2. Bu Dinan

1246 Kata
Empat tahun berlalu begitu cepat. Berbagai fluktuasi terlewati dengan ironi. Sosok berambut panjang yang dikuncir itu masih menampakkan kecantikan di usia tiga puluh tiga tahun itu sedang mendisiplinkan murid-murid. Tak galak. Ia terlihat bijaksana dan disegani banyak orang di sekolah dan di desa. Dari papan nama yang tersemat di seragamnya, ia adalah wanita karismatik, Kanaya Dinanti, B.Ed, M.A. “Sudah masuk jam pelajaran, kalian masih nyantai jalan ke kelas?!” tegas Dinan. “Dari mana aja?!” “D-dari t-toilet, Bu. Sakit perut.” Dinan menyipit sembari mengais hipotesa, lantas tangannya menyentuh satu bahu murid lelaki itu. Ia memejam, masuk ke dalam memori yang terputar ke belakang membentuk seperti kaleidoskop dengan urutan gambar yang cukup jelas. Dinan membuka mata indahnya. Menatap murid tersebut. “Kamu masih berani bohong?” “E-enggak, Bu. Beneran.” “Berdiri di bawah tiang bendera!” “B-bu?” kagetnya. Mengingat suasana sedang terik meski mereka berada di kawasan yang sejuk. “Udah mau bel, nih, yuk ke kelas! Ah, ntar aja. Baru juga makan!” Ketiga murid itu terbelalak saat Dinan mengikuti gaya bicara mereka yang persis sekali seperti apa yang mereka lakukan saat jam istirahat. Dinan bersedekap. “Kenapa? Ada dialog yang kurang?” “K-kok ibu...,” “Kamu juga, Adrian. Udah tau mau bel, kenapa malah tetap ngikutin Dimas? Dia ketua geng? Hah?” Sorot mata tajam Dinan serta intonasinya yang penuh penegasan itu membuat anak-anak tak bisa berkutik. Hanya menunduk ketakutan. “Satu menit lagi!” teriak Dinan. Ya, dia hanya menjemur murid-muridnya selama lima menit. Bukan dengan ego, melainkan dengan berbagai pertimbangan. Tiga anak itu sudah makan siang, sehingga fisik mereka dipastikan kuat untuk berdiri. Wanita berambut panjang hitam berkilau dalam kunciran itu menatap langit biru yang bercahaya. Terik di desa tak menyengat, tapi menghangatkan. Inilah salah satu alasan Dinan betah tinggal di Desa Semanggi sejak lima tahun lalu. Setelah insiden kebakaran, Dinan mengalami trauma berkepanjangan selama satu bulan penuh. Kemudian sahabat lamanya bernama Yuli mendatangi. Dia pula yang mengajak Dinan untuk menetap di desa. Bersamaan dengan itu, Dinan membuka lembaran putih di sebuah desa yang teduh. Jauh dari hiruk-pikuk kota. Ia tenang dan aman di sana. Tak ada pula bayang-bayang mantan suami. Bahkan Dinan bisa memanfaatkan kemampuan psikometri yang dia benci untuk berbagai kebaikan. Salah satunya untuk mendisiplinkan calon penerus masa depan. Toh, selama tinggal di Desa Semanggi, Dinan tak pernah menemukan keanehan setiap menyentuh sesuatu. Tak seperti saat ia tinggal di kota. Tampak satu siswa dari lantai atas berjalan santai, lalu terhenti. Alih-alih menjadikan ketiga siswa itu sebagai salah satu pusat perhatiannya, namun pemuda itu justru menatap Dinan lekat-lekat. Senyum tipis terurai di wajah tampannya yang bersinar. ^^^ Seorang pria dengan tinggi 180 senti meter dalam balutan jaket bomber itu tengah berdiri malas membawa sebuah kotak. Ia menghempaskan satu napas yang berat sambil menatap bangunan Polres Bukit Wangi. “Seenggaknya daerah sini dingin, teduh. Lumayan.” Ia memantapkan langkah untuk masuk ke dalam polres. Berjalan dengan tatapan tegas. Tak ingin mempedulikan apapun selain ruangan tim investigasi kriminal. Dengan semangat, ia meletakkan kotaknya. “Mohon izin. Selamat siang, saya...” Belum sempat menamatkan kalimatnya, beberapa polisi bergegas keluar ruangan tanpa memedulikannya. Bahkan tubuh pria manis nan menawan itu harus terdesak. “Ada apa ini?” Ia bertanya pada yang lain. “Ada kasus kekerasan remaja.” “Kekerasan seksual? Atau tawuran?” “Mirip.” Dengan semangat membara, pria itu turut menyusul tim lainnya. Meninggalkan barang begitu saja. Ia masuk ke dalam mobil dengan tangan kosong. “Nana seperti biasa ke tempat nongkrong bocah-bocah. Tahan mereka di sana,” titah kepala tim. “Kalim dan...” Pria tua itu menyipit saat kedatangan polisi asing. “Siapa namanya?” “Siap! Renjana Kala Senja, Komandan!” Pun suasana menjadi sekonyong hening. Keempat polisi itu saling bertatapan, lantas menatap langit yang masih terang seiring dengan mobil yang melaju. “Ini masih sore.” “Aish!” Polisi tampan itu menggerutu. Namanya memang tidak pernah menguntungkan. ^^^ Dinan menyusuri ke bagian belakang sekolahan bertepatan dengan jam pulang sekolah. Sesekali ia harus menghentikan langkah saat tiba-tiba para murid menyalaminya. Bukan tidak suka. Hanya saja Dinan harus menjaga ketenangan diri saat tangannya bersentuhan dengan mereka. Sebab, banyak sekali memori tak penting terbaca olehnya. “Pulang dulu, Bu Dinan.” “Assalamualaikum, Bu Dinan.” “Waalaikumussalaam. Hati-hati semuanya!” Dinan melambaikan tangan sembari menghempaskan napasnya secara kasar. Ia lantas melanjutkan jalannya lagi ke belakang untuk memastikan hukuman ketiga muridnya tadi siang yang masih berlanjut. Mereka diwajibkan untuk memisahkan sampah yang bisa diolah kembali dan yang tidak. “Gimana? Sudah selesai?” tanya Dinan memastikan. “Dikit lagi, Bu!” “Tapi sudah rapi, kan, Bu?” Dimas mengedipkan satu mata. Dinan masuk ke ruangan pengolahan sampah sembari terkekeh. “Ngapain matanya kedip-kedip?” “Kehabisan baterai, Bu!” Meski Dinan adalah guru BK yang tegas, bukan berarti murid-muridnya takut dan berakhir membencinya. Dinan hanya disegani dan disayangi. Sebab, ia adalah seorang guru yang tidak pernah mengedepankan ego. Ia juga selalu bersikap seperti seorang ibu yang hangat di luar hukuman. “Kalian tau kenapa ibu hukum, kan?” “Tau, Bu. Nggak segera masuk kelas padahal sudah bel.” “Itu sekian kecil dari yang namanya ‘menyepelekan’,” pungkas Dinan dengan lembut sambil ikut membantu mereka memilah sampah. “Kita nggak boleh menyepelekan hal apa-pun. Kita harus disiplin. Kalau kalian belum sempat makan siang, maka kalian nggak usah kebanyakan main. Istirahat langsung makan. Paham?” Namun ketenangan sore itu mendadak terganggu dengan suara lari dari gang sebelah. Mereka penasaran, namun Dinan yang turun tangan. Ia melihat seorang gadis berseragam berlari panik. Pun Dinan reflek menyentuhnya sehingga beberapa kilatan memori sempat terbaca olehnya. “P-permisi.” Gadis itu minta dilepaskan tangannya dengan nada bergetar. Peluh membasahi wajahnya. Pun Dinan melepaskannya. “Hei!” Dinan menoleh. Ia menyipit saat seorang lelaki berjaket bomber itu menghampiri dengan napas tersengal. “Kenapa anak itu dilepas, Bu?!” tanyanya memerotes. Dinan menatap sinis lelaki manis tersebut dari atas sampai bawah. “Mas-nya polisi?” Pria itu berkacak pinggang. “Ibu ini sudah melepaskan penjahat, tau, nggak?!” Dinan tertawa menunjuk dirinya sendiri. “Hei, Mas!” Ia memutar badan pria itu. “Anak itu korbannya. Dari pada ngomel, sana kejar penjahat yang sudah mas-nya lepaskan!” “Aish!” Pria itu menghempaskan tangan Dinan, lalu justru kembali berbalik arah untuk mengejar gadis yang dilepaskan oleh Dinan. Dengan tenang, Dinan menarik baju polisi itu. Mengangkat tubuhnya dan membalikkan sampai tergeletak di atas permukaan. Bruk! “A-akh! A-apa-apaan ini?” “Kalau mas-nya beneran polisi, kedepankanlah pemikiran yang bersih bukan dengan ambisimu! Pantas saja dimutasi,” tutup Dinan meninggalkan polisi itu yang masih merintih kesakitan. “Akh!” teriak pria itu. Sementara Dinan berjalan menuju kantor untuk mengemas barang bersamaan dengan sayup-sayup suara yang tak juga membuatnya sadar. “Bu Dinan! Bu Dinan!” “Bunda!” Namun satu teriakan bertenaga itu membuat Dinan panik. Ia langsung menoleh ke berbagai sudut untuk memastikan. Pun senyumnya begitu menawan saat berhasil membidik seorang murid laki-laki dari lantai dua. Ia tampak bersinar, matanya bulat terang. Ia tampak mengacungkan dua ibu jari padanya. “Ayo cepat, kita pulang bareng!” seru Dinan pada putra sematawayangnya yang kini berlari cepat turun menghampiri sang ibu. Pun alih-alih mengejar target yang diduga melakukan kekerasan, Kala hanya berdiri sambil sesekali meringis kesakitan sembari memperhatikan wanita dalam balutan seragam guru. Ia menatap sambil menerka-nerka. “Siapa dia? Beraninya dia ngerendahin aku?” gerutu Kala kesal. “Sialan! Orang kampung nggak tau sopan santun!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN