5. Sugeng Rawuh

1272 Kata
“Mas-nya juga belum mau menikah karena trauma kehilangan....” “Aish!” Kala bangkit dari posisi tidurnya setelah terus terngiang apa yang telah dibongkar Dinan sampai kesulitan tidur. Ia mengusap wajahnya yang rupawan itu dengan kasar. Meski mendekati empat puluh tahun, Kala punya ketampanan yang menyegarkan seperti pemuda akhir dua puluhan. “Dia bisa membaca memori dari sentuhan...” Kala membasahi bibir bawahnya. “Psikometri?” Masih merasa tidak ingin memercayainya, tapi setelah diulas kembali, semuanya terasa masuk akal. Lantas Kala bangkit, membuka pintu dan berdiri di balkon rooftop yang berhadapan langsung dengan kediaman Dinan di seberangnya. “Apa dia sudah membaca seluruh memori penting di masa laluku?” gumamnya sambil menatap rumah di seberang. Angin malam yang dingin menerpa rambutnya yang agak panjang. Kala mengangguk-angguk kecil. “Aku akan memercayainya seperti yang kubilang. Tapi aku tetap mengawasinya.” ^^^ Akhir pekan di Desa Semanggi begitu ramai sekali. Pagi-pagi sudah banyak anak-anak bermain dan berolahraga di sekitaran desa bersama dengan musik penyemangat pagi hari. Kebisingan warga itu membangunkan Kala yang rasanya baru saja bisa terlelap sementara Kalim terus mengetuk pintunya. “Apa-apaan ini?” keluah Kala membukakan pintu. “Ayo, turun, Mas!” “Ngapain?” “Warga desa belum memberikan sambutan kedatangan Mas Kala.” “Kapan-kapan aja.” Namun pintu yang berusaha ditutup itu tertahan oleh kaki Kalim. Itu membuat Kala terbelalak bersamaan dengan tangannya yang ditarik paksa untuk turun ke bawah. Karena masih pagi, Kala tak punya daya untuk memberontak. Ia hanya mengikuti Kalim dengan malas. “Selamat datang di desa penuh cinta, Desa Semanggi!” seru Pak RT yang disambut sorakkan dari warga lainnya bersamaan dengan bunyi letusan mercon. “Aaakh!” Kala menjerit kaget. “Silakan dipotong tumpengnya, Mas Kala!” Pun Gara dan satu temannya membawakan dorongan yang di atasnya terdapat nasi tumpeng yang telrihat sangat tinggi dengan berbagai lauk-pauk di sisinya. Sementara Kala masih belum bisa mencerna situasi. “Ayo, Mas! Dipotong nasinya,” kata Kalim. “Apa aku harus?” Kalim mengangguk tegas, memberikan keyakinan. “Setiap ada yang baru menetap di desa, pasti akan dibuatkan tumpengan kaya gini. Tumpengan di sini menggambarkan persatuan. Jadi, Mas Kala harus ambil sepotong supaya menjadi bagian dari persatuan Desa Semanggi.” Kala menyimak seluruhnya, namun rasanya agak aneh saat dirinya yang asing, lalu tiba-tiba menjadi sorotan satu kampung dengan meriah. “Aissh! Kenapa lama sekali?!” Suara perempuan itu menjadi pusat perhatian. Rupanya Dinan sudah kesal lantaran Kala tak segera bertindak, banyak sekali berpikir yang tak penting. “Kalau begitu, saya bantu ambilkan untuk Mas Kala,” kata Dinan yang disambut tepuk tangan warga. “Sepertinya Mas Kala masih canggung. Di kota nggak ada perayaan kekeluargaan seperti ini.” “Benar! Terima kasih Bu Dinan atas perhatiannya,” timpa ibu-ibu yang lain. Dinan memotong bagian paling atas dari tumpeng tersebut, menyisipkan lauk-pauk di tepi piring. Lalu menoleh, menatap sinis lelaki itu. “Seenggaknya menghargai penyambutan warga!” desisnya sembari menyerahkan satu piring nasi tumpeng pada Kala. Pria itu hanya berakhir memutar bola matanya jengah. Entah untuk yang ke sekian kalianya wanita itu terus menyemburkan kalimat-kalimat beracun dan tatapan menusuk. “Sekali lagi kita ucapakan kepada Mas Kala...” seru Pak RT yang disambung oleh semangat para warga. “...sugeng rawuh!” “Mugi-mugi sederek-sederek sami saged menjalin kekeluargaan ingkang kenceng. Mugi-mugi dhusun puniki dados langkung miyos,” tambah Pak RT lagi. “Matur nuwun kathah inggil sambutanipun. Mugi-mugi kula lan panjengengan sederek saged dados keluwargi ingkang sae." Akhirnya Kala turut menyambut. Lalu entah kenapa, ekor matanya melirik pada sosok Dinan yang kini sedang menyeringai. Itu sangat menyebalkan. Selepas potong tumpeng, warga berbondong-bondong menikmati tumpeng tersebut bersama-sama sebagai sarapan pagi yang dinikmati di tepi jalanan desa dengan suasana yang meneduhkan. Burung berkicau, matahari pagi menghangatkan. Dinan turut membagikan nasi tumpeng pada warga. Ia begitu ramah dan manis sekali pada warga desa, membuat Kala sangat kesal. “Mas Kala belum menikah?” Ibu-ibu tua mulai mendatanginya yang sedang menyantap nasi tumpeng. “Ah...” “Umur berapa?” “S-saya 35 tahun.” “Hah?!” kaget sekelompok nenek itu. “Ndak kelihatan, lho. Kaya 25.” “Duda?” Kala menyergah pertanyaan yang sering ia terima. “Belum pernah menikah.” “Lha kok iso?” Kala sangat sensitif dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan pribadi. Ia harus menahan diri agar emosinya tidak meledak-ledak. “Kalau duda mau tak jodohkan sama Bu Dinan.” Salah satunya menunjuk Dinan dengan dagunya. “Bu Dinan kan janda. Cantik lagi.” Pun Dinan tampak menoleh ke berbagai arah untuk mencari seseorang, namun sepertinya tidak ada. Ia berinisiatif untuk membungkus satu porsi. “Emange randa kudu karo duda?” “Ndak harus! Janda sama perjaka ya ndak masalah. Begitu juga sebaliknya,” timpa yang lainnya. “Ya, tho, Mas Kala?” Pria itu tak menghiraukan pembicaraan nenek-nenek yang seru tersebut. Matanya terpaku pada punggung Dinan yang semakin lama, semakin menghilang dari pandangan. Ibu satu anak dalam balutan dress panjang itu pergi bersama satu paper bag di tangannya. “Ke mana lagi tu orang?” gerutu Kala. ^^^ Hamparan ladang petani dan hijaunya kebun teh menjadikan Desa Semanggi yang dikelilingi perbukitan layaknya bidadari. Dari kejauhan, hamparan hijau kebun teh yang berada di kaki gunung sesekali tertutup kabut, meski matahari sudah menampakkan eksistensinya. Dinan berjalan menyusuri jalanan berkelok tersebut. Itu akan cukup melelahkan, tapi ia sudah terbiasa. Pun di akhir pekan seperti ini, akan ada banyak wisatawan yang menghabiskan hari mereka di Desa Semanggi. Mata Dinan berpijar. Ia menemukan sosok pemuda yang gigih di tengah-tengah kebun. Lantas ia menghampiri sembari membawakan nasi tumpeng yang sudah dibungkus untuknya. “Biru!” sapa Dinan dari bawah sana. “Oh? Mbak Dinan.” Pemuda itu segera mengelap tangannya ke sebuah kain. Ia menghampiri. “Ngapain ke sini?” Dinan memandangi penampilannya. “Aku salah kostum, ya?” “Nggak. Nggak apa-apa, kok.” Pemuda manis itu mengulurkan tangannya yang sempat membuat Dinan tertegun. “Kalau mau naik dengan baju kaya gitu, pegang tangan saya!” Wanita 33 tahun itu menyunggingkan senyum manisnya. Ia menerima uluran tangan itu untuk sampai ke atas. Pun mereka duduk di sebuah saung untuk beristirahat, membiarkan Biru menyantap makanannya. “Jadi, ada warga baru?” Biru memastikan sambil menyendok makanannya. “Iya. Pas banget di depan rumahku.” “Oya?” kaget pemuda itu. “Nanti aku mau menyapa.” Dinan tampak menawan, senyumnya begitu mempesona sembari mengangguk kecil. “Omong-omong, makasih banyak, ya, Mbak Dinan. Udah bawain aku...” Biru menaikkan nasi tumpeng bungkusnya. “Aku liat kamu nggak ada di antara kita, jadi aku bawa aja ke sini. Maaf, ya. Seharusnya aku bawain pakai kotak makan.” Biru menyergah. “Nggak apa-apa, Mbak. Gini aja udah alhamdulillah banget. Pas saya emang belum sarapan.” “Ada proyek besar, ya?” “Ah...” Biru meneguk air mineralnya sejenak. “Kebetulan nanti mau kedatangan mahasiswa KKN. Mereka udah ngerjain beberapa projek. Nah, kebun teh bapak jadi tempat terakhir. Makanya saya stand by dari pagi.” “Ah...” Dinan mengangguk mengerti. “Oh, itu mereka!” Dinan menoleh, menemukan beberapa mahasiswa dan mahasiswi berkenakan jas almamater berjalan menghampiri. Dinan ikut berdiri menyambut mereka, lantas menyalami mereka satu-persatu. Pun memori singkat sempat terbaca olehnya. Tapi Dinan tak mau peduli. Dinan tetap menyapa dengan ramah. Namun, satu memori mengguncang Dinan. Ia membeku sejenak, lalu memejam untuk memastikan apa yang dilihatnya. “Aaakh! Tolong lepasin gue.” “Lo mau lari ke cowok lain? Hah?! Udah gue bilang lo jangan main-main sama hubungan ini?!” “Hah?!” Dinan menjerit tanpa suara saat melihat memori menyeramkan. Seseorang telah disekap. Ia lantas menatap lagi sosok mahasiswa paling belakang yang ia salami dengan bola mata yang bergetar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN