3. Dia Lagi

1346 Kata
Sepanjang jalan kembali ke polres, Kala terus menggerutu karena suasana hatinya telah dihancurkan oleh emak-emak. Target pelaku kejahatan yang dicurigai telah hilang dari pandangan. Namun kegaduhan di dalam kantor membuatnya penasaran. Rupanya terdapat empat gadis yang sempat dilepaskan Kala saat berpatroli. “Kalian kenapa di sini?” tanya Kala. “Pak polisi ganteng, tolongin kita!” Mereka merengek. “Tolongin apane?! Masih berani kalian playing victim?” sentak Pak Amir dengan nada-nada khas jawa yang kental—selaku kepala tim investigasi. “Jangan belajar jadi preman. Apalagi kalian perempuan.” Pak Amir mengeluarkan bukti uang rampasan mereka. Kala mengusap wajahnya frustrasi saat menyadari bahwa gadis yang sempat ia kejar tadi memang bukanlah pelaku kekerasan, melainkan tiga gadis lain yang justru ia lewatkan karena rupanya mereka memiliki kemampuan akting yang mumpuni. “Aish!” Kala merasa dirinya bodoh. “Wah! Mas Kala tadi nggak nemu mereka?” tanya Nana memastikan. “Mereka mangkal di tempat patrolinya mas lo.” Kala hanya bergeming. Pikirannya berantakan. “Trus... kamu yang bawa mereka ke sini?” Nana menggeleng. “Bu Dinan yang nyeret mereka.” “Bu Dinan?” “Ah... Mas Kala belum tau.” Nana baru sadar jika Kala adalah pendatang. “Bu Dinan itu kepala BK SMPN 2. Dia kalau urusan kedisiplinan anak-anak sekolah memang juaranya.” Pun Kala kembali tertegun dalam diam sambil kembali menerka. Satu alisnya terangkat. “Jangan-jangan...” “Coba aja ke depan. Kayanya tadi masih sama tim humas.” Sekilas wanita itu tampak normal. Ia bahkan sangat cantik dengan dress santai. Wajahnya semakin berseri terpantul cahaya matahari sore yang teduh. Rambut hitam legamnya berkilau. Sepertinya ia juga keibuan sembari menggenggam erat seorang pemuda belia untuk berpamitan. Ah! Sial! Kala segera menghempas pikiran liarnya. “Oii! Tunggu! Permisi!” Pun Dinan dan remaja itu kompak berbalik. “Bu Dinan?” “Ah! Saya jadi merasa terhormat, padahal kita belum kenalan di pertemuan pertama tadi. Gimana? Punggungnya masih sakit?” tanya Dinan sangat ramah seolah tak ada yang terjadi. “Wah! Sebenarnya ibu ini siapa?” Kala menahan geram. Lantas pemuda belia itu berdiri di hadapan sang ibu. “Bapak ini kenapa, ya? Ada perlu apa sama ibu saya?” “Gara, kamu pulang duluan, ya, Nak. Bunda mau ngobrol sama om-nya dulu.” Dinan memberi pengertian. “Tapi bunda...,” Usapan tangan Dinan di kepala putranya membuatnya menurut. Lalu pergi meninggalkan ibunya dengan berat hati. Pun hal itu sempat mencuri perhatian Kala. “Saya Dinan. Mas-nya bahkan lebih dulu tau saya sebelum saya tau mas.” “Yakin?” Suaranya terdengar serak. “Padahal ibu kaya mengenal saya, deh. Masa kalau baru kenal sudah berani mengatai saya?” “Ah...” Dinan baru sadar. “Soal tadi. Menurut saya itu fakta. Lagi pula apalagi yang terjadi kalau mas-nya salah mengejar target jika bukan karena ambisi untuk kembali ke tempat tugas yang asli,” kata Dinan dengan santai. “Itu biasa terjadi,” bisiknya. “Lagi pula ini pertama kali saya bertemu mas-nya. Jadi, kemungkinan ada mutasi ke tempat ini.” Dinan tertawa. “Lagi pula pelaku kekerasan anak remaja, kecil kemungkinan di lakukan oleh seorang saja. Mereka pasti berkelompok.” Sungguh Kala ingin mengumpati wanita satu itu. Tapi ia menahan diri di hadapan polisi lainnya. Dia sangat menyebalkan. “Kalau begitu, salam kenal dan permisi,” tutup Dinan. Langit sore itu bersemu jingga. Tanda peralihan siang dan malam berganti. Sinar teduh itu mulai meredup, kala senja menyapa. Menyudahi hari panjang yang melelahkan. Setiap manusia kembali ke peraduannya. Hendak menutup jendela, Dinan justru tertegun menatapi telapak tangannya. Banyak rahasia yang ada di balik telapak mungil itu. Sesuatu yang Dinan benci, namun jadi berarti. Banyak keadilan yang terjunjung lewat sentuhannya. “Oh?! Bu Dinan!” Panggilan itu membuatnya mengerjap. Dinan tersenyum lembut, melambaikan tangan pada Kalim yang sedang lewat. Namun senyuman menawan itu mendadak meredup saat menemukan bahwa polisi muda itu tidak sendiri. Ia sedang membantu mengangkat beberapa barang bersama seseorang berwajah tampan, namun tampak menyebalkan. Dinan terbelalak. “Mas Polisi? Ngapain ke sini?” Ia menutup mulutnya yang terbuka lebar. “Mas-nya pindahan?” Kala mengedarkan pandangannya ke berbagai arah untuk memastikan asumsinya. Apapun itu, ia sedang tak ingin melihat ibu-ibu satu itu. “Jadi, di mana rumah yang kamu rekomendasikan?” tanya Kala ingin segera enyah dari hadapan bu guru tersebut. “Kita sudah sampai, Mas Kala.” Kala yang sedang berlagak sok keren itu terbelalak. “A-apa?” Ia menoleh, menatap Dinan di seberangnya. “Aku tinggal berhadapan dengan Bu Dinan?” ^^^ Baiklah, Kala tidak peduli di mana ia tinggal dan bagaimana orang-orang sekitar memandangnya. Ia hanya ingin menyelesaikan tugasnya sampai bisa kembali lagi ke pusat. Kebetulan Kala tinggal sementara di rumah atap keluarga Kalim. Ada beberapa kamar yang disewakan untuk para pegawai yang ditugaskan di daerah tersebut. Desa Semanggi. Kala belum mengeksplor banyak. Sejuk udara cukup membuatnya hidup tenang. Semoga seterusnya. “Gimana cuaca di sana?” “Ey! Itu nilai bagusnya dari tempat ini. Tapi aku masih belum eksplor terlalu jauh dan kayanya nggak mungkin.” Helaan napas panjang terdengar dari seberang sana. “Gimanapun juga, aku masih nggak habis pikir dan menyayangkan banget dengan apa yang terjadi setahun lalu. Gimana bisa seorang senior kaya kamu membuat kekacauan investigasi n*****a? Sebenarnya ada masalah apa? Kamu bahkan belum nikah di usia ini. Belum punya banyak keribetan.” Kala mengutuk dirinya sendiri sembari memejamkan mata sejenak. Lalu mendongak, menatap langit penuh bintang. “Itu kenapa aku belum kepikiran untuk menikah. Belum menikah aja sudah banyak keribetan.” “Pokoknya... tunggu aku! Aku akan bereskan semuanya setelah urusan di sini selesai,” tambah Kala. “Maka dari itu aku telepon.” “Terus?” “Apa di sini benar-benar nggak ada kasus? Atau seenggaknya kamu carikan informasi yang berkaitan dengan desa ini.” Kala penuh harap. “Lempar satu kasus buat aku!” “Jan tenan!” keluhnya dari seberang. “Aku ndak tau pasti. Tapi belum lama ini polres Kulon Progo sempat mengincar daerahmu karena jadi tempat persembunyian bandar. Dan katanya pasukannya masih ada yang bersembunyi di daerah kebun teh.” Mata Kala yang lelah mendadak berbinar. “Wah?! Di sini?” “Ini rahasia. Tak juthak kalau sampai keluar ke mana-mana.” “Oke... oke!” kekeh Kala membisik namun penuh semangat. Namun tak sengaja matanya membidik rumah tingkat mungil di seberangnya. Binar di wajahnya meredup perlahan. Bahkan saat koleganya memanggil, telinganya seolah berdengung. “Mas Kala! Mas?!” “Ndi!” panggil Kala masih menyelidik rumah di seberangnya. “Ya?” “Apa ada seseorang yang mengirim mata-mata ke sini?” Kala menerka. “Mata-mata buat bandar maksudnya?” “Buat aku.” Gandi yang ada di seberang tertawa. “Buat apa?! Kaya nggak ada kerjaan aja. Semua polisi sibuk. Kenapa? Ada yang aneh?” Kala masih menatap jendela tersebut sambil menggigit bibir bawahnya selagi berpikir. “Sebenarnya siapa dia? Intel? Kenapa dia seolah tau semua tentangku?” ^^^ “Apa?! Ini yang kamu maksud kasus besar?” kaget Kala tak habis pikir. “Ini kasus besar, Mas!” Kala merasa frustrasi saat dirinya bersemangat menghadapi kasus obat terlarang yang ternyata justru sungguhan obat, namun obat tradisional. Beberapa bahan yang digunakan pun sempat hilang. Pun mau tidak mau, Kala dan Kalim harus menyelidiki hilangnya beberapa karung bahan tersebut. Bahkan sampai menjelang malam, Kala dan Kalim masih belum menemukan kepastian hilangnya karung tersebut. Kala juga sempat ingin menyerah karena ia sudah bekerja keras hanya untuk mencari satu karung yang hilang. Meski tak sesuai harapan, Kala masih punya rasa semangat yang tinggi untuk menyusuri sekitar kebun teh. Namun satu pandangan membuat Kala terhenyak. Ia menyipit untuk memastikan seseorang yang sedang menarik-narik sesuatu dari dalam tanah. Dengan hati-hati, ia mendekat. Tampak sosok itu adalah perempuan berambut panjang. “Aaaakh!” Keduanya saling berteriak saat tak sengaja mata mereka saling menatap secara tak sengaja. Mereka berlari terbirit-b***t ke arah yang berlawanan bagai bertemu hantu. Namun seketika Kala menghentikan langkah saat menyadari sesuatu. “Bu Dinan?” Ia menoleh ke belakang yang ternyata dia juga sedang menengok. Mereka kembali bertatapan dengan bermandikan jarak. “Jadi, dia pencurinya?” gerutu Kala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN