Acara penyambutan Kala berlangsung meriah, bahkan seperti acara tasyakuran sunatan dimana para tetua berkumpul sembari bernyanyi bersama, sementara anak-anak bermain bersama. Tak ketinggalan ibu-ibu yang tertawa puas atas apa yang sedang mereka bicarakan. Pun Kalim juga ikut bergabung dalam keramaian itu.
Berbagai macam suara bising itu bercampur di telinga Kala. Pria itu diam-diam meninggalkan tempat. Ia sudah jengah, memilih untuk menepi. Menyusuri desa dengan pemandangan alam yang fantastis. Kala menikmati setiap langkah dan tarikan napasnya seiring dengan suara gemericik mengalir. Rupanya ia memijak jembatan. Sejenak Kala tertegun di atasnya menatap jernih air yang mengalir di antara bebatuan.
"Desa ini nggak buruk, orang-orangnya aja yang buruk," ungkap Kala menghempaskan napasnya kasar. "Setiap sesuatu pasti ada baik dan buruknya. Tapi kembali ke kota adalah yang terbaik."
Tanpa sengaja, satu pandangan membuatnya kembali menoleh. Lantas Kala memutar bola matanya jengah. "Ngapain lagi tuh orang?"
Dari kejauhan, Kala berhasil membidik sosok Dinan yang setiap langkahnya tertiup angin. Dress dan rambut panjangnya tampak sedikit berkibar, ia bagai putri dari negeri dongeng yang tersesat. Wajahnya murung.
"Apa-apaan? Kenapa Mbak Dinan lagi, Mbak Dinan lagi," celoteh Kala bersedekap.
Tiba-tiba wajah murung Dinan mendadak tersentak. Matanya mencelang. "Mas Kala."
Kala mengernyit. "Apa ini? Udah merasa dekat sama saya?"
“Kita harus menyelamatkan seseorang.”
Dengan gurat wajah menyebalkan, Kala melepaskan genggaman tangan Dinan. “Emangnya aku avangers?”
“Mas polisi, kan?” Dinan menghentikan langkah Kala yang sudah berbalik. “Seseorang telah disekap.”
Kala mencoba berbalik meski jengah dengan ibu satu anak itu. “Siapa dia? Di mana dan dari mana kamu tau.”
Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata, Dinan langsung menarik tangan polisi tersebut menuju kebun teh. Pun Kala sempat mengeluh, memberontak karena ia tak biasa berjalan dengan langkah cepat di atas jalan menanjak. Mulanya Dinan tak mau mempedulikannya, namun semakin lama, Kala semakin berisik.
"Payah banget, sih? Mas-nya beneran polisi?!" gerutu Dinan. "Ngeluh mulu dari tadi."
Kala menghempaskan tangan Dinan dengan kasar. "Aku udah cukup sakit hati sama semua omonganmu! Ngapain juga aku ngikutin perempuan bengis kaya kamu sampai ke sini. Emang aku yang bodoh."
Dinan melongo, lalu terkekeh. Ia tak habis pikir dengan sikap Kala yang sangat mudah sekali terbawa perasaan hingga merajuk, tak ingin membantu. Pria itu berbalik arah. Namun, Dinan tak melepaskannya.
"Mau ke mana?" Dinan menarik tudung jaket pria itu yang menggantung sehingga langkahnya terhenti secara mendadak. Nyaris terjatuh. "Ikut aku!" sambung Dinan memberikan penekanan dengan tatapan matanya yang tajam menusuk.
"Aissh!" Kala menyentak sembari menendang kerikil di sekitarnya sebagai pelampiasan emosinya yang telah tumpah.
Meski Kala tidak ingin melakukannya, namun hati terus berbisik untuk mencoba mengikuti kata Dinan. Bagaimanapun juga, Kala adalah seorang polisi yang menyelidiki persoalan kriminal. Jiwa ingin melindungi sesama masih tertanam dalam hatinya. Mereka bersembunyi di balik pohon besar dekat saung di antara hamparan kebun teh.
"Mas Kala lihat orang-orang itu?" Dinan menunjukkan Biru dan beberapa mahasiswa di tengah kebun.
"Uhm. Terus?"
"Cowok ponian paling ujung yang gendong keranjang anyaman itu pelakunya."
"Terus, dimana dan siapa yang dia culik?"
Dinan menoleh. "Aku juga nggak tau. Makanya aku minta bantuan polisi."
Jawaban itu membuat Kala frustrasi. Ia lantas meninju udara kosong seolah sedang membantai musuhnya. "Gimana bisa kamu bilang cowok itu pelaku penculikan sementara korbannya aja nggak tau di mana?" Kala berkacak pinggang. "Emangnya kamu lihat?"
Dinan mengangguk yakin. "Aku lihat!" Lalu mengangkat kedua tangannya sebagai sebuah isyarat.
Kala mengembuskan napasnya kasar. Ia memijat keningnya yang berdenyut. "Wah! Ini gila!" Ia lantas menatap perempuan yang jauh lebih pendek darinya. “Trus aku harus menyelidiki kasus ini hanya berdasarkan psikometri?”
“Katanya percaya, gimana, sih?”
Kala mengusap wajahnya secara kasar. Dalam batinnya merasa bersalah atas apa yang telah ia ucapkan malam itu.
“Kayanya aku perlu menyentuh Mas Kala lebih lama.”
“Hey!” jerit Kala panik sembari memukul tangan Dinan yang mendekat ke arahnya.
"Siapa itu?"
Pun keberadaan Dinan dan Kala sudah bukan lagi rahasia. Teriakan Kala menghancurkan rencana ibu satu anak itu. Mereka berdua tengah menjadi pusat perhatian beberapa wisatawan sekaligus Biru dan juga beberapa mahasiswa yang ada bersamanya.
"Ah!" Dinan lantas menampakkan diri. "Maaf, Biru."
Meskipun bermandikan jarak, Biru sudah mampu melihat cahaya dari mata indah Dinan. "Oh, Mbak Dinan belum pulang ternyata."
"Tadi udah pulang, terus saya antar tetangga baru buat keliling." Dinan menarik tangan Kala agar menampakkan diri. Pria itu hanya tersenyum canggung. "Maaf, ya. Saya jadi mengganggu."
"Nggak, kok, Mbak. Oh, ya, lain kali saya mau menyapa tetangga baru dengan lebih sopan lagi." Biru menunduk sopan dan kembali melakukan aktivitasnya untuk mendampingi mahasiswa pertanian.
Kini Dinan dan Kala duduk saling berdampingan dengan jarak yang cukup jauh membentang. Mereka tertegun dalam diam sampai akhirnya Dinan meledak-ledak, meluapkan amarahnya yang tak lagi bisa ditahan.
"Mas Kala menghancurkan semuanya!" gerutu Dinan.
"Aku lagi."
"Ngapain lagi pakai teriak?! Hah?!" Dinan bersedekap.
"Aku bahkan nggak tau rencanamu apa. Makanya aku nggak bisa menahan apa yang di luar perencanaan!" sentak Kala juga kesal. "Kamu juga ngapain pegang-pegang..." Kalimatnya terputus dibarengi dengan helaan napas kasar. "Hey! Bersyukur aku mau bantu."
"Ini bukan bantuan, tapi tugasmu sebagai polisi!"
Kala terkekeh. "Oi! Coba Bu Dinan datang ke polsek dan ceritain tentang semua ini, apa mereka bakal percaya?"
Dinan terdiam dalam hening. Semilir angin meliuk bebas di antara hamparan perkebunan di kaki gunung yang permai. Ia tak punya kata-kata untuk diungkapkan. Pun Kala ada benarnya. Sebab, selama ini, polisi mempercayai Dinan karena ia punya bukti konkrit. Tapi kali ini hanya sentuhan kilat saja. Ia hanya reflek saat setelah sekian lama tak menemukan sentuhan mencurigakan itu bertepatan dengan dirinya yang berpapasan dengan Kala, seorang polisi.
Kala merapatkan jaketnya sembari bangkit. "Oke... karena belum ada petunjuk yang jelas, aku nggak perlu turun tangan. Toh, kalaupun itu benar terjadi, pasti bukan di desa ini. Mereka, kan, pendatang." Ia meunjuk para mahasiswa. "Dan itu bukan wilyahku."
"Kalau begitu aku akan menyentuhnya!" tegas Dinan membuat Kala mengerem langkah. Pria itu menoleh. "Aku akan coba sentuh anak itu lagi." Perempuan bermata bulat, hitam legam seperti boneka itu menatap dengan tegas, penuh keyakinan. "Aku akan cari petunjuk lebih jelas. Kalau kejadian itu terjadi di sekitar sini, Mas Kala harus turun tangan. Kalau di luar wilayah ini, maka aku akan mengurusnya sendiri."
Keduanya saling bersitatap dengan penafsiran masing-masing. Pun ambisi berapi-api masih tempak menyala di mata Dinan. Sedangkan tatapan datar, satu alis menukik, terpatri jelas di wajah tampan Kala seiring dengan angin pagi yang berhembus mesra.
"Aku berharap... Mas Kala nggak memilih-milih kasus hanya untuk kembali ke kota," lanjut Dinan membuat Kala harus menahan diri dari gejolak batinnya atas kejujuran perempuan lantang itu.