“K-kamu di sini, Dinan?”
Suaranya masih sama. Terdengar lembut dan hampa. Tapi Dinan tidak merindukannya. Mereka hanya saling bersitatap karena sama-sama tak bisa mencerna keadaan. Kebetulan atau takdir.
“Apa-apaan ini?” Dinan mendesis.
Sementara Kala yang ada di antara mereka hanya terdiam mengamati situasi. Sampai akhirnya ia mengambil kesimpulan untuk meraih satu tangan Dinan. Perempuan itu tersentak—apalagi Kala sedang menampakkan senyuman terbaiknya. Ia dan lesung pipi di bagian kirinya bagai senja abadi.
“Ayo, Dinan!”
Dinan hanya pasrah mengikuti ke mana Kala akan membawanya—seolah tak punya daya untuk memberontak seperti biasanya. Pun genggaman itu terasa canggung, Kala menghempaskan tangan Dinan di parkiran.
“Aku keburu lapar. Jangan salah paham!” Kala memberikan penekanan, lalu masuk ke dalam mobil.
Dinan terkekeh. Ia memang tak perlu mengharapkan atau membayangkan sesuatu yang lebih dari pria menyebalkan sepertinya.
Pun saat di dalam mobil, keduanya juga hanya terdiam dalam hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Yang jelas, Dinan sedang menelisik alur kehidupannya yang bisa-bisanya mempertemukannya dengan k*****t itu.
“Udah sampai. Turun!”
Perjalanan memang tak panjang karena hanya berbeda desa saja.
“Kenapa nggak bertanya?”
Pertanyaan Dinan menghentikan aktifitas Kala yang telah membuka pintu. Ia lantas menoleh ke arah perempuan yang sedang menanti jawabannya.
“Kenapa kamu nggak bertanya?” tanya Dinan lagi. “Kamu nggak punya kemampuan psikometri, kan?”
“Aku nggak perlu psikometri buat tau itu,” tutup Kala agak sarkas namun sarat akan makna, lantas segera keluar dari mobil. Menyisakan Dinan yang masih memaku di tempat. Ia memandangi punggung pria itu.
^^^
“Oh, Mas Juna!” seru Pak Teguh menyambut kedatangan calon bupati Kulon Progo.
Arjuna Mata Angin—ia tampak ramah dan bersahaja menyapa aparat di sana sekaligus membagikan kopi dan camilan.
“Supaya bapak dan ibu semuanya semakin semangat untuk menjaga kedamaian Kapanewon Semanggi dan sekitarnya,” sorak pria yang berpenampilan necis itu. Ia tampak bersinar.
“Terima kasih, Mas Juna!”
“Bagaimanapun juga... kapanewon ini sangat potensial untuk menjadi daerah wisata Kulon Progo,” lanjut Juna bersemangat. “Alam yang luar biasa serta cuaca, juga lingkungan yang aman sudah pasti menjadi daya tarik tersendiri buat wisatawan.”
“Benar sekali, Mas. Belakangan ini, sudah banyak wisatawan yang datang.”
“Dan di kepemimpinan Mas Juna, daerah ini akan berkembang pesat dan medatangkan banyak turis,” sambung Faris—asisten Juna bertepuk tangan yang disambut hangat oleh seluruh penghuni kantor polisi.
Juna tak pernah melunturkan senyumnya. “Maka dari itu, untuk menciptakan daerah wisata yang maju, kita juga butuh bantuan bapak-ibu sekalian.”
“Pasti. Kita akan bantu, pemimpin kita.”
“Lalu... seperti yang selalu saya dengar... kapanewon ini adalah salah satu daerah teraman dan paling tenang. Betul begitu, Pak Teguh?” Juna memastikan.
“Tentu saja, Mas.” Pak Teguh meletakkan cup kopinya ke atas meja. “Saya sudah puluhan tahun tinggal di sini, tidak pernah ada kejadian yang parah.”
Sebagai salah satu calon bupati Kulon Progo yang pertama kali menyambangi wilayah Semanggi yang memiliki banyak sekali harta karun, tapi tak sering terjamah oleh banyak wisatawan ataupun media di luaran sana.
Ini waktu yang tepat bagi Juna untuk melakukan blusukan, mengunjungi daerah kecil yang sangat potensial. Pun Setelah menyapa aparat kepolisan, Juna berpamitan untuk melakukan perjalanan lainnya. Namun, satu hal membuatnya penasaran.
“Setelah ini kita akan menyapa polres daerah Kadilangu,” kata Faris saat mereka sudah berada di dalam mobil dengan nada khas jawa yang kental.
“Langsung ke daerah selatan?”
“Nggih, Pak.”
Juna tampak menimbang beberapa hal. “Kalau gitu besok kita coba ke sini lagi.”
“Ke polres ini lagi?”
“Bukan. Maksudnya lihat-lihat Kapanewon Semanggi.”
“Tapi ini belum waktunya blusukan kampung, Pak. Kita baru menyapa aparat dulu.”
“Setelah itu. Setelah menyapa aparat di daerah Kadilangu, kita ke sini lagi di luar jadwal.”
^^^
Dengan disuguhi keindahan alam berupa bentangan perbukitan yang menoreh di setiap sudut mata memandang, serta suasana alam pertanian nan syahdu sembari menikmati makanan tradisional yang sangat lezat adalah suatu cara untuk menenangkan diri.
Restoran yang dikunjungi Kala dan Dinan dibangun dengan desain yang instagramable. Tempat ini memang didominasi dengan area outdoor, yakni terdapat jembatan kayu panjang bercabang-cabang. Diujung-ujung jembatan terdapat banyak spot foto seperti kursi gantung, bean bag, kursi rotan, hingga sangkar-sangkar burung besar. Terdapat juga banyak tempat duduk santai ala pantai yang terbuat dari kayu yang dilengkapi dengan payung-payung besar untuk spot nyantai para pengunjung.
Salah satu menu wajib yang harus dijajal adalah g****k.
Geblek menjadi menu favorit wisatawan yang merupakan ikon makanan Kulon Progo. g****k merupakan olahan makanan yang terbuat dari tepung tapioka dan bumbu bawang. Setelah tercampur, adonan g****k pun digoreng sampai matang.
“Aku udah pernah dengar makanan ini. Tapi aku belum pernah makan,” celoteh Kala.
“Kalau gitu, makan!”
Kala mencicipinya. Matanya mengerjap sejenak, lalu menyipit sambil menerka rasa yang tertinggal di setiap sisi indera pengecapnya. “Kaya cireng, ya.”
“Mirip kaya gitu.”
Kala menatap Dinan yang tampak dingin. Ralat, dia memang selalu terlihat dingin di hadapannya. Namun kali ini Dinan seperti tidak berdaya.
Hmm... Kala berdeham. Ia meneguk es kopinya sejenak. “Wah! Ternyata terjebak di daerah ini bukan masalah besar.” Ia menatap pemandangan yang fantastis di sekitarnya. Ia juga menatap segelas kopinya. “Ini juga. Kopinya luar biasa. Ada sensasi berbeda dari sisi rasa, aroma, dan after-tastenya setelah minum. Ada kopi Menoreh robusta dan arabika dengan cita rasa berbeda.”
Dinan lantas menghentikan aktifitas makannya. Meletakkan sendok dan menatap pria itu skeptis. “Lagi belajar jadi food-vloger?”
Seketika Kala menutup mulutnya rapat-rapat. Rupanya ia telah banyak berbicara.
“Cuma menghibur, tau!” sambung Kala nyaris tanpa suara.
“Menghibur siapa? Aku sama sekali nggak terhibur,” ceplos Dinan.
Kala lantas mengetuk meja dua kali. “Hey! Aku ini orang yang peka, ya. Aku hanya bersimpati karena Bu Dinan sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Nggak bisa menghargai juga?” Ia berdecih. “Kenapa kamu selalu merusak kesenangan hidup ini.”
“Apa?” Dinan tersentak. “Aku emang nggak butuh hiburan dan nggak tau juga kalau Mas Kala menghibur. Salah saya di mana?”
“Mulut Bu Dinan yang salah!” Kala tak kuasa menahan kesal. “Mau saya belikan saringan? Saringan teh, saringan santan atau saringan wastafel?”
Dinan memejam sejenak. Kepalanya sudah cukup panas menghadapi lelaki abstrak satu itu. “Terserah. Terserah Mas Kala aja.”
“Aissh!” Kala yang hendak menyendok makanannya mendadak meletakkan kembali benda tersebut di atas piring sembari mengeluh. “Nggak usah sok kuat. Semua orang punya trauma. Semua orang punya luka...”
Kalimat itu membuat Dinan tak jadi meneguk minumannya. Ia membeku.
“...maka dari itu aku berusaha menyalakan suasana. Tapi kalau kamu nggak terhibur, maaf,” sambung Kala. Ia kembali menyantap makanannya dengan lahap.
Sedangkan Dinan tenggelam dalam seluruh makna dari kalimat tersirat itu dalam berbagai perasaan acak.
“Hey!” Kala mengetuk mejanya lagi, menyadarkan Dinan. “Kamu tau? Kamu banyak sekali kekurangannya.”
Dinan hanya terdiam menatapnya.
“Kurang peka, kurang berekspresi, kurang egois.”
Mata Dinan bergetar. “A-apa aku harus menambahkan setiap porsi dari kekurangan itu?”
Kala memajukan posisi duduknya. Kedua mata mereka saling bertatapan dengan jarak yang dekat. “Uhm! Dengan begitu, hidupmu akan lebih terang dan kamu bisa dengan mudah mencari jalan keluar. Kamu akan menjadi ibu yang baik, guru yang hebat dan Dinan yang bahagia.”