Suasana pagi di desa begitu teduh. Merdu kokok ayam bersahutan seiring dengan lembut kabut yang menyelimuti atmosfer. Matahari masih malu-malu menampakkan eksistensinya. Pun udara dingin patut dirindu. Sedari subuh, banyak dari warga desa yang sudah bertolak menuju kebun, sawah maupun ladang.
Sungguh pemandangan yang sangat dirindukan bila lepas dari desa. Oleh karenanya, Desa Semanggi selalu menjadi daya tarik berlibur.
Dinan merapatkan cardigan saat keluar rumah. Senyumnya seteduh suasana di pagi hari. Ia dengan hangat menyapa beberapa warga yang lewat.
“Monggo, Bu, Pak.”
“Nggih, Bu Dinan! Mau cari sarapan?”
“Iya.”
Biasanya Dinan selalu bangun pagi, lalu memburu sayuran di warung Mbok Mi yang menjual segala hal. Tapi jika tidak sempat memasak, Dinan membeli lauk-pauk di warung Mbak Ami—anak Mbok Mi.
“O-oh? Kalian...?” Dinan tersentak saat berpapasan dengan sekelompok anak muda.
“Mari, Bu,” sapa mereka.
“Ah, ya. Kalian mahasiswa yang lagi ada observasi di kebun Mas Biru, kan?”
“Iya, Bu.”
Mata Dinan sempat terfokus pada lelaki muda yang berada di barisan terbelakang. Ia tampak tertunduk dan menyapa seadanya saja.
“Kalau gitu? Mau ke mana? Cari sarapan?” tanya Dinan terselubung.
“Mau jalan-jalan, Bu. Mumpung di sini.”
Dinan mengangguk mengerti, lalu tiba-tiba perempuan itu menyalami satu per-satu mahasiswa itu, membuat tersentak. Kali ini lebih lama. Dinan sambil mengusap punggung tangan mereka.
Dinan tertawa canggung. “Terima kasih sudah bertugas di sini. Setidaknya desa ini bisa menjadi lebih dikenal oleh anak-anak millenial.”
“I-iya, Bu.”
Dinan menyalami yang lain. “Jangan lupa di-posting di sosial media. Oh, ya. Makanan di sini enak-enak. Ah, udah pernah coba teh hasil perkebunan Mas Biru?”
Tanpa Dinan tau, Kala sedang memerhatikan dari balkon atap lantai dua. Pria itu merapatkan jaketnya sambil menkan-nekan satu lubang hidungnya yang mampet karena pengaruh cuaca dingin. Kala masih belum terbiasa.
Kala berdecak, menggeleng heran. Ck... ck... “Emak-emak penuh obsesi.”
“Masa iya, disalami satu-satu?” sambungnya terkekeh.
Seketika Kala tertegun. Ia mendadak teringat obrolannya dengan Kalim saat sedang menikmati mi rebus di warung Mbok Mi malam tadi.
“Bu Dinan... sejak kapan dia tinggal di depan rumahmu? Dia juga pasti pendatang.”
“Uhm... empat atau lima tahun, mungkin? Katanya dia pindah ke sini setelah cerai dari suaminya.”
“Oya?”
“Denger-denger kisahnya tragis banget. Habis cerai, jadi korban kebakaran pula.”
“Padahal dia keliatan tangguh. Mana kalau ngomong nggak pernah disaring.”
“Namanya juga ibu tunggal. Pasti harus tangguh. Tapi Bu Dinan nggak kurang ajar. Malah omongannya sering bener. Apalagi kalau mendisiplinkan anak-anak... beuh, dia jagonya. Semua anak SMPN 2 nggak ada yang bandel banget karena sudah dididik sama Bu Dinan.”
“Kalim, apa dia bisa membaca pikiran atau memori orang?”
“Opo maksude, Mas? Emange Bu Dinan dukun?”
“Aku beneran.”
“Mungkin karena Bu Dinan lulusan psikologi dari luar negeri. Dia pintar, jadi bisa mudah menganalisa seseorang.”
Sebuah embusan napas bertenaga melena dari hidung Kala. Pria itu tak mau terlalu memikirkan hal tersebut. Ia hanya penasaran dengan ibu satu anak yang ada saja tingkahnya. Terkadang terlihat bijaksana, berani dan kurang ajar. Tapi di sisi lain, Dinan masih punya banyak keanehan. Salah satunya psikometri.
“Sepintar-pintarnya ahli psikolog, nggak akan mungkin bisa menganalisa dengan detail.” Kala masih merasa janggal sembari menuruni tangga.
^^^
Hari ini Dinan ingin memasak untuk Gara. Ia sudah punya beberapa bahan untuk membuat sup. Hanya butuh sedikit tambahan yang ia beli di warung Mbok Mi yang sayurannya masih segara hasil petikan kebun sendiri sembari menyapa ibu-ibu yang lain dengan ramah.
“Jadi, apa yang kamu dapatkan setelah menyalami mereka?”
“Astaghfirullah!” Dinan memekik pelan. Ia menoleh sembari melayangkan tatapan belati pada Kala yang tiba-tiba ada di belakangnya. “Apa-apaan ini? Mas Kala tau dari mana?”
Kala terkekeh, menenggerkan kedua tangan ke saku jaket. “Apa kamu lupa kalau kita tetangga?”
Dinan menutup mulutnya yang sempat menganga. “Apa ini? Mas Kala stalker?”
Pria itu semakin frustrasi. Seharusnya ia memang tidak perlu mengajak Dinan berbicara. Itu bukan hal bagus. Kala lantas menggeleng, lalu pergi ke warung lauk-pauk di seberang. Pun hal itu semakin memicu rasa penasaran Dinan. Setelah membayar sayuran, ibu satu anak itu menghampiri Kala yang sedang membeli lauk.
“Anak SMA korbannya,” bisik Dinan sembari berjinjit untuk mencapai telinga Kala.
“Apa?!”
Dinan harus menahan diri saat teriakan Kala menjadi pusat perhatian kedua warung yang saling berseberangan. Ibu satu anak itu tersenyum canggung pada seluruh warga yang ada di sekitar, lalu menarik tangan Kala untuk menepi dari keramaian.
“Aish!” Dinan mengeluh. “Bisa nggak, sih, nggak usah pakai teriak?”
“Namanya juga kaget tiba-tiba ada bisikkan makhluk halus di telinga.”
Dinan memejam sejenak untuk menetralkan pikirannya. “Yang aku liat korban penculikkan itu sempat pakai seragam SMA di memori yang lain.” Ia menyipit untuk mengingat kembali sebuah lambang di saku perempuan itu. “SMAN 1. Ya, dia anak SMAN 1 Semanggi.”
“Mahasiswa itu pendatang, kenapa harus menculik anak di wilayah ini?” Kala masih menerka.
“Pendatang, tapi rombongan mahasiswa itu sudah lama di sini untuk tugas kuliah mereka.” Dinan mempertegas. “Nanti setelah aku pulang sekolah, kita harus selidiki lebih dalam.”
“Kita?”
“Iya.”
Kala terkekeh. “Emangnya Bu Dinan doang yang kerja?”
“Menyelamatkan seseorang adalah pekerjaan polisi, kan?”
Pada akhirnya Kala tak bisa berkata-kata meski sebenarnya ada kalimat yang masih tersangkut di tenggorokan. Semua seolah terhenti begitu saja setiap kali Dinan menyemburkan kalimat-kalimat sarkas. Rasanya berdebat dengan orang itu tiada guna. Kala hanya memandangi punggung mungil Dinan yang selalu mengenakan pakaian berlengan panjang itu sambil menahan amarah.
^^^
Karena desa yang teduh dan teratur, tak banyak kasus yang terjadi. Anggota kepolisian reserse kriminal pun hanya berpatroli sembari membantu warga membawakan hasil tani atau pun kebutuhan lainnya. Bahkan mereka juga berubah menjadi tukang mekanik saat mobil bak yang hendak membawa sayuran sedang mogok.
Kala menghempaskan napasnya yang begitu berat sambil duduk di tepi perkebunan sawi. Ia cukup kelelahan dengan aktivitasnya.
“Heleh... heleh... payah banget kamu. Masih muda udah keok,” celoteh Pak Komandan.
“Capek juga manusiawi, Ndan.”
“Alasan.”
Kala menenggak air mineral yang diberikan Nana bersamaan dengan pikirannya yang mulai mengusut. Ia lantas berteriak frustrasi.
“Kalim!” panggilnya. “Coba selidiki apa ada anak SMAN 1 Desa Semanggi yang hilang.”
Kalim membelalak. “Emangnya ada yang hilang?!”
“Makanya tolong selidiki!”
“S-siap, Mas!” Kalim segera membuka ponsel.
Di tengah aktifitias istirahat para anggota kepolisian, satu pandangan menggoyahkan perhatian Kala. Ia membidik sosok pemuda rupawan yang siluet-nya saja terlihat sempurna dari bawah sini. Kala segera menyusulnya.
“Siang, Mas!” sapa Kala.
“Oh? Tetangga baru!” Biru menyapa dengan antusias.
“Mahasiswa di sini sudah datang?”
“Itu mereka!”