Pedekate

1220 Kata

Sepanjang perjalanan di taksi aku merenung, salahkah ia menyukaiku? Jelas salah! Kujawab sendiri pertanyaanku dalam hati. Aku istri kakaknya.Kenapa dia tega diam-diam menyukaiku. Jadi, selama ini ia memandangku sebagai perempuan yang disukainya? Bukan kakak iparnya? Lalu saat Mas Arya tiada, sedihkah ia? Atau malah gembira karena itu artinya bisa memperjuangkan lagi cintanya. Namun, bukankah perasaan itu datang dengan sendirinya? Sisi hatiku yang lain membelanya. Toh selama ini ia tidak pernah macam-macam denganku malah cenderung menjaga jarak saat mas Arya masih ada. Itu artinya ia menghargai aku sebagai istri kakaknya. Ah, lama-lama, aku pusing sendiri memikirkannya. “Mama, kok, kita nggak bareng sama Paman, sih?” Pertanyaan Rania membuyarkan lamunanku. “Paman lagi buru-buru mau lan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN