12. Menjadi Saksi

1064 Kata
Mentari terbit tapi kan tenggelam juga Bulan purnama terangi malam Namun kelak kan redup juga Di bawah langit senja ku berjanji Untuk terus mencintaimu selamanya tanpa henti. Sorak sorai seluruh siswa yang ada di dalam aula itu memenuhi atmosfer. Dinan sampai tak tahan. Ia menggeleng sembari memijat keningnya yang berdenyut setelah mendengar sebuah puisi romantis dari salah satu siswanya. Alih-alih terdengar manis, justru terasa dramatis. Suara peluit yang ditiup Dinan menyeruak, menghentikan kehebohan kelas 9 di sana. Suasana menjadi sekonyong hening. “Cintamu bertepuk sebelah tangan?” tanya Dinan mendekati sang pujangga. Leleh air mata pujangga tersebut. “Kok ibu tau?” Dinan menepuk bahu siswanya itu. “Alisa namanya?” Pujangga bernama Luthfi itu terbelalak. Kaget sekaligus malu bercampur panik bersamaan dengan sorakkan yang kembali menyeruak. “Mana Alisa?” Dinan justru usil mencari siswi tersebut. “Ini, Bu!” Suasana aula menjadi semakin riuh. Cinta anak remaja tengah menggebu-gebu dan melebur di sana. Dinan sampai tak kuasa menahan tawa. “Alisa!” seru Dinan. “Kamu tau dia suka sama kamu?” Dinda tampak kesal karena disangkutkan dengan Luthfi. Ia membuang wajahnya. “Alisa kalau ditanya harus menghadap depan, dong.” Dinan mengingatkan. Alisa segera memperbaiki posisinya. “Saya nggak kenal dia, Bu Dinan.” Luthfi merengek sambil memegangi dadanya yang terasa sakit dihantam godam. Itu membuat Dinan semakin tergelak. Nampaknya rasa sakit itu sudah membuat siswanya tak berdaya. “Gimana rasanya?” tanya Dinan perhatian. “Sakit, Bu Dinan.” Luthfi menepuk-nepuk dadanya. “Masa dia nggak kenal aku, Bu?” Dinan menarik tangan Luthfi yang lemah itu agar kembali bangkit. “Maka dari itu, jangan pernah terlambat! Jangan pernah melanggar maka Alisa akan melihatmu.” Sambil sesenggukan, Luthfi mengusap air mata. “Beneran, Bu?” Dinan mengangguk, mengusap kepala siswanya itu. “Setelah ini, bawa puisi ini ke guru bahasa Indonesia, ya.” “K-Kok gitu? Emangnya dinilai, ya, Bu? Kan cuma buat hukuman aja.” Dinan menggeleng. “Harus dinilai. Kalau kurang baik, kamu juga harus nulis ulang puisi yang lebih baik.” Luthfi terperangah saat masuk ke dalam perangkap guru konseling tersebut yang selalu punya maksud terselubung agar siswanya bisa menjadi siswa teladan. Tak hanya takut untuk dihukum, melainkan harus menanamkan kedisiplinan. Begitulah cara Dinan mendidik siswanya agar setidaknya menjadi anak yang rajin dan bertanggung jawab—tidak harus pintar. “Bu Dinan!” Seorang wanita berambut pendek berjalan cepat menghampiri Dinan yang baru saja keluar dari aula. “Bu Murni?” “Saya sudah bilang kalau Bu Dinan libur saja hari ini,” celoteh ibu kepala sekolah tersebut. “Pasti cukup terkejut atas apa yang sudah terjadi, apalagi harus bersaksi di depan polisi juga.” Dinan tersenyum lembut. “Ini saya mau ke kantor polisi.” Ia menengok arloji yang bersarang di pergelangan tangannya. Ibu kepala sekolah tersebut mengusap lembut bahu Dinan. “Kalau gitu hati-hati, ya, Bu Dinan.” Dinan pulang lebih awal karena harus memenuhi panggilan kepolisian untuk memberikan keterangan sebagai saksi atas penyekapan tempo hari. Dinan mengendarai sepeda menuju kantor polisi menerjang angin siang yang rasanya cukup teduh meski matahari agak terik. Rambut panjangnya yang hitam itu beterbangan diterpanya. Sungguh, Dinan bagai seorang dewi yang turun dari kerajaan. Dia begitu menawan meski di siang hari. Namun, keteduhan itu berubah menjadi suram saat Dinan sampai di belokan dekat kantor polisi. Satu pandangan membuatnya turun, tertegun dalam beberapa waktu di depan sebuah mading. Ada dua warna pada poster yang menampilkan kandidat bupati dan wakilnya. “Kenapa harus di kabupaten ini?” gerutu Dinan mengepalkan tangannya erat. Tak mau larut begitu saja, Dinan menghempaskan napasnya. Ia melanjutkan perjalanannya lagi dengan menuntun sepeda menuju kantor polisi yang sudah dekat. ^^^ “Saudari Kanaya Dinanti...” Dinan menegapkan posisi duduknya di ruangan interogasi yang tertutup. Hanya ada dirinya dan juga Kala. Mereka saling berhadapan. “Jadi, anda tidak sengaja berjalan lebih jauh setelah mengajar untuk melihat-lihat tapi mendengar suara-suara dari dalam rumah kosong itu?” “Iya. Lalu kebetulan Mas Kala datang setelah pemuda itu menyerang saya.” Kala mengangguk mengerti. “Baiklah. Terima kasih atas kerja samanya.” Lantas mempersilakan Dinan keluar dari ruangan. Perempuan itu sempat memberikan tatapan sinis pada Kala yang tak menghiraukannya. Dinan pun terkekeh kesal. Entah mengapa lelaki itu selalu memicu keributan. Kemudian Dinan dibuat tersentak saat polisi lain menghampirinya, menanyakan keadaan dan berterima kasih padanya. “Hati-hati, ya, Bu Dinan. Untung Mas Kala datang tepat waktu.” “Iya. Kalau enggak bisa bahaya itu.” Dinan mengulas senyuman lembut. “Kebetulan yang menguntungkan.” “Uhm... kebetulan atau takdir?” Kalim menimbang pikirannya yang membuat Dinan terhenyak, ikut berpikir. “Dinan!” Pun Dinan yang masih dalam balutan seragam itu menoleh pada Kala yang menghampiri. “Apa?” sungut Dinan. “Aku sibuk.” “Di desa sebelah ada tempat ngopi viral,” celoteh Kala sambil merapikan meja kerjanya selagi Dinan mengernyit kesal. Lantas pria pemilik mata bulat itu menatapnya sekilas, melenggang pergi. “Let’s go!” Dinan terkekeh. “Ngapain ngopi siang-siang?” “Pekerjaanku berat. Staminaku harus terjaga!” “Itu urusanmu!” Dinan mendahuluinya. “Kamu punya hutang sama aku Dinan!” “Aish!” Dinan menghempaskan napasnya kesal. Ia berbalik. “Aku tau! Tapi aku lagi nggak mau traktir sekarang!” “Tapi aku mau sekarang. Di sana juga ada makanan banyak.” Dinan menatap pria tampan di hadapannya. Di matanya, Kala tampak seperti cumi-cumi kering. Tak ada menariknya sama sekali. Hanya ada bau amis dan asin. Itu mengganggu. “Cepat!” seru Dinan pasrah. Pun Kala tak bisa menahan senyumnya setelah berhasil memaksa ibu satu anak itu. Mereka berjalan bersama keluar kantor. Namun satu padangan membuat Dinan menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia terhenyak. Kala melihat gurat rona wajah Dinan yang padam saat berhadapan dengan tiga orang di hadapannya yang hendak memasuki kantor. Mereka tampak saling bertatapan penuh arti. Tapi tatapan Dinan penuh kekecewaan. “K-kamu di sini, Dinan?” Suaranya masih sama. Terdengar lembut dan hampa. Tapi Dinan tidak merindukannya. Sementara Kala yang ada di antara mereka hanya terdiam mengamati situasi. Sampai akhirnya ia mengambil kesimpulan untuk meraih satu tangan Dinan. Perempuan itu tersentak. Senyum manis Kala yang seindah senja itu terlukis jelas. Lesung pipi itu menambah tampan penampilannya—sebuah senyum yang belum pernah ia temui darinya. “Ayo, Dinan!” Dinan tertegun saat tangannya begitu hangat dalam genggaman Kala. Sempat terhipnotis. Ia lantas mengikuti ke mana Kala membawanya, meninggalkan, bahkan melupakan Juna yang menatapnya kaget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN