“Rania mau makan apa?” tanya Galang pada Rania saat kami berjalan keluar dari arena bermain. “Nggak usah aneh-aneh, deh, Pak. Nanti kalau ada yang kenal Bapak, gimana?” sahutku. “Cari tempat yang sepi, dong!” “Yang sepi biasanya makanannya nggak enak!” “Asal makannya sama kamu, jadi enak!” Aku melotot dan refleks menginjak sepatunya dengan keras, membuatnya mengaduh kencang. “Makanya jangan ngomong yang aneh-aneh!” ketusku. Akhirnya aku teringat pada sebuah kafé yang pernah kukunjungi, suasananya tenang dan tidak terlalu ramai. Kami pun meluncur ke sana. Saat tengah menunggu pesanan, seseorang datang ke meja kami.“Nadia, kan?” Orang itu tersenyum kepadaku. “Kak … Dito, ya?” Ternyata ia Kak Dito, kakak kelas satu tingkat di atasku saat SMA, ketua ekskul jurnalistik sebelum aku. “Ap

