1. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
“Mulai besok, berangkat kerja dari rumah ayahmu!”
Mata Dinan mencelang. Dunianya mendadak hening setelah mendengar kalimat sarat akan makna di akhir hari yang melelahkan. Apa ini? Dinan bahkan baru saja pulang mengajar. Ia lantas menoleh perlahan ke arah suaminya yang berada di kursi kemudi.
Keduanya hanya diam dan membisu sepanjang perjalanan. Sementara Dinan masih berusaha mencerna situasi sampai ia menyadari bahwa suaminya itu sungguh mengemudikan mobil ke komplek orang tuanya. Dinan tak habis pikir dalam diamnya.
“Turun!” pinta Juna dengan nada datar. Ia bahkan tak menatap paras menawan sang istri. “Besok aku bawakan seluruh barang-barangmu. Gara juga sudah ada di dalam.”
Meski tampak tenang, sejatinya pikiran Dinan sedang kusut. Ia melepaskan sabuk pengaman. “Jadi, kamu beneran selingkuh, Mas?”
“Seharusnya kamu bisa menceraikanku dari awal. Kenapa kamu masih mau bertahan?” Juna bertanya balik tanpa memandangi lawan bicaranya.
Dinan menepuk satu bahu Juna. Tatapannya sangat tajam. “Tatap aku, Mas!”
Pun pada akhirnya lelaki bermata bening itu menatapnya.
“Kamu benar-benar mendua?” Dinan memastikan lagi dengan tegas.
“Kenapa kamu harus bertanya? Sudah banyak yang memergokiku. Kamu juga tau!”
Dinan mengangguk tegas. “Banyak. Banyak sekali bukti itu. Tapi aku nggak akan percaya sebelum aku menemukan buktinya sendiri.”
“Kenapa kamu nggak mencari bukti itu setelah melihat bukti dari yang lain?” sarkas Juna.
“Untuk apa? Aku percaya sama kamu, Mas.” Leleh air mata ibu satu anak itu tak terasa. “Aku nggak mau mencari bukti apa-apa kecuali aku menemukannya secara alami.”
Jun mendengus kasar, menurunkan tangan sang istri dari bahunya. “Kamu naif atau bodoh?! Setiap manusia punya setan kecil dalam diri mereka!”
Rahang Dinan bergetar seiring mengeras terpengaruh emosi yang semakin tak stabil. Hatinya berguncang dahsyat. Ia benar-benar tidak menyangka bisa mendengar pengakuan dari suaminya yang mendua. Jika sampai ingin berpisah, Juna pasti sangat terobsesi dengan perempuan gatal itu. Semua bagai mimpi buruk di sore hari yang meneduhkan.
“Aku sudah bicara dengan ayah. Aku juga akan mengurus semua berkas supaya segalanya cepat terselesaikan. Jangan khawatir! Aku akan tetap menafkahi Gara.”
“Nggak!” sentak Dinan. Lantas menoleh ke ara pria itu dengan mata berkaca-kaca. “Aku nggak akan sudi darah dagingku diberi nafkah oleh seorang pengkhianat.”
Ibu satu anak dalam balutan seragam tersebut menenteng tas-nya, memberikan tatapan sinis untuk terakhir kalinya setelah 10 tahun hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Dari awal memasuki usia dewasa, sampai akhir usia dua puluh tahunan. Mereka tumbuh bersama.
Sejujurnya setengah tahun belakangan ini, Dinan sering kali mendapatkan pesan dari orang di sekitarnya yang memergoki Juna mendua. Bahkan sampai ada yang menemukan mereka bermesraan di klub malam hingga melakukan pemesanan kamar hotel. Tapi Dinan tidak pernah memedulikan itu. Selagi tak memergokinya sendiri, ia merasa itu hanyalah kebohongan.
Juna adalah seorang politikus yang kerap kali mendapat sudutan dari sana-sini, pun mendapatkan berita bohong juga sudah hal biasa. Apalagi Juna terkenal bersih. Lagi, ada Gara—putra sematawayang mereka yang harus dijaga. Dinan tak mau ambil pusing.
Namun setelah Juna mengaku, Dinan merasa perceraian itu haruslah terjadi. Ia tidak sudi mendampingi pengkhianat sepertinya, meski rasanya sangat sakit. Juna yang Dinan kenal adalah sosok yang bersahaja, dewasa dan menenangkan hidupnya. Juna juga pendengar yang baik. Entah setan apa yang merasukinya. Sungguh memasuki ranah politik itu menyeramkan.
Tangis yang sejak tadi tertahan, akhirnya meledak di balik bantal. Suara tangis yang tertahan, namun tumpah semuanya.
Sejak tadi ia menahan diri untuk tidak lemah, namun saat sendiri, ia hanyalah seorang wanita yang memaknai segalanya lewat perasaan. Tangisannya kini adalah satu-satunya cara Dinan berbicara ketika mulut tidak bisa menjelaskan betapa hancur hatinya.
Meski telah mendapatkan ujian yang begitu besar dalam hidupnya, Dinan tak juga lengah. Ia bersikap seolah tak ada yang terjadi setelahnya—meski tak bisa dipungkiri jika mata bengkaknya itu sedang menunjukkan keadaannya.
“Kamu nggak usah kerja dulu, Din. Kita urus dulu semuanya sampai selesai,” tutur ibu.
“Juna mau urus semuanya. Nggak ada yang perlu aku urus.” Dinan menjawab sambil tersenyum, lalu memakai sepatu.
“Bunda!”
“Aiiih, anak bunda.” Dinan merentangkan tangannya agar putra sematawayangnya itu bisa berlari ke dalam dekapan. “Gara sudah siap berangkat sekolah?”
Bocah lelaki sembilan tahun itu tampak polos dan menggemaskan. Ia mengangguk dengan semangat tanpa tau apa yang terjadi pada ayah dan bundanya.
“Ibu, aku mau antar Gara sekalian.”
Pun ibu tak bisa berbuat apa-apa. Tak bisa menahan putri bungsunya yang gigih terhadap banyak hal. Meski begitu, ibu seolah bisa membaca hati Dinan yang rapuh.
Dinan tak punya ruang untuk meratapi nasib. Dinan tetap kokoh. Melakukan berbagai kegiatan seperti biasanya. Ia datang ke sekolah untuk melakukan tugasnya sebagai guru bimbingan dan konseling di sela pelik kehidupan rumah tangganya. Ia juga selalu hadir dalam persidangan perceraian di sela kesibukannya, meski Juna hanya diwakili oleh pengacara.
Bak sudah jatuh tertimpa tangga.
Sekolah mengalami kebakaran. Dinan mengevakuasi para murid sebisanya. Ia bahkan rela terjebak dalam kobaran api dan asap yang menebal demi mendahulukan murid-muridnya. Kecantikan Dinan itu tak pernah luntur meski membercak asap dan debu.
Sesekali perempuan berambut panjang itu terbatuk-batuk saat mengevakuasi murid-murid.
“Ayo, Nak! Lewat sini!” seru Dinan berusaha mencarikan celah agar mereka bisa turun.
Setelah dirasa beres, Dinan melindungi kepalanya dari atap yang mulai berjatuhan. Namun suara rintihan membuatnya mengurungkan niat untuk menyelamatkan diri.
“Miss Dinan, tolong!”
“Astaghfirullah!”
Meski agak kaget, Dinan tetap tenang. Ia tidak panik demi bisa menyelamatkan murid perempuan yang tak berdaya terhimpit reruntuhan benda. Dinan membantunya meski sesekali tangannya tersentuh api. Mereka pun terjebak. Tak ada jalan keluar. Semua sudah dipenuhi si jago merah.
Hanya ada jendela. Dinan merangkul muridnya untuk mencapai jendela.
“Yang kuat, ya, Nak!”
Dinan tak punya pilihan lain selain melompat dari lantai tiga. Ia memperkirakan bahwa kemungkinan tidak akan mati setelah jatuh ke atap mobil, meski apapun bisa saja terjadi.
Lompatan itu membuat Dinan berakhir kritis. Dan saat terbangun, ia linglung. Kepalanya dalam balutan perban. Ia hanya bisa mengingat anaknya dan juga muridnya. Beruntung murid itu bahkan tidak mengalami luka serius. Dan Segara Bumi, putra sematawayangnya tetap berada di sisi orang tua Dinan.
“Ke mana anakku?”
“Nanti, Dinan. Nanti akan ketemu Gara kalau sudah pindah ruangan, ya.”
“Aku mau ketemu sekarang!”
Pun akhirnya Gara dipertemukan dengan sang ibu. Ia lantas memeluknya erat, namun Dinan mendadak mengerjap. Ia meregangkan pelukan itu saat menemukan potongan memori sang anak terus menangis, mencarinya. Bahkan Dinan yang sempat tak ingat apa-apa, kini bisa mengingat kembali saat melihat ada sosok Juna dalam kepingan memori. Mantan suaminya itu berusaha membawa Gara pergi saat Dinan kritis.
“Apa ini?” Dinan memegangi kepalanya.
“Bunda kenapa lama sekali bangunnya?” Gara merengek lagi.
Air mata Dinan meluncur, lantas memeluk lagi sang anak. “Maafkan bunda, ya. Bunda nggak akan ninggalin kamu. Bunda nggak mau Gara pergi dengan orang lain.”
Dinan seperti terlahir kembali dengan berbagai pengaturan dalam tubuhnya yang sudah diperbarui.
Dan setelah itu, saat menyentuh siapa dan apa saja, ia bisa menemukan berbagai memori lain. Dari yang menyenangkan sampai menyedihkan. Sedangkan ada banyak hal dalam hidup yang sebenarnya tidak perlu kita tau kebenarannya. Itulah yang membuatnya frustrasi.