran yang di depan itu, Ki." "Yaudah, Kinan sama Tania istirahat duduk di situ aja. Aku sama Nia ke depan bentar, ya. Gimana?" "Ok." Di belakang bangku itu sangat terasa sekali sejuk cuacanya. Tumbuh pohon yang begitu lebatnya. Sedangkan taman bundaran dewandaru yang memang terletak di tengah persis halaman keraton, nampak sekali teriknya. Terik dan sejuk menjadi dua hal yang bisa dalam satu waktu. Satu pandangan mata. Satu pandangan rasa. Aku membuka botol minuman mineralnya. Namun, tak terbuka juga. Melihat itu, Kinan langsung mengambilnya. "Nih..." Kinan menyerahkan botol minuman mineral yang sudah terbuka tutupnya itu. Siap diminum. "Terima kasih. Kamu ndak haus, Nan?" Kinan menggeleng perlahan. Ia balik menatapli dengan tatapan berbeda. Diamnya seperti berbalik ke ekspresi sebelum ini. Ya, ekspresi yang membuatku bertanya-tanya. "Sebenarnya kamu kenapa, Nan?" Kinan mendekatkan wajahnya ke wajahku perlahan. Aku hanya terdiam melihat ekspresinya yang aneh itu kembali. Kinan makin mendekatkan wajahnya. Melihatnya penuh tatapan yang mencurigakan. Untuk mengalihkan gugup dan perasaan deg-degannya, Aku mengalihkan diri dengan meminum terus air mineral yang ada di botol genggamannya. Tak berhenti sampai situ, Aku tak menyangka Kinan masih saja diam dan perlahan mendekati kepalanya. Entah, apa yang dikatakan dan sedang dicarinya. Aku ingin mengatakan sesuatu tapi kelu. Bagaimana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN