Part 41 - Kamu Kenapa?

1004 Kata
"Lupa, ya?" "Coba liat." Aku menyerahkan ponselnya. Matahari mulai makin menunjukkan teriknya. Bulir keringat turun perlahan di sela dahi dan alis Kinan. Alisnya yang tebal seolah penyerap dan penghalang sempurna. "Ini. Kamu keringetan banget." Aku menyerahkan tissu pada Kinan. "Gamau usapin?" "Emang boleh?" "Emang kenapa gak boleh?" Kami sontak terdiam seketika. Membentuk seuntai senyum penuh makna. Terik yang kian panasnya bercampur syahdu di mata mereka. Entah apalah ini jadinya. Kenapa jadi begini? Tiittttt!! Suara klakson mengagetkannya. "Mas!! Disini rame, jangan berhenti di sini!!" Pekik salah seorang pengguna sepeda motor. "Ayo, Nan. Jalan lagi aja." Usulku. Kinan mengangguk. "Iya, Pak. Maaf, ya." Kinan pun segera melanjutkan perjalanannya. Di sepanjang jalan, mereka berdua terkekeh sendiri mengingatnya. Obrolan-obrolan kecil menambah suasana menjadi tak membosankannya. Sesekali semilir angin turut meluruhkan keringat yang kian mengalir. "Bisa-bisanya diteriaki orang di kota orang," canda Kinan. "Haha lagian kamu, Nan. Berhentiin motor gak liat-liat." "Biarin deh. Jadi ada ceritanya kan? Kalau mulus-mulus aja kan gaenak." "Apaan. Emang mesti ngapain?" "Nyasar, mungkin?" "Ish. Gimana posisi kita nih? Udah hampir sampai?" "Oki gimana? Gak coba ditelpon?" "Kamu mulai keluar aslinya, ya." "Apaan?" "Bawel." Ledek Kinan. "Hihh aku tuh kawatir tau." "Iya-iya. Bentar, ya. Nyari tempat yang lebih aman buat berhenti bentar." "Nah gitu dong." Kinan menepikan sepeda motornya di sebuah masjid. "Mau sholat?" "Dhuha dulu aja. Daripada berhenti di tepi jalan kan?" Aku mengangguk setuju. Ia pun pergi ke toilet perempuan dan tempat wudhu khusus perempuan. "Oh iya, ini hpnya. Kalau sudah, kesini lagi, ya. Atau kalau ada apa-apa kabarin." "Kayak mau kemana aja. Kan cuma mau wudhu. Masih di masjid." "Gapapa. Aku kan cuma kawatir." "Hih!" "Hehe yaudah, sana!" Kinan melepaskan sepatu sneakersnya. Bersiap menuju tempat wudhu laki-laki. Air keran yang sejuk terasa sangat berbalik dengan terik cuaca kala itu. Beberapa orang memilih berbagai tempat untuk berteduh. Yang mana tak lain adalah mencari sesuatu yang disebut ketenangan diri. Padahal, ketenangan sejati akan tumbuh dari dalam diri. Bukan sejauh mana tempat berlari. Pun bukan sebanyak apa kita melarikan diri. Namun, bagaimana bisa berdamai dan menikmati kesempatan hari ini. Tak berapa lama kemudian, Kinan keluar setelah sholat dhuha. Ia memotret sekilas tampak depan masjid itu. "Indah sekali." Gumamnya saat memotret dengan ponselnya. Sebuah masjid yang tak begitu besar, tapi memiliki ciri khasnya sendiri. Ya, kebanyakan bangunan memikiki gapura khas kota cirebon. Seperti halnya bangunan di keraton. Kinan baru saja akan mengetikkan pesan kepadaku. Namun, ia sudah berada di depannya. "Lagi apa di situ?" tanyaku melihat Kinan berdiri di depan masjid. Padahal terik matahari cukup panas. "Ouh... ini cuma ngambil foto. Sayang. Momen. Belum tentu bisa kesini lagi 'kan?" Kinan menjawabnya lalu kembali ke pelataran masjid di depan. Aku duduk di sana sambil memakai sepatu sneaker putihnya. "Eh, kita samaan pake sneakers." "Beda." Protesku singkat. "Orang sama." "Beda!" "Emang apa? Kan sama-sama putih." "Coba perhatiin. Punyaku ada motif awan hujannya dan bunga mataharinya. Cantik kan?" "Ish... kirain apa." "Ya kan beda." "Iya-iya, beda. Udah, nih? Yuk bentar lagi paling sampai." "Oh ya, udah nelpon Oki belum?" "Yaampun sampe lupa. Lagian gada panggilan masuk, ya. Tumben." Kinan memerika ponselnya. "Astaghfirulloh." "Kenapa, Nan? Ada hal buruk?" "Lupa." "Lupa apa?" "Lupa. Ternyata dari berangkat hpku tak mode pesawat. Pantesan gak ada panggilan masuk." "Huuh!! Dasar! Udah tua tuh!" Ledekku padanya. "Gapapa. Biar tua yang penting ganteng!" "Udah, ah. Cepetan telpon Oki, Nan!" "Iya, bentar." Baru saja mau mengetik panggilan ke Oki, panggilan telepon masuk dari Oki. "Eh, lo dimana si?! Kok lama banget? Aku sama Nia udah sampe, nih." "Sorry, Bro. Tadi ada problem kecil." "Problem apa? Baik-baik aja kan? Kawatir banget. Daritadi Nia juga nanyain mulu nomornya kalian gabisa dihubungi." "Hah?" Aku menunjukkan ponselnya yang mati. "Oh iya. Hpnya Tania baru aja lowbat. Punyaku juga lupa tak hidupin. Ini deket ko. Otw kesitu, Bro. Mau masuk dulu gapapa juga." "Ndak. Aku sama Nia nuggu di parkiran depan, ya. Sebelum gerbang masuk keraton." "Ok." Klik. Panggilan dimatikan. Kinan memakai jaket navynya. Pun denganku yang sudah kembali siap. "Gimana?" "Kita langsung aja otw." "Yakin? Tau jalannya?" "Udah liat maps, ko barusan. Gapapa. Percaya aja." "Hpku mati soalnya." "Iya. Gabawa powerbank?" "Dipinjem Nia." "Oh yaudah. Yuk." Kinan dan aku kembali melanjutkan perjalanan. Tak seperti perjalanan awalnya yang banyak ngobrol dan bicara. Entah kenapa kali itu Kinan diam saja. Tak seceria dan sesupel Kinan biasanya. "Nan...." panggilku memecah hening. "Ya?" "Kamu gapapa?" "Emang kenapa?" "Ndak. Aku cuma kawatir." Kinan tersenyum kecil, dan mengatakan, "aku gapapa, kok." "Agak ngebut gapapa, ya?" "Gapapa, tapi yang penting hati-hati." Kali ini, Kinan yang mengangguk tanpa menjawab apapun. Namun, tak menjawab pun adalah jawaban. Jawaban bahwa Kinan tak menjawabnya dengan ucapan. "Hati-hati, Nan." Beberapa jalanan besar cukup ramai sudah Kinan lewati. Sesekali masuk ke sebuah jalanan agak kecil. Akhirnya, mereka sampai di lingkungan keraton. Kinan berhenti sejenak di bundaran. "Masjidnya...." gumamnya. "Kenapa berhenti, Nan?" "Nanti dikatakan orang lagi, lo. Udah sampe kan? Itu keratonnya di depan." Lagi, Kinan tak menjawab ucapan apapun. Hanya mengangguk dan menyalakan mesin kendaraannya lagi. Di depan keraton, sudah ada Oki dan Nia yang menunggunya. "Akhirnya.... kemana aja, nih?" Sapa Nia memeluk eratku. "Gapapa kan, Tan?" "Kinan jalannya ngebut ndak? Kamu gimana? aman?" Aky tersenyum. Sambil menenangkan Nia yang panik. Kinan pun tersenyum kecil mendengar sikap panik Nia. Tak banyak respon, ia berlanjut menyapa Oki. "Udah pesen tiket, Ki?" "Udah, nih. Udah 4 skalian." "Ok. Berarti langsung masuk?" "Iya." "Yuk!" Ajak Kinan pada Nia dan aku. Kinan memersilakan Nia dan aku berjalan di depan. "Nan.... kamu gak jalan di depan aja? Aku gatau tempatnya." "Gimana, Ki? Oki aja deh. Aku biar di belakang." Kali ini, ekspresi Kinan makin nampak berbeda. Keceriaannya seolah larut sejak ia melanjutkan perjalanan dari masjid tempat berhenti tadi. Aku menatap Kinan. Berusaha membaca apa yang sebenarnya dipikirkan dan dirasakan laki-laki beralis tebal yang ia sayangi sekaligus ia benci dalam satu waktu itu. "Kok malah ribut? Yaudah.... yang tau siapa? Oki tau kan?" "Oki di depan. Kita bertiga yang di belakang. Ok?" "Ok." Jawab Oki singkat. "Yuk, Nan! Kok malah nglamun!" Tegur Nia. "Nan...." panggilku. "Ya?" "Kamu beneran gapapa? Sakit?" Aku mulai mencemaskan sikap Kinan yang agak aneh kali ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN