Tak ada yang benar-benar pasti di dunia ini. Pun rencana-rencana kita. Kalau ia tak terlaksana, ia larut dalam wacana. Sebagian jatuh di jiwa. Dan sebagian lagi jatuh di mana saja.
Dari berbagai rencana manusia, barangkali lingkar pertemanan menyumbang banyak hal di dalamnya. Besok mau kemana? Liburan kemana? dan berbagai rencana lainnya.
Namun, apa jadinya kalau pertemanan dan hubungan kekasih menjalin rencana? Apakah akan berjalan mulus sesuai harapan?
"Tan! Kuy cepetan!" ajak Nia padaku yang sedang membenarkan tali sepatu sneaker putihnya. Ada motif timbul bercorak tiga bunga daisy. Nampak begitu manis sekali.
"Jarang-jarang nih pake sepatu sneakers. Kamu keliatan tambah cantik dan...."
"Dan apa?" Aku penasaran apa kesan yang Nia akan lontarkan.
"Dan... menyebalkan! Weee" Nia tertawa meledek.
"Ih... apaan, sih. Yuk! Katanya tadi suruh cepatan!"
"Oh ya, Kinan belum tak hubungin."
"Kirain udah dari tadi."
"Sorry.... sorry... lupa gue."
Tuuuuttt. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
"Eh... malah ndak aktif."
"Gimana, Ni?"
"Gatau, nih. Hpnya ndak aktif."
"Oh mungkin lagi perjalanan, jadi hpnya dimatiin."
"Tapi ndak biasanya."
"Biasanya juga tetep aktif, ko," Nia menimpali lanjutan ucapannya sendiri.
"Terus? Kita mau nungguin di sini atau dimana, nih? Ntar dikira mau naik Bus kalau nunggu di halte."
"Oh iya. Yaudah... kita cari tempat lain."
"Yuk, nunggu di sana aja."
Nia menunjuk sebuah taman kecil. Berbagai pohon cukup meneduhkan tempat itu. Suasana pagi yang mulai terik mentari, tak begitu terasa di sana.
"Udah jam setengah 8, nih. Jangan-jangan masih tidur lagi."
"Yaudah, sabar aja, Ni... kan mereka berdua juga perlu waktu perjalanan ke sini."
"Iya juga si. Kasian Kinan bolak-balik. Beneran kan Kinan balik ke Tegal kemarin?"
"Setauku sih iya. Makanya kita sabar nungguin aja dulu."
"Iya deh."
Beberapa pedagang kaki lima mulai menebar dagangannya. Ada juga yang berjalan kaki menjajakannya.
Pagi adalah harapan sore kemarin. Adakalanya memang benar adanya. Saat bangun pagi, kita seperti mendapat secercah harapan baru. Bagi siapapun yang merasa kecewa di hari kemarin, setidaknya memiliki berbagai alasan untuk mensenyumi hari ini. Mensenyumi harapan di pagi hari.
Harapan itu pun mulai tumbuh di mataku. Rambut hitam ini mulai tumbuh lebih dari sebahu. Jaket navy kesukaanku pun dikenakan pagi ini. Celana bahan longgar warna khaki menambah serasi di tubuhku yang kurus tinggi.
Meskipun manusia tahu tidak semua harapan akan berbuah, tapi entah bagaimana sebagian mereka masih saja senang melakukannya. Beberapanya memiliki alasan kenapa berharap.
Dan beberapanya lagi mengatakan bahkan bingung kenapa masih berharap. Masuk golongan manakah perasaan aku hari ini?
"Eh, Tan. Udah sarapan belum?"
"Udah, si... tapi laper lagi."
"Kurus-kurus. Makan banyak."
"Enggak gitu juga. Tadi cuma sarapan bubur. Makanya mungkin cepet laper."
"Yaudah gih... mumpung banyak pedagang tuh. Beli aja. Mau bareng?"
"Emang mau beli apa, Ni?"
"Lengko."
"Yaudah aku juga."
"Pedes?"
"Sedeng aja."
"Ok. Tunggu di sini ya, Bund."
"Ok, Bund." Gelak tawa memenuhi pagi mereka.
Tak berapa lama kemudian, Nia kembali dengan dua bungkus nasi lengko. Satunya pedes dan sedang.
"Nih. Yang sedeng punya kamu."
"Makasih, Bund."
"Ah jangan manggil itu lagi lah. Aneh."
"Lagian kamu yang mulai."
"Iya-iya. Eh ini minumnya."
"Aku juga bawa air, ko."
"Gapapa. Teh hangat di pagi hari lebih nikmat," celetuk Nia.
Nia sesekali memeriksa ponselnya. Berharap ada panggilan telepon balik dari Kinan. Namun, malah alpa. Tak ada pesan atau panggilan darinya.
"Ini Kinan kemana, ya? Masa ndak ngabarin, si? Ndak biasanya dia kegini."
"Yaudah.... sabar aja. Mungkin hpnya emang lowbat."
"Biasanya tuh selalu ngabarin kan. Kamu juga inget kan? Pas SMA dulu, kalau kita pergi dia yang lebih cerewet ngabarin?"
"Haha iya, bener si. Udak kayak emak-emak."
"Melebihi emak-emak."
"Siapa nih yang kayak emak-emak?" Tiba-tiba suara Kinan muncul begitu saja di balik mereka berdua.
"Eh Kinan?! Sorry..."
"Maaf, ya. Kita pikir ada problem. Jadi karena laper nungguin, makanya makan. Mau makan juga?"
"Ehm gimana, Ki?" tanya Kinan pada temannya—Oki. Laki-laki bertubuh sedang dan berkulit sawo matang itu.
"Boleh."
"Yaudah boleh. Beliin ya, Maaak," ledek Kinan pada Nia.
Pukkk!!
Nia melempar bungkusan berisi kerupuk pada Kinan.
"Eh makanan lo. Jangan dilempar-lempar."
"Yaudah bentar, ya. Aku cuci tangan dulu."
"Siap, Maaak."
"Ki... duduk." Pinta Kinan.
Sementara, Aku melipat bungkusan nasi lengkonya dan bersiap membuangnya.
"Yaaah udah habis aja nih."
Aku tersenyum. Tak menjawab apapun.
Tak berapa lama, Nia kembali dengan dua bungkus nasi lengko.
"Eh, lupa nanya pedes apa ndak."
"Gapapa, Maaak. Apapun makanan yang Emak sajiin, enak ko," Kinan masih saja meledek Nia.
"Kinan....," Aku menegur Kinan perlahan.
"Iya, becanda. Maaf, Maaak. Eh, Maaf, Ni."
"Udah gapapa. Kayak sama siapa aja. Udah, makan dulu. Sebelum berangkat."
"Eh, mau kemana emang?"
"Hayoo... kemana?"
"Kemana, Nan?" Aku bertanya pada Kinan.
"Ehm... kita sih ada dua rekomen ya, Ki?"
Oki mengangguk. Sembari menyantap nasi lengko di depannya.
"Pertama ke Cirebon. Pilihan kedua ke Tegal lagi paling."
"Emang ada apa di Cirebon, Nan?" Nia mulai penasaran.
"Ada yang berbau sejarah gitu, ndak? Kayaknya asik nih ke tempat kayak candi gitu. Kita kan belum pernah, kan?" lanjutnya.
Aku hanya tersenyum melihat antusias Nia.
"Yaps! Di sana ada keraton kasepuhan. Rekomended deh. Kalian bisa browsing dulu."
"Wah... bentar-bentar." Nia segera berselancar di ponselnya. Mencari tahu tempat yang dikatakan Kinan.
"Kalau ke Tegal, kemana?" Kini, Aku yang bertanya.
"Ke rumahku lagi. Mau?" Ledek Kinan.
"Kinan... seriuss."
"Aku juga serius."
"Cie..." ledek Nia.
"Yaudahlah. Aku diem aja."
"Iya-iya bercanda. Kalau ke Tegal paling ke Bumijawa. Banyak wisata outdoor. Kayak curug gitu. Mau?"
"Aku sih terserah supirnya aja."
"Hoho... hayo mau kemana, nih? Mumpung sudah tak ajak guidenya."
Kinan memperkenalkan Oki yang memang sudah lebih sering berwisata kemana-mana. Lebih mumpuni terkait wisata dan travelling.
"Aku setuju deh ke keraton kasepuhan Cirebon. Gimana, Tan? Kamu juga kan? Nih... kayaknya tempatnya epik banget." Nia memperlihatkan ponselnya.
Aku memperhatikannya. "Boleh."
"Ok. Deal. Kita ke Cirebon, yah. Gimana, Ki? Ndakpapa?"
"Siap. Gapapa dong."
"Yaudah pas udah habis juga makanannya."
"Laper nih?" Ledek Nia.
"Iya. Kebanyakan angin sepanjang jalan."
"Nan.... udah ijin Ibu kan?"
Kinan mengangguk, "tenang aja. Ibu udah ijinin, ko."
"Syukurlah. Biar tenang." Jawabku.
Kinan tersenyum sambil berceletuk, "iya, gamungkin keluar tanpa ijin Ibu. Itu yang selalu kamu bilang kan?"
Aku tersipu. Ternyata, Kinan masih menjaga ingatannya. Dari hal-hal yang menurutnya kecil dan gapenting sekalipun.
"Yaudah, yuk. Berangkat!" Ajak Kinan.
***
Apakah perjalanan wisata itu akan berujung jadi kenangan manis atau sebaliknya? Simak terus, ya.