Hari Ayah

1428 Kata

Hampir pukul empat sore ketika tiba-tiba Rania muncul di depan kafe dan berteriak memanggilku. “Loh, Rania?” Aku memeluknya. Kupikir Arman akan menjemputku dulu baru menjemput Rania. “Kok, jemput Rania dulu?” tanyaku pada Arman. Jarak daycare ke rumah lebih dekat daripada ke kafé, harusnya dia menjemputku dulu biar sekali jalan. “Biar kita nggak cuma berdua saja,” jawabnya sambil berjalan ke arah mobil diikuti langkahku dan Rania. “Biasanya juga berdua, kan?” tanyaku heran. “Kalau cuma berdua, nanti yang ketiga setan, kecuali kita ....” Kalimatnya terhenti, ia lalu membuka pintu mobil untukku. “Kita apa?” Aku menahan pintu yang hendak ia tutup. Penasaran dengan lanjutan kalimatnya, lebih tepatnya penasaran apakah yang akan ia katakan sama seperti yang ada dalam pikiranku. “Nggak, ah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN