Jemari kala menari-nari di atas keyboard laptop untuk menuliskan laporan kejadian. Namun, di tengah aktifitasnya, ia tertegun sejenak dalam diam. Berusaha mencerna dan merangkai apa yang telah terjadi sampai tertangkapnya pelaku pelecahan dan penculikan yang sesuai dengan dugaan Dinan.
Kala menopang dagunya dengan dua kepalan tangannya sembari mengulas semua dalam benak. Itu semakin membuat Kala percaya dengan kemampuan spesial Dinan.
“Tapi dia minta aku merahasiakannya,” gumam Kala. “Apa aku harus mengarang cerita?”
Kala agak bingung dengan situasinya. Namun, ia tidak punya pilihan. Toh, jika dirinya menuliskan laporan sesuai dengan kejadian, maka tak ada pihak yang percaya begitu saja. Jadi, Kala sedikit memoles kejadian asli tersebut.
“Ini!” Pak Teguh—selaku kasatreskrim memberikan beberapa lusin selebaran di atas meja Kala.
“Apa itu, Ndan?”
“Menuju pulang dan kapanpun, tempel itu di mading setiap desa. Kita mau ada pilkada.”
Kala memeriksa tiga lusin selebaran dengan desain berbeda untuk tiga calon bupati dan wakil bupati.
“Omong-omong... selamat sudah memecahkan kasus pertamamu,” kata Pak Teguh.
“Kedua, Ndan.”
“Ah, gitu. Tapi kamu tau, kan... kasus kaya gini ndak langsung buat kamu kembali?”
“Saya tau.”
Pak Teguh mengangguk-angguk. “Tapi, kamu kok bisa tau kalau anak itu pergi ke rumah kosong dan kenapa bisa Bu Dinan ada di sana?”
“Ini saya lagi tulis laporan. Besok juga kita akan datangkan Bu Dinan sebagai saksi.”
Pak Teguh menghempaskan napasnya kasar. “Aku mau dengar dulu.”
^^^
Bahkan saat hari semakin larut, rumah Dinan masih ramai di penuhi oleh para ibu-ibu desa sampai membuat Gara melarikan diri karena tak sanggup menghadapi mereka. Pun Dinan juga sebenarnya sudah lelah, tapi ia tetap meladeni mereka hingga kini tersisa tiga orang saja: Bu RT dan dua lainnya.
“Besok aku buatkan serabi, Bu Dinan.”
“Wah! Udah banyak makanan, Bu RT.” Dinan menunjuk meja tamu di depannya sekaligus meja makan yang dipenuhi makanan dari ibu-ibu yang menjenguk. “Nggak usah repot-repot. Saya nggak kenapa-napa, kok.”
“Bener, nih?”
“Dinan!”
Seruan itu memecah suasana bersamaan dengan seorang wanita tinggi dan besar yang memasuki rumah Dinan tanpa permisi, sedikit panik. Namun, ia mendadak kikuk saat melihat ada ibu-ibu lain di sana.
“Oh, Yuli!”
“Ini udah jam 8 malam. Ibu-ibu nggak pulang?” tanya Yuli sarkas. “Ayo, pulang!” Ia menarik tangan ibu-ibu itu.
“Loh? Kenapa, to? Kita lagi nemenin Bu Dinan, loh,” keluh Bu RT.
“Bu Dinan ndak perlu ditemani. Dia cuma perlu istirahat.” Yuli mengantarkan tiga ibu-ibu ke pintu. “Besok datang lagi bawa serabi, nggih.”
Dinan tak kuasa menahan tawa dengan tingkah kawannya yang sedang mengurus ibu-ibu desa rempong tersebut.
“Kenapa nggak kamu suruh pulang, sih, Din?” Yuli menutup pintu.
Dinan bernapas lega sambil bersandar santai di punggung sofa. “Udah. Kaya nggak tau aja warga sini.”
“Trus kamu kenapa pergi ke rumah kosong itu sendirian, sih?” Yuli mengomel di samping Dinan sambil membuka jajanan. “Aku selalu ikut turun tangan kalau kamu ngabarin.”
Dinan menoleh. “Kamu nemenin suami ke Jogja, kan, tadi?”
Yuli menghentikan aktifitas mengunyahnya. “Iya juga, ya.” Ia lantas melihat leher Dinan yang masih tersisa semburat bekas cekikan. “Kamu bisa aja mati, loh, Din.”
Dinan mengangguk. “Aku udah hampir nggak bisa napas sama sekali.”
“Jadi, semua hasil psikometrimu?”
“Iya.”
Yuli memeluk sahabatnya. “Untung ada pak polisi.”
Dinan menyunggingkan senyuman lembut. Mengusap punggung sahabatnya. “Aku bersyukur masih ada yang percaya aku.”
“Apa?!” Yuli merenggangkan pelukan itu. “Jadi, polisi depan rumah itu tau kemampuan psikometrimu?”
Dinan mengangguk. “Pokoknya ada sesuatu yang akhirnya aku nggak bisa jelaskan selain psikometriku.” Lantas menatap tangannya.
“Trus dia percaya?”
Perempuan berambut panjang itu terdiam sejenak, lalu senyum hangat itu merekah. Matanya mengarah ke jendela yang menampilkan kediaman Kalim yang bagian atasnya ditinggali oleh Kala.
“Uhm. Pada akhirnya dia percaya.”
Pun Yuli juga merasa senang jika ada orang lain yang percaya. Sebab, tak mudah bagi siapapun untuk memercayai hal di luar nalar tersebut. Setidaknya kehadiran polisi juga akan membantu Dinan jika ada sesuatu yang membahayakan.
Dinan akan mengabaikan memori yang ia baca setiap menyentuh suatu benda. Tapi jika memori itu berasal dari manusia, Dinan tak bisa mengabaikannya. Seperti halnya yang terjadi saat bersentuhan dengan Elang. Jika Dinan masih bisa menjangkaunya, maka Dinan akan bertindak. Jika pura-pura tidak tau, ia akan merasa bersalah.
^^^
Di luar sana, suasana begitu tenang. Lampu-lampu desa menyala terang. Semilir angin malam membawa dingin yang semakin menusuk. Namun Biru bertahan untuk tetap berdiri di depan rumah Dinan. Ia memandanginya dengan senyuman manis tanpa perlu mengetuk.
“Berdiri di sana nggak kedinginan?”
“Oh?!” kaget Biru setelah menoleh. Ia menemukan Kala berada di balkon lantai atas. Segera meletakkan rantang di meja kecil yang ada di serambi. “Boleh ke atas?”
Kala hanya mengangguk santai.
Lantas mereka berdua duduk di sebuah papan kayu, menikmati pemandangan Desa Semanggi yang begitu fantastis di malam hari. Suara jangkrik dan berbagai serangga sebagai nyanyian alami di antara mereka yang sedang merapatkan jaket.
“Kenapa nggak masuk ke rumah Dinan?” tanya Kala sambil memandangi langit.
“Sudah malam. Nggak sopan kalau laki-laki masuk ke rumah perempuan. Jadi, saya taruh makanan di depan aja, nanti aku chat.”
“Bagus! Itu sopan santun.” Kala menepuk bahu Biru.
“Omong-omong... makasih, ya, Mas... udah nyelamatin Mbak Dinan,” kata Biru dengan nada-nada yang halus.
Pun Kala tak langsung menjawab. Ia tampak menatap pemuda itu dengan seksama, lalu menghempaskan napasnya pelan. “Itu kewajibanku.”
“Tapi... kamu dekat banget sama Dinan, ya.”
“Biasa aja, sih. Kebetulan Mbak Dinan easy going dan baik.”
“Apa?!” kaget Kala. “E-easy going?”
Biru mengangguk. “Dia mudah bergaul, menyenangkan.”
Lantas Kala tergelak. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja didengar tentang Dinan sampai-sampai rahangnya sakit karena terlalu semangat tertawa.
“Kenapa, Mas?” Biru bingung.
Masih betah tertawa, Kala menunjuk dirinya sendiri. “Apa cuma sama aku doang nyebelinnya?”