Aku Hamil

1229 Kata

“Sudah sarapan, Pak?” Aku tahu Galang marah. Sedari tadi ia hanya diam saja, fokus menyetir. Tidak biasanya dia begitu. “Belum!” Tuh, dia hanya menjawab singkat. “Ada pecel enak di deket sini, lho, Pak. Sarapan, yuk.” “Bang Wira suruh cepat ke kantor.” Sudah kuduga. Kalau Pak Wira yang memberi perintah, ia tidak akan berani membantah. “Bukan Pak Wira Pak, saya sebenarnya yang meminta.” Ia menoleh dan menatapku dengan heran. “Iya, saya yang minta Pak Wira telepon Bapak suruh cepet ke kantor,” kataku sedikit merasa bersalah. Ia diam saja. Namun, dari caranya menginjak pedal gas sehingga laju kendaraan menjadi lebih kencang, aku tahu ia sangat kesal. “Makasih, ya, Pak, sudah mau nemenin anak saya di Hari Ayah.” Aku mencoba menenangkan hatinya. “Tapi tetap pamannya yang lebih berhak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN