“Mbak, ada yang mau bertemu pimpinan kafé.” Andri seorang waiter yang mendapat shift pagi, masuk ke ruangan karyawan tempat aku dan Safira, berada saat ini. “Katanya, mau masukkin proposal kerjasama. Pak Wira belum datang, Mas Galang juga.” Bergantian, ia menatapku dan Fira. “Mbak aja yang temui.” Fira menoleh padaku. “Oke. Minta dia menungguku sebentar, ya, Ndri.” “Siap, Mbak!” Andri mengacungkan jempol, lalu pergi meninggalkan ruangan. Sebelum keluar menemui tamu, aku menyimpan dokumen yang sedang kukerjakan di laptop dan membereskan berkas referensi yang berserakan di meja “Selamat pagi,” sapaku ramah pada pemuda yang menungguku di salah satu meja kafé. Proposal kerjasama apa yang hendak ia tawarkan? Agak aneh melihatnya yang berpenampilan casual serta membawa gitar. “Oh, pagi, Mba

