"Udah siap?"
"Udah, Nan." Jawab Nia.
"Hati-hati, Ki. Itu orang bawel minta ampun. Siapin sabar yang banyak," ledek Kinan.
"Hush!"
"Kinan...." Aky mencoba meleraikan bercandaan itu.
"Nia baru aja sembuh. Nanti jangan ngebut, ya. Kasian."
"Nah, gitu dong. Makasih, Tan!"
"Udah ah. Yuk... berangkat."
Aku dan Kinan berboncengan. Demikian juga dengan Nia dan Oki. Keempat orang itu, dipertemukan waktu dalam kesempatan yang sama; sebuah perayaan persahabatan.
"Nan... Ibu beneran ngijinin?" tanyaku dalam perjalanan.
"Iya. Emang kenapa? Masih kawatir."
"Iya. Kamu kan suka nekad."
Kinan tersenyum di balik helmnya. Mencoba melihat ekspresiku dari spionnya.
"Tan...."
"Hum?"
"Kamu tuh ya... emang gak kenal aku?"
"Maksudnya?"
"Senekad-nekadnya aku, kalau urusan pergi apalagi sama kamu yang Ibuku udah kenal, pasti ijin dulu. Gamungkin pergi gitu aja."
"Syukurlah."
"Nah, Ibumu sendiri gimana?"
"Sebenernya agak berat ninggalin Ibu. Tapi begitu aku cerita pergi sama Nia dan kamu, Ibu malah nyuruh. Ngebolehin."
"Tuh kan."
"Tuh kan apa?"
"Ibumu merestui."
"Kinan," jawabku tersipu malu.
"Eh jangan cubit dulu, please. Gemesnya ditahan ya. Lagi nyetir."
"Maaf. Lagian kamu ngeselin."
"Ngeselin apa nganenin?"
"Tau."
Perjalanan dari Brebes ke Cirebon memakan waktu satu seperempat jam. Jalanan pantura kala itu tak terlalu ramai. Kendaraan yang Kinan dan Oki pun melaju tak begitu kencang.
Hanya semilir angin yang kian begitu dingin. Hangat mentari dan semilirnya, menjadi paduan yang cukup syahdu.
"Nan... "
"Ya?"
"Pernah menyangka kita bakal kegini?"
"Maksudnya?"
"Ya baikan kegini. Apalagi sampai pergi bareng."
"Ndak. Bahkan aku masih sering berpikir ini seperti mimpi, Tan."
"Sama."
"Ternyata memaafkan itu melegakan, ya. Meskipun...."
Drrrttt!!
Kinan mengerem mendadak sepeda motornya. Mengagetkanku yang sedang bicara. Kinan pun kaget melihat kucing yang tiba-tiba menyebrang begitu saja.
"Kinan! Ada apa?" Aku pun menghentikan dialog itu. Berbalik kawatir pada Kinan.
"Tadi ada kucing yang hampir ketabrak. Maaf ya, ngagetin."
"Tapi ndak sampe ketabrak kan?"
"Ndak... untungnya tadi bisa berhenti."
"Hati-hati, Nan. Kamu juga nggak papa, kan?"
Kinan tersenyum, "Nggak papa."
"Udah siap jalan lagi?"
Aku mengangguk setuju.
Aku tak lagi melanjutkan perkataanya. Padahal, hal itulah yang masih mengganjal hatinya. Membuat ragu kian berkepanjangn setiap melihat Kinan.
Keraguan kian menyelimutiku. Namun, Aku pun tak tega kalau tak memaafkan Kinan.
"Kenapa, Tan? Kok diem? Apa nggak tertarik ke Cirebon?"
"Eh... bukan, Nan. Aku juga tertarik, ko. Belum pernah ke keraton juga."
"Terus? Oh ya, tadi mau lanjutin ngomong apa? Pas sebelum ngerem mendadak."
"Oh... ndakpapa. Lain kali aja."
"Beneran?"
"Iya."
"Yaudah deh. Boleh tolong lihat google maps?"
"Emang gak tahu jalannya?"
"Tau. Cuma buat jaga-jaga aja."
Aku membuka ponsel dan mencari google maps sesuai arahan Kinan.
"Udah?"
"Udah."
Sementara, Nia dan Oki di depan sepeda motor Kinan. Kinan sangat mempercayai Oki untuk urusan travelling. Apalagi keraton. Bahkan, ke daerah terpencil pun kemungkinan Oki tahu.
"Maaf, sebelumnya. Kita belum kenalan?" Sapa Nia.
"Oh iya. Kamu Nia kan?"
"Iya. Aku Nia. Kamu Oki 'kan?"
"Iya. Haha lucu, ya. Kenalan tapi udah tau."
"Hehe nggak papa. Satu kampus sama Kinan juga kah?"
"Awalnya iya. Tapi sejak Kinan memutuskan pindah, ya udah gak satu kampus lagi."
"Oh gitu... kamu sendiri?"
"Aku? Cuma mahasiswa kelas karyawan biasa, ko."
"Cuma?"
"Memangnya?"
"Bisa kuliah sambil kerja. Atau kerja sambil kuliah itu bukan cuma lo. Ndak semua orang bisa lakuin hal itu dalam satu waktu."
"Malah di luar sana, tak jarang yang kuliah saja belum tentu serius ngejalaninnya."
"Aku malah salut kalau ada orang yang bisa lakuin dua hal tersebut."
Nia melebarkan senyumnya. Entah apa yang dirasa, aroma kebahagiaan seperti baru saja dihirupnya.
"Ah, biasa aja ko. Aku cuma kawatir gak bisa bangun pagi. Makanya ambil kelas karyawan."
"Boong."
"Apaan?"
"Kata Kinan kamu kerja, sama Tania, kan?"
"Ih... Kinan cerita?"
"Ya."
"Cerita apa aja?"
"Ehm dikit."
"Apa? Please."
"Emang kenapa?"
"Ya nggak papa. Kawatir aja dia cerita yang ndak-ndak."
"Nggak, ko. Kinan juga bukan tipikal orang kegitu."
"Syukurlah."
"Udah lama kerja sama Tania?"
"Lumayan... sejak lulus SMA."
"Oh... lumayan juga, ya. Kapan-kapan aku main ke tempat kerjamu, boleh?"
"Tapi tempat kerjaku bukan buat mainan." Canda Nia.
"Ya maksudnya penasaran kayak apa sampe betah ngelakuin dua hal. Kuliah dan kerja sekaligus. Salut aku tuh."
Mendengar laki-laki memujinya berkali-kali, Nia seperti jatuh hati. Tak dipungkiri, pengalaman cintanya hampir selalu tragis. Ia pun bertekad mengubah karakter dirinya menjadi sangat ceria.
Yang mana sebenarnya, dulunya sebelum dikecewakan oleh atas nama cinta, dia sangat pendiam. Mirip denganku.
Barangkali memang benar. Salah satu hal yang dapat mengubah seseorang menjadi lebih bijak adalah jatuh cinta dan patah hati berkali-kali.
"Yaudah, nggakpapa. Main aja. Lagian masiu di Brebes kan? Ndak ikut pindah kayak Kinan?"
"Iyalah. Ngapain juga pindah? Cuma paling bolak-balik aja kalau mau ketemu Kinan."
"Emang harus sering ketemu?"
"Iya. Mungkin ke depannya bakal gitu."
"Kenapa emang?"
"Ceritanya agak panjang. Nanti deh lain kali aku ceritain."
Kendaraan besar seperti truk mulai sesekali terlihat melintasi sepanjang jalanan pantura. Sudah satu jam perjalanan itu. Hanya tinggal belasan menit, tempat yang mereka tuju pun sampai.
"Nia...." panggil Oki.
"Ya?"
"Kalau agak ngebut dikit ndakpapa?"
"Ehm... sebenernya aku suka ngebut. Tapi... eh Kinan mana? Kok di belakang gak keliatan?"
Oki memeriksa spionnya. Mencoba mencari jejak sepeda motor Kinan.
"Oh iya. Kok gak keliatan, ya?"
"Atau... selama ngobrol tadi, jangan-jangan Kinan sudah mendahului kita?"
"Kayaknya nggak deh. Aku gak liat Kinan lewatin kita."
"Ya mungkin aja kan? Tadi kan kita juga asik ngobrol."
"Iya juga si. Jadi? Gimana?"
"Yaudah langsung aja ke lokasi. Kita nunggu di sana. Palingan Kinan sama Tania udah di sana."
"Ok."
"Hati-hati tapi, ya."
Oki dengan sepeda motor matic merahnya, menambah laju kecepatan. Makin membuat jarak dengan laju Kinan.
"Gimana? Masih ok kan google mapsnya? Aku agak lupa jalannya, nih."
"Ehm... coba kamu yang liat."
"Hmmm emang dari dulu cewe paling susah liat peta, ya? Tapi kenapa ada Dora The Explorer yang liat peta? Bukan Deri The Explorer?"
"Kinan.... serius."
"Haha... yaudah kita berhenti dulu bentar, ya."
Kinan menepikan sepeda motornya di pinggir jalan. Kerumunan orang mulai ramai terlihat. Ternyata, mereka memang berhenti di sebuah pasar.
"Eh, tapi kita tadi udah lewatin gerbang selamat datang kota cirebon belum?"
***
Hari itu, perjalanan dimulai. Belum ada tanda-tanda aku akan mengungkapkan keraguannya. Namun, sampai kapan? Bukankah hanya akan menjadi boomerang saja? Simak terus kelanjutannya, ya. Pun, bagaimana dengan jawaban yang masih kusimpan?