4. Aku (akan) Percaya Kamu

1314 Kata
Karena lelah berkepanjangan sekaligus udara yang menyejukkan, Kala melewati malamnya dengan tidur nyenyak tanpa gangguan sedikitpun meski ia sempat tak yakin bisa mendapatkan kualitas tidur yang baik atau tidak setelah hari yang melelahkan di tempat yang asing pula. Kala mengenakan jaket bomber untuk menemani absen pagi setelah mencuci muka. Ia tak berpikir untuk mandi di udara yang rasanya dingin sekali. Sambil sesekali menguap, ia terbelalak menemukan sosok Dinan yang sudah rapi dalam balutan seragam bersama sang putra. “Kenapa mereka ke mana-mana selalu berdua? Apa suaminya di luar kota?” Kala lantas merutuki diri saat justru ingin tau tentang hal yang tak penting. Ia memantapkan diri untuk mencecar ibu guru tersebut dengan beberapa pertanyaan. Sayangnya langkah Kala terhenti saat sebuah mobil pick up melaju di hadapannya. Pun ibu dan anak itu naik di dalamnya. Kala juga sempat menelisik supir tersebut yang sepertinya adalah seorang pemuda lelaki. “Nggantenge...” Kala terperanjat saat ia tiba-tiba dikelilingi oleh ibu-ibu tua berambut abu. Sempat tercengang, pria itu lantas menunduk sopan. “Monggo....” “Eits!” Salah satu nenek-nenek itu menahannya. “Baru pindah, ya?” “I-iya.” “Lah? Belum ada penyambutan?” “Enten nopo?” Kala semakin bingung saat lelaki berumur dengan rambut abu keluar dari rumah yang tak jauh dari tempatnya berpijak. “Kita harus buat penyambutan tetangga baru, Pak RT.” Kala segera menengahi. “Ndak usah, Pak, Bu.” “Itu sudah jadi budaya desa kami.” Kala menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia merasa tak nyaman. Beruntung sebuah panggilandarurat menyambangi ponselnya. Ia segera menjawab, lalu menjadikannya alasan untuk berpamitan pada para warga. “Kalau begitu nanti saja, Bu. Saya harus kerja,” tutupnya dengan sopan. Ia segera masuk ke dalam mobil. ^^^ Yuli datang ke sekolahan dan membagikan info yang diminta Dinan terkait hilangnya Dimas setelah meninggalkan aktifitas mencucinya. Tak ada kepastian memang. Tapi setidaknya Dinan punya kemungkinan yang bisa dicari. Sebelumnya Dinan sudah menghubungi kawannya itu untuk bertugas. “Jadi, Pak Ronggo juga nggak tau ke mana terakhir Dimas pergi?” Dinan memastikan. Yuli mengangguk sambil bersandar di dinding ruang kerja Dinan. “Dimas bandel begitu. Kadang pun dia baliknya pagi pas mau sekolah, makanya Pak Ronggo juga nggak lapor polisi karena baru tau kalau anaknya ngilang.” “Trus aku harus mulai dari mana?” “Sentuh aja semua benda-benda di sekitar rumah Pak Ronggo. Kita tinggal ngikutin kepingan petunjuknya.” “Benar juga.” “Perlu lapor polisi?” Dinan menggeleng. “Nggak perlu. Dimas pasti nggak akan jauh-jauh perginya. Mungkin dia ketiduran atau kekunci di suatu tempat. Didampingi Yuli, Dinan mencari jejak Dimas dari siang hari hingga sore dengan menyentuh benda-benda di sekitar kediamannya. Dinan juga sempat menemukan arah Dimas pergi bersama motornya selepas pulang sekolah. Nyaris mendapat petunjuk utama, Dinan yang sudah sampai di area perkebunan teh itu harus kembali karena hari sudah mulai gelap. Bagaima pun juga, Dinan adalah seorang ibu. Ada Gara yang membutuhkan kehadirannya. Menyiapkan makan malam sembari dibayang-bayangi oleh hilangnya sosok Dimas. Pun Pak Ronggo berulang kali meminta bantuan dengan segera. Dengan setelan knit serba putih tulang, Dinan keluar. “Bunda mau ke mana?” Gara selalu panik setiap ibunya pergi sendirian. “Bunda mau ke rumah Bude Yuli.” “Gara temani.” “Kamu belum selesai mengerjakan PR!” Dinan membalikkan tubuh putranya. “Bunda keluar sebentar doang. Kamu tau Bude Yuli itu gagah perkasa, kan? Jangan khawatir!” Setelah menyakiskan putra sematawayangnya masuk ke dalam rumah, Dinan berlari terbirit-b***t, mempercepat langkah menuju kediaman Yuli. Sayangnya Yuli tidak bisa andil pada malam itu karena dia juga seorang ibu dari dua anak. Yuli masih punya anak kecil sehingga tidak mudah untuk ditinggalkan begitu saja. Pun itu tidak jadi masalah untuk Dinan. Ia bisa menerobos malam menuju petunjuk terakhir. Dinan memejam agar bisa membaca memori yang disentuhnya. Semua itu mengarah pada sebuah parit di dekat perkebunan teh. “Hah?” Dinan membelalak. Lantas berlari, menanjak dan menemukan Dimas terjungkal di sana. Dinan mencoba membuat pinggiran parit lebih landai dengan mengeruknya di bawah sinar rembulan. Namun, ia merasa ada yang janggal. Seperti sedang diawasi, sedangkan lingkungan begitu gelap. Perlahan dan hati-hati, Dinan menoleh untuk memastikan. “Aaaaakh!” Keduanya saling berteriak saat tak sengaja mata mereka saling menatap secara tak sengaja. Mereka berlari terbirit-b***t ke arah yang berlawanan bagai bertemu hantu. Namun Dinan menghentikan lajunya. Sembari mengatur pernapasannya, ia merasa ada yang familiar. Lantas menoleh. Napasnya menghela kasar setelah tau bahwa sosok itu adalah Pak Polisi yang tinggal di seberangnya. Dinan tak peduli. Ia lantas kembali ke parit. “Jadi, ibu yang mencuri... Hah?!” Kala tersentak. “Bantuin!” teriak Dinan sudah turun ke bawah parit. “Kenapa dia bisa di sana?” “Berisik banget! Tolong panggilkan ambulans klinik!” Dinan pun memejam untuk memeriksa memori pada Dimas. Lalu menatap muridnya yang tak sadarkan diri dengan wajah dan bibirnya yang pucat pasi. “Sebentar lagi datang!” Kala ikut turun ke bawah. “Nggak apa-apa, kan, dia?” Dinan mengangguk sembari mengusap wajah Dimas yang kotor dengan bajunya. “Kalau kita nggak segera menemukan, udah bahaya ini. Dia naik motor ugal-ugalan, lalu tersangkut itu.” Dinan menunjuk sebuah karung. “Trus motornya jadi nggak seimbang dan terjun ke parit. Dia kesakitan, lelah dan nggak sadarkan diri.” Kala mengangguk mengerti, lalu fokusnya menuju pada sebuah karung. Ia naik permukaan untuk memastikan benda yang menyelakai Dimas. “Woah?!” Kala melompat penuh kejut hingga terjungkal, membuat Dinan tersentak sekaligus kesal dengan tingak polisi satu itu yang sangat heboh. Kala menutup mulutnya yang terbuka lebar. Pun matanya membelalak. “I-ini... bahan obat herbal.” ^^^ Kala dan Dinan duduk di depan warung setelah Dimas dibawa ke klinik dan Kalim mengembalikan bahan obat herbal yang hilang pada pengrajinnya. Kini keduanya duduk dengan sedikit bermandikan jarak sambil menyeruput minuman jahe hangat. Kala melepas jaket bomber-nya, memberikan pada Dinan. “Jangan ke-geeran! Bajumu kotor semua itu. Seenggaknya ditutupi pakai ini,” pungkas Kala. Dinan menerimanya tanpa beban. “Thank you.” Kala menyeruput minumannya. “Jadi, gimana ceritanya Bu Dinan bisa di tempat itu, di malam hari kaya gini?” Dinan mencoba lebih serius. “Mau tau?” Kala mengangguk. Bagaimanapun juga kasus Dimas bersangkutan dengan kasus yang tadi ia tangani. “Ah!” Dinan berdecak malas. “Saya ceritakan pun, nggak akan ada yang percaya.” “Kenapa? Aku bakal percaya.” “Serius?” “Iya!” Dinan mengedarkan padangan ke berbagai sudut. Saat dirasa aman, ia merapatkan duduknya lebih dekat pada Kala, lalu membisik, “Aku ini punya kemampuan spesial.” “Kemampuan apa?” Kala ikut berbisik. Dinan membasahi bibir bawahnya. “Aku bisa tau memori apapun lewat sentuhan.” Kala mengangguk-angguk mengerti dengan guratan wajahnya yang serius, selanjutnya ia tergelak kencang sekali. “Dasar emak-emak kebanyakan nonton...” “Tuh, kan!” sentak Dinan. “Ya, udah. Aku juga hampir ngira kalau Mbak Dinan ini mata-mata. Dah, sana pul....” Belum sempat Kala menamatkan kalimatnya, ia tersentak saat tiba-tiba tangan Dinan menyentuh wajahnya, menutupi pandangannya. “AKP Renjana Kala Senja mendapatkan pendisiplinan percobaan mutasi karena mengganggu proses investigasi. Mas-nya juga terobsesi sama kasus-kasus besar. Berharap dapat kasus mencengangkan ternyata cuma mencari bahan obat herbal yang hilang. Mas-nya juga belum mau menikah karena trauma kehilangan....” “Stop!” pekik Kala mengagetkan Dinan. Tampak Kala menahan amarah. Wajahnya memerah, rahang mengeras. Menghempaskan tangan Dinan dari wajahnya. Wanita itu nyaris tak bisa menelan salivanya karena tenggorokan yang kering saat bertatapan dengan bola mata Kala yang memberikan sorot tajam. “Setidaknya Bu Dinan harus menyaring kalimat sebelum berbicara!” Kala memberi ultimatum dengan nada penuh penekanan. Pun mereka saling bersitatap dalam beberapa waktu. Suasana menjadi sekonyong hening. Dinan menjadi lebih tenang. Ia turut menatap pria itu dengan tegas. “Saya tidak sedang berbicara, tapi saya hanya membaca memori masa lalu....” “Aku percaya!” teriak Kala kembali menyentakkan Dinan. Tubuhnya sampai terguncang. “Aku akan percaya kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN