10. Saling Peduli dan Saling Mencaci

1028 Kata
“Oi!” Kala berseru, meninggalkan secangkir teh yang sedang dinikmati pada Elang yang sedang lewat. “Mau ke mana?” “S-Saya mau ambil buku yang tertinggal, Pak,” jawab Elang menaikkan kaca matanya. Kala hanya mengangguk, namun matanya terus memerhatikan punggung pemuda itu. Ia terus mengawasinya. Sebab, yang terlihat lugu dan polos biasanya punya sisi lain yang tak terduga. Mata polisi tersebut terus menatapnya dengan seksama. Pun Kala tak bisa melepaskan pemuda itu begitu saja. Ia butuh sesuatu yang lebih untuk membuat dirinya yakin, maka dari itu, Kala mengekor dari kejauhan. Bukan karena psikometri Dinan, tapi Kala hanya ingin membuat dirinya yakin. Bagaimana pun juga, dia adalah seorang polisi. Tak hanya bisa memercayai dari satu bukti saja—apalagi bukti non ilmiah. “Loh?” kaget Kala. “Bukannya Rumah Pak Didit di gang ini?” Ia mengerutkan kening sembari mengingat penjelasan Biru perihal rumah sewa yang sempat ditanyakannya. “Bau-bau mencurigakan.” Kala tetap mengikuti pemuda itu yang langkahnya semakin jauh keluar desa. Pada akhirnya Kala melihat anak itu masuk ke dalam rumah yang terbengkalai. Kala mendekat, namun mulai mendengar suara gaduh dari dalam sana serta teriakan. Kala sudah bisa melihat adanya kekerasan, jadi Kala yang masih berada di pintu depan itu langsung menghubungi polres. Saat masuk ke dalam, mata pria 35 tahun itu membelalak saat melihat Dinan tercekik. “Dasar orang gila!” Bug! Bug! Kala menendang Elang sampai tersungkur. Tapi pemuda itu masih berusaha memberikan perlawanan, itu membuat Kala tak tinggal diam. Ia memberikannya beberapa kali tinjuan sampai pemuda itu lengah dan polisi lain datang. Tampak Arimbi sudah di bawa ke dalam ambulans, sementara Dinan ada di pinggir mobil sedang tertegun dalam keheningan. Tampaknya ia masih cukup terguncang bersama dengan tim medis yang ada di sisinya. Kala menatap Dinan dari kejauhan sembari menghempaskan napasnya pelan. Lantas membawakan sebotol air mineral yang sudah ia buka untuknya. “Kerja bagus, Dinan,” ungkap Kala dengan lembut. Perempuan cantik yang semula hanya tertunduk, kini mendongak saat seseorang memberikannya pujian. Lantas kedua pasang mata mereka saling beradu tatap dalam beberapa waktu seiring dengan sepoi angin yang melambai di antara keduanya. Hmm... Kala berdeham canggung setelah Dinan menerima air mineral tersebut. “L-lagian kenapa kamu nggak bilang?!” Nada bicaranya kembali meninggi. “Apa?” Dinan sedang malas menjawab. Kala berkacak pinggang. “Kenapa kamu datang ke sini sendirian? Kamu sendiri yang bilang kalau semua masih berkaitan dengan wilayah tugasku, aku juga harus ikut turun tangan, kan?!” Dinan memejam sambil menutup telinganya yang mendengung karena volume Kala saat berbicara sangat tinggi. Tanpa spasi dan tanpa koma. “Takut kelamaan,” kata Dinan jengah. “Lagian kalau aku datang dulu ke kantor polisi, aku juga nggak tau Mas Kala bakal percaya atau enggak. Dari pada mengambang, aku bergerak sendiri aja.” “Aku udah bilang kalau aku akan percaya kamu!” pekik Kala. “Kamu tau apa yang aku lakuin dari siang tadi? Aku mengawasi bocah gila itu di kebun. Kamu masih berpikir aku nggak percaya?” “Iya, deh, iya.” Dinan tidak mau memperpanjang. Ia bangkit dari duduknya. “Nggak usah teriak-teriak. Berisik!” “Nih, HP-mu!” Kala memberikan ponsel Dinan yang sempat terjatuh di dalam rumah kosong itu. “Sekarang kalau butuh aku, hubungi nomor satu. Aku sudah simpan nomorku di sana.” Dinan menghempaskan napasnya kasar. “Seharusnya aku nurut kata anak sendiri untuk mengunci HP. Makasih.” “Mau ke mana?!” seru Kala lagi saat perempuan itu melenggang, melewatinya. “Aissh!” Dinan berdecak kesal. “Mau pulang, lah. Udah sore ini. Dikira aku mau nginap di tempat ini apa?” “Biar aku antar.” Kala menyamakan langkah, namun perempuan itu justru terhenti. “Jangan ke ge-eran. Aku melakukan ini karena aku pelindung masyarakat.” Kala berbalik sebentar untuk meminta kontak mobil dinas pada tim untuk mengantarkan salah satu korban pulang ke rumah. Dalam momen itu, Dinan memandanginya dari kejauhan tanpa ada penafsiran yang jelas. Hanya ingin memandangi pria menyebalkan itu. Baru saja mereka hendak masuk mobil, mata Dinan terbelalak saat Gara datang. “Bunda?” Bocah 13 tahun itu turun dari sepedanya. “Oh, Gara.” “Bunda nggak kenapa-napa, kan? Katanya tadi ada penyekapan, Bunda juga ada di sana.” Senyum Dinan merekah indah. “Bunda mau menyelamatkan kakak yang disekap. Bunda nggak apa-apa, kok.” Kala bisa melihat betapa khawatirnya remaja itu pada sang ibu. Matanya juga mulai berkaca-kaca. Kala juga bisa membidik secara langsung cara Dinan menenangkan anaknya dengan nada-nada yang lembut dan menenangkan. Sebuah sisi yang tak pernah Kala temui saat bersamanya. Perempuan itu tampak menawan saat cahaya matahari sore terpantul di wajahnya. “Bundamu memang agak keras kepala, tapi dia nggak kenapa-napa.” Tiba-tiba Kala berada di tengah mereka. “Oh, Pak Polisi yang waktu itu.” “Kalau gitu saya balik sama Gara aja, Mas,” imbuh Dinan. “Sepeda Gara nggak ada boncengannya.” “Kita jalan bareng aja.” Dinan menggenggam tangan putra semata wayangnya. Pemadangan itu cukup membuat Kala terharu. Ia lantas mengangguk-angguk santai dan kembali menuju mobil untuk pulang sendirian. “Mas Kala.” Tok! Tok! Kala yang hendak melaju, menyempatkan diri untuk membuka kaca jendela saat Dinan mengetuknya. “Kenapa?” “Aku belum sempat bilang sejak awal. Jadi, mulai sekarang tolong rahasiakan soal psikometri ini, ya.” Dinan mengangkat kedua tangannya. Pun pria itu hanya menatap saja. Tak memberikan respons berarti. "Aku yakin Mas Kala juga belum membicarakan hal ini pada siapapun." “Dan juga... makasih,” lanjut Dinan tanpa ada ekspresi di wajahnya. “Bagaimanapun juga, tanpa Mas Kala... aku bisa mati.” Alih-alih tersanjung atau membalas kalimat tersebut dengan baik, Kala justru tertawa yang membuat Dinan heran. “Ternyata kamu bisa bilang terima kasih, ya.” Dinan terkekeh. “Dikira aku nggak tau sopan santun? Aku ini guru, Mas!” Kala tersenyum menyebalkan. “Kalau gitu, ditunggu traktirannya.” Dinan membelalak saat pria itu langsung menutup pembicaraan dan melajukan mobilnya. Ia tak habis pikir dengan tingkah pria itu. Kadang suka marah, kadang usil, kadang cerewet. Tapi satu yang pasti. Dia sangat menyebalkan. “Auh!” Dinan menendang kerikil sejalan dengan arah mobil tersebut. “Siapa sebenarnya yang nggak punya sopan santun?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN