“Kopinya, Mas!” Kalim memberikan satu cup kopi hangat pada Kala yang sedang bersandar di tiang, menatap pemandangan fantastis dari halaman samping polres.
Sementara Kalim memberikan segelas air putih pada Nana yang baru saja bergabung. Ketiga satreskrim itu sedang berkumpul di pagi hari yang tenang sambil menikmati segelas minuman mereka.
“Apa di wilayah ini beneran nggak pernah ada kasus serius gitu?” Kala memastikan, lalu menyeruput teh panas.
“Nggak pernah ada.”
“Kalau di desa sebelah ada,” imbuh Kalim.
Nana menyenggolnya. “Itu juga kasus orang hilang dan ternyata ketiduran di dekat ladang.”
Kala terkekeh. “Ternyata ada juga yang nggak kerasa kalau ketiduran. Di ladang pula.”
Baginya daerah Desa Semanggi dan sekitarnya memang sangat unik sampai Kala tak pernah habis pikir. Apakah wilayah ini memang turun-temurun ditinggali orang aneh? Entahlah. Hanya saja Kala tak menemukan satu orang pun yang normal.
“Kasus n*****a juga nggak ada?” Kala masih memastikan.
Nana tertawa. “Orang desa ngapain mengonsumsi obat-obatan? Hidup mereka sudah tenang di sini. Nggak ada alasan buat melakukannya.”
“Gimana kalau membudidayakan g***a?” tambah Kala setelah sempat diberitahu desas-desus oleh rekannya. “Tempat ini bagus banget buat membudidayakannya. Akan sulit ditemukan g***a di tengah banyaknya perkebunan.” Kala menjentikkan jemarinya. “Atau ada tempat persembunyian...”
“Mas Kala ini ngomong apa?” sela Kalim sambil tertawa. “Saya dari lahir udah di sini, nggak ada yang perlu melakukan hal seperti itu. Se-miskin apapun warga desa, mereka sudah merasa cukup.”
Kala menenggerkan satu tangannya ke dalam jaket denim-nya sambil menghempaskan napasnya yang begitu berat, menatap udara kosong penuh ambisi sembari menggenggam satu cup kopi. “Aku yakin, pasti akan ada kasus-kasus besar yang tersembunyi di balik desa yang tenang kaya gini.” Ia lantas menatap kedua rekannya secara bergantian. “Aku berharap akan ada kasus besar.”
Kalimat itu membuat Nana dan Kalim terhenyak. Mereka saling bersitatap. Berbicara dengan matanya. Lalu menuangkan air mineral di masing-masing tangan, memercikkannya ke wajah tampan Kala.
Bppt... “Woi! Apa-apaan ini?”
Lantas Nana dan Kalim membuang ludah ke sisi mereka.
“Amit-amit!” seru keduanya.
Kala mengusap wajahnya masih tercengang menatap kedua juniornya yang sangat kompak. Semacam sebuah kebiasaan.
“Kata-kata bisa jadi petaka, Mas!” bisik Kalim, lalu melenggang pergi mengekor Nana.
Sementara Kala masih membeku di tempat untuk mencerna situasi. Matanya yang indah itu juga betah membelalak. “A-Apa itu tadi?”
Kala menggaruk belakang kepalanya. “Apa aku bilang? Nggak ada yang normal di sini.”
^^^
Sebagai guru bimbingan dan konseling, Dinan memang hanya sedikit mendapatkan jam ajar. Ia hanya mengajar kelas 9 dalam pelajaran Bahasa Inggris, mengingat dirinya kulaih di luar negeri saat mengikuti mantan suaminya bertugas di kedutaan Australia.
Sisanya, Dinan hanya mengkoordinasi aktivitas para murid.
Seperti yang dilakukan saat ini. Guru cantik yang kerap dijuluki boneka berjalan itu sedang memantau pembelajaran di luar kelas. Memberi peringatan bagi murid yang bermain-main saat guru mengajar hingga membangunkan mereka yang tidur. Semua dilakukannya dari luar kelas, hanya melalu jendela dan tongkat sakti yang ditakuti seluruh murid SMPN 2.
Dinan terkekeh saat melewati kelas 8-E yang masih bersemangat di akhir pelajaran. “Tumben bener. Kalau guru ganteng emang beda. Melek semua!”
Dinan lantas menatap sang guru yang tak hanya tampan, tapi juga menyenangkan. Pelajaran seni budaya menjadi lebih berwarna dengan praktek membuat kerajinan tanah liat dan mewarnainya—Seperti namanya, Langit Biru—seluruh murid akan merasa nyaman dengannya. Sosok guru yang cerah dan menyenangkan.
Dinan tak bisa menyembunyikan senyum lembutnya yang menawan pada pemuda bersahaja tersebut.
Kemudian Dinan mengerjap saat ingat akan sesuatu. “Ah!”
Setelah jam pulang sekolah tiba, Dinan mengirim pesan pada Gara untuk menunggunya sebentar karena ada keperluan.
“Mas Biru?” Dinan menyapanya setelah mengetuk ruangan seni.
“Ah, Mbak Dinan. Masuk aja!” katanya santai. Ia tampak sedang memakai celemek yang membercak banyak sekali cat warna-warni.
“Lagi sibuk?”
“Nggak, kok. Cuma lagi mau liat hasil karya adik-adik buat dinilai. Tapi, Mbak Dinan sama sekali nggak ganggu, kok.”
Dinan mengangguk. “Mahasiswa itu masih observasi di kebun?”
“Iya. Ini mereka ada di kebun sama Mas Brewok. Aku nggak selalu mendampingi mereka.”
Diam-diam Dinan menyeringai. Dalam benaknya sedang menyusun strategi.
“Kenapa, Mbak?” tanya Biru sambil mencatat nilai.
“Nggak apa-apa. Cuma pengen ajak tetangga baru biar tau kegiatan di desa. Kebun teh keluargamu adalah harta karun desa ini,” celoteh Dinan asal-asalan.
Biru menghentikan aktifitasnya. “Ah, benar! Aku belum ketemu. Tapi katanya dia polisi?”
“Iya.”
^^^
Selagi Gara pergi ke sekolah bola, Dinan membereskan rumah dengan kegelisahan. Apa yang ia lihat setelah bersalaman dengan mahasiswa itu membuatnya terkekang.
“Aish!” Ia memekik sembari melemparkan sapu ke lantai. “Inilah yang bikin aku sempat stres.”
Dinan merasa tak seharusnya melihat seluruh memori orang lain. Nyatanya memang mengetahui segalanya belum tentu menjadi baik. Apalagi ini sudah lama sekali setelah Dinan tak menemukan hal mencekam setiap melihat suatu memori.
“Oke. Aku harus ke sana!” gigihnya. “Tapi harus siapkan makan malam buat Gara dulu.” Ia bergerak cepat menyelesaikan segala tugasnya, lalu pergi sendirian ke kebun teh. Berharap para mahasiswa masih di sana.
“Oh! Itu mereka!” Wajah Dinan berbinar. Ia segera mempercepat langkah menaiki undak-undakan tanah di kebun teh sembari berpacu dengan waktu.
Sesampainya di atas, Dinan menyapa Mas Brewok bersamaan dengan para mahasiswa yang telah meletakkan keranjang mereka di tepi saung.
“Loh? Loh? Mereka sudah selesai, Mas?” Dinan bingung.
“Iya. Mereka udah dari tadi siang.”
Tak mungkin mengejar mereka karena posisi yang jauh serta medan yang tidak rata. Tapi Dinan tak mau kehilangan jejak. Ia memperhatikan setiap keranjang itu.
^^^
Kala kembali ke rumah lebih awal bersama Kalim karena tak banyak yang diurus. Sejak tadi mereka hanya membantu kegiatan warga, berpatroli dan menulis laporan saja karena tak ada yang terjadi. Hal itu membuat Kala lemas tak berdaya.
“Mas Kala mau makan mi rebus pakai telor dan kangkung?” tawar Kalim sambil menikmati setiap langkah. “Enak banget loh, Mas. Apalagi kalau yang buat Mbok Mi.”
“Warung Mbok Mi?”
“Iya.” Kalim menjawab dengan semangat sebelum akhirnya membelalak. “Kaget aku!”
“Aish!” keluh Kala juga ikut tersentak saat sosok mungil keluar dari celah pohon teh. “Kamu lagi, kamu lagi. Bisa nggak, sih, nggak usah lewat di depanku! Sehari aja.”
“Dunia se-sempit daun kelor.”
Kala memindai wajah dingin Dinan yang jauh lebih dingin dari biasanya. “Kalim.”
“Ya?”
“Sana pesankan mi rebus.”
“Siap!”
Kala menghempaskan napasnya setelah Kalim berlalu. Menyisakan ia dan Dinan. Pria itu seolah mampu membaca isi hatinya.
“Udah melihat lagi?”
“Aku telat. Mereka sudah pulang. Aku cuma sentuh keranjang teh yang mereka pakai.”
Kala bersedekap. “Trus?”
Beberapa menit lalu, Dinan yang penuh dengan rasa penasaran itu mencoba menyentuh satu keranjang yang baru dikembalikan mahasiswa terduga pelaku kejahatan itu. Namun Dinan hanya melihat seluruh momen saat mereka berkebun.
“Heleh... heleh...” Kala menggeleng heran. “Kemampuanmu berarti nggak canggih.” Ia tertawa, meninggalkan Dinan dalam kekesalan.