Part 38 - Menjenguk Sahabat

1025 Kata
Aku mengangkat wajahku yang menunduk. Lalu berjalan mengejar kembali langkah Kinan. Kini, kami terus berjalan beriringan. "Nah... gini kan lebih tenang." "Hum?" Aku menengok wajah Kinan. Seolah kembali mencari sesuatu yang membuatku terasa nyaman di dekatnya. "Kenapa?" Ledek Kinan mengagetkanku kembali. "Gapapa. Wee." Kini, aku yang menjulurkan lidahnya. Balik meledeknya. "Yuk cepetan. Nia ntar nungguin lo. Oh ya, temennya yang namanya Oki tadi, gimana? Nungguin juga kah?" "Kenapa? Naksir?" "Apaan si. Maksudnya barangkali nungguin kamu. Aku kan kawatir aja." "Ndakpapa, ko. Tenang." "Kamu haus ndak?" "Dikit." "Jus alpukat, mau?" "Boleh." "Bentar, ya." Aku berjalan menuju ruang tunggu. "Aku nunggu di sana, ya. Nanti biar masuknya bareng." "Siap, nona!" "Apaan nona." "Nona dongeng." Terik mentari justru bersinar makin terang menjelang sore itu. Agak aneh cuacanya. Rumah sakit itu tak begitu jauh letaknya dari tempat semula kami duduk bersama. Setidaknya, perjalanan yang kami tempuh tak memakan terlalu energi. Namun, mungkin karena es jeruk sebelumnya juga diminumku, Kinan jadi terlihat kehausan banget. "Oh... akhirnya." "Nih." "Lho kok belum diminum? Katanya haus?" "Ndakpapa. Mau minum di sini deket kamu." "Apaan si, Nan. Daritadi kamu gombal terus." "Emang gak boleh?" "Tau." "Cieee." "Apaan. Kita mau jenguk Nia. Bukan pacaran di bioskop!" "Emang udah pernah pacaran di bioskop?" "Belum." "Belum? Berarti mau kalau diajak?" Kinan menggodaku. "Apaan si. Udah minum abisin tuh." "Kamu juga dong." "Bentar lagi langsung ke ruangan Nia, ya?" "Siaaap." "Gimana? Eh ini kan malam minggu juga. Mau nonton film?" "Ngajak ngedate ceritanya?" "Sekali-kali. Itung-itung ngerayain hari balikan. Sekaligus menunggu jawaban. Ehem." Kinan membenarkan kerah bajunya. Aku tersipu malu. Berburu meminum jus alpukat yang diberikan Kinan. "Biasa aja minumnya. Jangan mendadak langsung habis gitu dong." "Kok tahu?" "Ya kan plastik gelasnya transparan atuh. Haha kamu tuh lucu kalau salting." "Kinannn udah, ah! Jangan ngeledekin mulu." "Lagian kamu lucu." "Terus kalau lucu mau apa? Hah?" "Mauuuu.... ajak kamu!" Kinan meraih tanganku tiba-tiba. Menggenggam eratnya. Seketika berdiri dan berjalan di sisinya. "Kinan...." Mataku terbelalak melihat tingkah Kinan yang sangat manis hari ini. Aku tak pernah menyangka perihal memaafkan ternyata sesederhana itu. Selama ini yang membuatnya rumit hanya egoisnya sendiri. Bagaimana mungkin, takdir mempertemukan mereka dengan mudahnya? Dan perihal memaafkan, yang selama ini membuat rumit, justru jadi jalan mencairkan suasana? Sungguh, kami tak menduganya sama sekali. "Udah... udah lima menit. Katanya mau jenguk Nia, kan?" "Tapi...." Aku melirik tangan Kinan yang erat menggandengnya. "Gapapa. Tenang, ya. Skalian bikin seneng sobat bawelmu itu. Pasti bakal seneng liat kita baikan dan malah tambah romantis." Ucap Kinan diiringi senyum termanis yang pernah aku lihat dalam hidupnya. Heeek!! Tiba-tiba, suara cegukan keluar begitu saja dariku. "Ups, maaf." Kinan malah tersenyum. Sedikit tertawa dan makin mempererat genggaman tangannya. "Makanya kalau sayang, jangan ditahan. Cegukan, kan." Ledek Kinan. "Apaan, sih." Aku dibuatnya kian malu. "Ruangan mana?" "Anggrek nomor 7." "Ok. Sini berarti." Begitu pintu terbuka, suara teriakan menyeruak begitu saja. "Huaaa Kinan.. Tania!!" "Sssst.... tenang." "Kalian? Baikan? Uhhh." Mata Nia fokus melihat Kinan yang menggandeng tanganku. Padahal, sepanjang perjalanan menuju ruangan Nia, aku sudah memberi tanda agar melepaskannya. Namun, Kinan tetap memegang erat. Kinan tersenyum. "Ya dong. Eh, gimana kabarnya?" "Duduk dulu, Nan. Tan. Sini... " "Yaampun. Lupa. Kita sampe lupa gak bawa apa-apa. Deuh, sorry ya, Ni." Ucap Kinan. "Udah, gapapa. Nanti aja traktir aku kalau sehat. Ok?" "Haha ada-ada aja. Ok lah." "Biar kita kayak dulu lagi. Bisa hangout bertiga. Ya kan, Tan?" Aku tersipu saja. "Gimana, Ni? Masih sakit?" "Ya sakit si. Tapi gapapa, ko. Paling besok udah boleh pulang." "Maaf, ya gara-gara aku, kamu jadi keserempet." "Udaaah ini emang salahku kurang hati-hati waktu itu." "Udah ah, jangan bahas yang itu. Mending bahas yang seneng-seneng aja. Setuju?" "Setuju!" Kinan menyambut keceriaan Nia." "Tania?" Aku mengangguk, "ok, setuju." "Nah, sekarang coba ceritakan padaku. Sejak kapan kalian baikan? Hum?" "Ehm...." Aku kikuk mau menjawabnya. Lalu melirik ke Kinan. Sebaliknya, Kinan malah melirik ke arahku. Seolah memberi tanda untuk menceritakannya. "Hayo... jangan saling memandang gitu, ya di depanku. Bikin iri aja kalian!" Celetuk Nia. "Yakin? Gamau ada yang ceritain?" "Iya-iya. Ehm sebenarnya sejak tadi." "Tadi?" "Maksudnya hari ini." "Oh ya? Kalian ketemuan?" Nia sangat antusias sekali bertanya seputar sahabatnya itu. Maklum, selama ini Nia yang sangat berusaha mempersatukan mereka kembali. Berbagai hal dia lakukan semata untuk kebaikan hubungan mereka. Satu per satu dia lakukan. Sampai menjadi jembatan komunikasi antar keduanya pun dilakukan. Semata wujud pedulinya sebagai sahabatku. "Hayo? Kalian ketemuan?" "Kok diem?" "Nia... kenapa kamu penasaran banget?" "Ya gimana nggak penasaran. Aku tuh excited banget tiba-tiba dapat videocall dari Kinan dan kamu, Tan." "Aku tuh dari tadi menduga-duga sendiri. Kok ponsel Kinan ada di tangan kamu? Kok bisa kamu duduk di sebelah Kinan?" "Sumpah, ya. Excited banget gue." "Mulai nih. Keluar bahasa gaulnya." "Ah, biarin deh ya, Nan. Maaf, ya. Susah ngilanginnya." "Ayo... back to the topic. Jadi kalian beneran ketemuan?" "Kinan deh. Coba ceritain. Kenapa kalian bisa baikan gini?" "Karena jodoh, mungkin." "Wuuuuu." "Hihhhh." Aku refleks kembali mencubit tangan Kinan. "Aw! sakit tau!" "Lagian jawabnya ngasal gitu." "Ya gapapa siapa tahu beneran. Ya kan, Ni?" "Nah, gue suka gaya Kinan yang kegini, nih. Ah, udah deh. Nanti aja pas gue udah keluar dari rumah sakit dan kita hangout bareng. Pokoknya mesti adain perayaan!" "Yah? Gimana?" "Aku sih ok. Tapi gatau tuh." "Tan? Setuju kan?" "Uhm... emang harus?" "Harus dong." "Kamu kan masih sakit, Nia. Harus banyak istirahat." "Kan ndak harus outdoor. Ya kan, Nan?" "Eh, nggak ganggu kuliah kamu kan? Keberatan ndak Tegal-Brebes?" "Ndakpapa. Masih deket, ko. Mau keluar Brebes juga hayuk. Eh, tapi kamu sama siapa, Ni?" "Oh iya. Siapa, ya.... ehm. Oh, ya siapa, ya?" "Kita kan gapunya temen cowok deket lagi." "Iya. Makanya cari. Jangan sibuk comblangin temennya mulu." Ledekku. "Apaan sih." "Oh ya, aku ada temen. Orang sini juga. Namanya Oki. Nanti aku kenalin deh. Gimana?" "Cocok!" Nia menawarkan tangannya untuk toss bertiga. "Setuju!" Kinan menyambutnya. "Setuju!! Disusul aku juga menyambut rencana itu. "Oh.... akhirnya bisa lihat kalian berdua balikan lagi. Bahkan, seromantis ini." Nia begitu terlihat sangat bahagia. *** Apakah benar baikan? Memangnya, aku terlihat dahulu seperti orang bertengkar berjauhan dengan Kinan? Sampai kapan kondisi ini akan tetap bersama? Dan tentang rencana perayaan itu, apakah akan makin membuatku dan Kinan akrab? Atau justru hanya jadi momen dan kenangan pahit ke depannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN