9. Mr. Savior

1108 Kata
Ketika Dinan mengatakan bahwa korban adalah warga dari lingkungannya, maka itu menjadi sebuah pikiran tersendiri bagi Kala atas perjanjian yang pernah Dinan sematkan. Kala memang ingin sekali kembali ke tempatnya. Dan jika ingin kembali, maka Kala harus menyelesaikan kasus besar. Pun penyekapan seperti yang Dinan katakan juga masih abu. Meski begitu, Kala punya naluri seorang polisi yang sesungguhnya. Itulah mengapa ia kini menyapa para mahasiswa yang kini sedang menatap Kala dengan canggung dan kaku karena pria itu hanya diam saja di antara mereka. “Pak Kala, ada yang perlu dibantu? Kayanya mahasiswa jadi nggak nyaman kalau dilihatin terus,” bisik Biru setelah sempat membiarkannya. “Ah!” Kala seolah baru tersadar dari dunianya. “Saya mau lihat aja.” Biru tertawa canggung. “Kalau begitu, Pak Kala bisa menepi sejenak. Kalau di tengah kaya gini... mereka jadi kesulitan untuk observasi.” “Ah...” Kala lantas berbalik. Namun tiba-tiba satu pikiran membuatnya mengerem langkah. “Selama di sini, kalian tinggal di mana?” “Di penginapan Pak Didit. Perempuan di lantai atas, laki-laki di lantai dua.” Kala mengangguk mengerti sambil mengais hipotesa, lalu menepuk bahu Biru. “Saya ijin istirahat di saung lagi, ya.” Di momen seperti ini, Kala mencoba untuk memercayai Dinan. Pun ia juga penasaran akan banyak hal. Selagi tak ada tugas yang besar, Kala mencoba untuk memantau para mahasiswa itu, terutama lelaki cupu yang katanya bernama, Elang bersamaan dengan disajikannya sebuah teh di hadapan Kala. “Silakan diminum, Pak!” Biru mempersilakan. “Di belakang kebun ini ada pabrik teh milik keluarga juga. Jadi semua teh yang kami sajikan masih segar.” Kala tersenyum seadanya. “Terima kasih.” ^^^ Setelah jam sekolah selesai, Dinan yang masih dalam balutan seragam guru itu berdiri di depan sebuah rumah tingkat. Ia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti petunjuk dari kemampuan psikometrinya setelah menyentuh Elang tadi pagi. Pun di tengah bekerja tadi, Dinan juga sudah menghubungi pihak SMAN 1 terkait siswi yang hilang. Sayangnya mereka tidak menerima laporan tersebut karena Arimbi memang izin karena sakit sejak sepekan yang lalu. Dengan penuh keyakinan, ia masuk dan meminta izin pada Pak Didit selaku pemilik kos untuk melihat kamar yang biasa disewakan untuk tamu. “Bu Dinan mau kedatangan tamu?” tanya Pak Didit mengekor. Dinan berbalik. “Ah, barang kali keluarga besar saya mau mampir. Makanya saya mau lihat-lihat.” “Silakan... silakan!” Pak Didit mendampinginya. Sebenarnya Dinan kesal karena tidak ingin didampingi seperti ini yang memicu terganggunya investigasi yang sedang ia kulik. Tapi Dinan tak punya pilihan. “Di sini juga kami sediakan rak sepatu.” Mata Dinan berbinar terang sekali saat menemukan rak tersebut. Ia tak menghiraukan ucapan Pak Didit, lantas langsung membuka rak tersebut. Menyentuh beberapa sepatu di sana—sayangnya tak langsung berhasil menemukan sepatu milik Elang. Dinan harus berusaha menyentuh beberapa lagi. “Bu Dinan?” Pak Didit bingung. “Ah!” Dinan menoleh. “Saya mau memeriksa... berapa banyak yang bisa ditampung dalam satu section rak sepatu ini.” Ia tersenyum canggung yang dihadiahi anggukan Pak Didit. “Ketemu!” gumam Dinan tanpa suara dalam pejaman matanya. Bu guru tersebut sedang meraba salah satu sepatu bersamaan dengan terputarnya memori. Namun ia harus melihat memori yang waktu dan tanggalnya sesuai. Ia mengusap permukaan sepatu itu agar bisa melacak memori yang sudah lampau. Dinan bisa melihat saat saat Elang tertinggal rombongan. “Sialan! Gue ketinggalan lagi.” Setelah itu Elang bertemu dua orang siswi SMA. Mahasiswa itu menghampiri. Terlihat dari papan nama yang tertera di seragam mereka salah satunya bernama Arimbi. “Uhmm... Desa Semanggi Wetan di mana, ya?” tanya Elang begitu lembut. “Oh, Desa Semanggi ada dua, semanggi dan semanggi wetan. Kalau Semanggi wetan ke kiri.” Arimbi terlihat sangat manis dan ceria, itu membuat Elang terpesona. “Anjir tu cewek cantik amat.” Dinan sempat tersentak. Wajah lugu Elang dan penampilannya yang cupu, rupanya begitu sarkas. Pun hanya sampai situ saja di hari pertama. Dinan menggulir lagi ke hari berikutnya dimana sosok Elang menunggu lagi di jalan yang sama. “Oh? Mas-nya?” Rupanya Arimbi pulang sekolah sendirian bersamaan dengan Elang yang melecehkannya. “Hah?!” Dinan kaget. Ia sampai terhenyak. Namun ia segera mengerjap agar tidak memakan waktu. Setelah itu, Arimbi tidak pernah lagi melewati jalan itu yang membuat Elang kesal. Ia semoat berkeliling ke sekitar desa tersebut, sampai akhirnya melihat Arimbi dari kejauhan bersama seorang pria muda. Itu membuat Elang marah. Elang lantas membuntuti lagi Arimbi namun gadis itu tak menampakkan eksistensinya. Elang semakin gundah. Ia terus memantau rumah nenek Arimbi. Sampai suatu pagi, Arimbi berangkat sekolah sendirian dan Elang menculiknya. Dinan semakin fokus untuk memastikan ke mana Elang membawanya. ^^^ “Wah! Enak juga teh-nya.” Kala memandang gelas tersebut, namun ekor matanya begitu peka menemukan sosok yang berjalan tak jauh dari tempatnya terpaku. “Oi!” Kala berseru pada Elang yang sedang lewat. “Mau ke mana?” “S-Saya mau ambil buku yang tertinggal, Pak,” jawab Elang menaikkan kaca matanya. Kala hanya mengangguk, namun matanya terus memerhatikan punggung pemuda itu. Ia terus mengawasinya. Sebab, yang terlihat lugu dan polos biasanya punya sisi lain yang tak terduga. ^^^ “Di sini?” Dengan napas setelah mengayuh sepeda, ia menatap sebuah rumah kosong terbengkalai yang diselimuti semak belukar. Ia lantas menerjang semak yang tumbuh tinggi sembari menyentuhnya. Ia juga melakukan hal tersebut pada dinding rumah. “Benar. Di sini tempatnya,” kata Dinan yakin. “Halo? Ada orang?” Dinan memeriksa setiap bilik tanpa ada yang menjawabnya. Pun satu pandangan menyentakkan Dinan. Ia tercengang saat melihat seorang gadis yang tak sadarkan diri dengan busana yang sudah tak lagi terpasang dengan benar, tangan dan kaki terikat. Ada pula bercak noda merah. Meski kaget, Dinan berusaha mendekatinya. “Arimbi?” Ia membangunkannya sembari melepas ikatan, lantas memeriksa nadi di tangan gadis itu yang mulai melemah. “Yaa Allah!” Dinan tak punya pilihan selain menelepon ambulans, namun tiba-tiba ponselnya tergeletak di lantai berlumut itu setelah satu tendangan yang menyentakkan punggung Dinan. “Akh!” Ia merintih, lalu menoleh. Belum sempat mencerna situasi, sebuah tangan mencengkram leher Dinan dan membenturkan punggungnya ke dinding. Dinan menahan sakit. “K-kenapa kamu melakukan itu, Nak?” Elang sedang marah besar. Tatapannya menjadi buas dan terus mencekik Dinan. “Apa urusannya sama lo?! Lo gurunya?” Wajah Dinan yang terang itu semakin merah padam saat lehernya terus ditekan. Ia tak bisa bernapas, tak juga bisa berteriak. Nyaris kehilangan tenaga. “Dasar orang gila!” teriak seorang lelaki penuh amarah Bug! Bug! Uhuk... uhuk... Dinan terbatuk-batuk dan terduduk di lantai setelah cengkraman itu terlepas begitu saja saat Kala tiba-tiba datang menghajarnya disusul beberapa polisi dan juga ambulans klinik. Kala telah menyelamatkan Dinan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN