Sebelum langit senja merangkak, anggota kepolisian mulai berhamburan dari kantor menuju kediaman masing-masing. Namun tampak Kala sedang termangu di balik bilik kerjanya sambil asyik berkutat pada ponsel. Tangannya terus menggulir layar.
“Mas Kala nggak pulang?” tanya Kalim memastikan. Biasanya mereka pulang bersama.
“Duluan aja,” sahut Kala sambil fokus pada gawainya.
“Oke, deh.” Kalim memahami tingkat kefokusan pria berambisi itu. “Oh, iya! Jangan lupa malam nanti kita ronda, ya, Mas.”
“Iya,” jawabnya santai. Seketika matanya membelalak seolah tak menyadari apa yang baru saja ia tanggapi setelah Kalim melenggang pergi. “Apa?” Kala linglung. “Ronda? Di sini masih ada ronda?” tanyanya pada Nana yang sedang merapikan mejanya.
“Masih, lah.”
“Wah! Udah lama aku nggak dengar istilah ‘ronda malam’.”
“Itu salah satu alasan kenapa Desa Semanggi selalu aman dan tentram,” tambah Nana. “Saya pulang duluan!” Ia melakukan hormat di hadapan Kala yang pangkatnya lebih tinggi.
Kala hanya mengangguk-angguk, lalu kembali fokus pada layar ponselnya. Ia menyipit saat sedang mengais hipotesa terkait banyak artikel yang telah ia baca.
“Nggak ada nama Dinan satu pun di antara banyaknya artikel tentang Arjuna Mata Angin,” gumamnya.
Sejak tadi, Kala mengurai rasa penasarannya dengan mencari tau lebih lanjut soal calon bupati yang ternyata merupakan mantan suami dari Dinan. Kala juga tidak punya alasan untuk melakukannya. Hanya penasaran.
Kala menyatukan alisnya. “Tatapan Dinan...” Ia sedang mengingatnya. “...tatapan penuh trauma dan kekecewaan.”
“Setidaknya pernah ada gosip kalau Arjuna pernah menikah sebelumnya. Tapi ini enggak ada sama sekali.”
Profil Arjuna Mata Angin putra Doktor Sadewa Bangun Pradja, mantan gubernur Jawa Tengah—calon bupati Kulon Progo yang tak hanya cerdas, berpendidikan, tapi juga tampan. Sehingga ia punya julukan, ‘mantu idaman’. Namun, pria 38 tahun lulusan Melbourne University itu sudah menikah dengan Ariyani Cantika lima tahun lalu yang merupakan seorang dokter kecantikan.
Kala mendesis. “Ini bikin nagih. Semua tentang Arjuna adalah kesempurnaan.” Ia lantas menghempaskan napasnya kasar, lalu bersandar di punggung kursi. “Justru yang sempurna kaya gini memang patut dicurigai.”
“Kaya kamu.”
“Hah?” kaget Kala sampai menegapkan posisi duduknya saat Pak Teguh datang. “Saya emang ganteng, sempurna. Tapi saya nggak patut dicurigai.”
Pak Teguh mengembuskan napas yang bertenaga sembari menatap Kala dengan iba. “Lihat! Kamu patut dicurigai kalau nggak segera datang ke psikiater.”
Kala murung.
^^^
Segelas s**u segar yang sudah dihangatkan, Dinan bawa ke kamar Gara yang sedang mengerjakan PR. Ia sedang tenggelam dengan buku. Senyum lembut merekah di wajah Dinan, mengamati pertumbuhan putra semata wayangnya tanpa seorang ayah.
“Kalau ada yang nggak tau, bilang bunda, ya.”
“Eits!” Gara menahan tangan sang ibu dengan pena agar tak mengusap kepalanya.
Dinan terkekeh. “Anak bunda lagi menyembunyikan apa, sih?”
“Aish!” Gara mendesis kesal. “Andai aku juga punya psikometri.”
“Kenapa?”
“Bunda selalu tau apa yang aku lewati, tapi aku nggak tau apa yang bunda lewati,” keluh bocah remaja itu. “Ah, atau bahkan lebih baik kalau bunda nggak usah punya kemampuan psikometri.”
“Walaupun bunda nggak punya kemampuan psikometri, bunda tetap bisa tau apa yang kamu lewati, Nak.” Pada akhirnya Dinan mengusap kepala Gara. Perempuan itu tertegun dalam diam selagi memori sang putra terbaca olehnya.
Khmm... Dinan berdeham.
“Tuh, kan! Nggak seru banget kalau bunda tau segalanya!” Gara mengeluh lagi.
Dinan menggeleng. “Bunda nggak lihat apa-apa, tuh.”
“Masa?” Gara menyipit yang dihadiahi anggukan Dinan.
“Mungkin bunda lagi capek?”
Gara masih memberikan tatapan awas dan berterima kasih atas segelas s**u yang dibawakan.
Dinan lantas memilih untuk keluar, meninggalkan Gara tenggelam dengan tugas-tugasnya sembari bertindak seolah tak mengetahui sesuatu. Namun, pada akhirnya Dinan tak bisa menahan diri. Ia tertawa sembari menatap kamar putra semata wayangnya yang tertutup.
“Ah, sweet banget, sih,” gumam Dinan masuk ke dalam kamar.
Sudah seringkali hal serupa terjadi. Dinan pun berusaha untuk pura-pura tidak melihat memori sang anak yang sedang membuat kejutan untuknya. Namun, Dinan juga tak kalah sering melihat kesedihan mendalam Gara sebagai korban perpisahan kedua orang tuanya.
Namun seiring bertambah dewasa, Gara seolah bisa berdamai dengan keadaan beriringan dengan dukungan dan kasih sayang Dinan yang terus menghujaninya.
Dinan mengerjakan beberapa tugasnya di atas meja yang berhadapan dengan jendela. Ia membiarkan gordyn tetap terbuka. Pemandangan malam desa berkilau gantastis. Itu menjadi teman sepi yang menyenangkan di malam hari.
Aktifitas mengetiknya mendadak terhenti saat kejadian siang tadi terputar.
“Kenapa dia harus mencalonkan diri di daerah ini?” Dinan menerka seraya terkekeh.
Bagi Dinan, hanya ada dua alasan bagi Juna yang kembali menyapa: Pertama, Juna sengaja ingin menghantui Dinan dan merebut Gara. Kedua, dia ingin memamerkan kehidupan terbarunya. Entah bersama istri atau perempuan yang mana sedangkan hidup Dinan tampak biasa-biasa saja.
“Kurang peka, kurang berekspresi, kurang egois.”
Kalimat yang disematkan Kala masih terngiang di ingatan.
“Apa aku harus egois dan berekspresi bahwa aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun saat dia datang lagi?” Ia sedang menimbang-nimbang. “Aku harus menaikkan bahuku.” Dinan menegapkan bahunya. “Aku tidak peduli. Dia hanya orang asing.”
Namun satu pikiran membuatnya kembali menurunkan bahunya. “Tapi ada Gara di antara kita.”
Bahkan sampai detik ini, Dinan belum lagi mempertemukan Gara pada ayahnya. Meskipun Juna adalah ayahnya, Dinan seolah masih belum ikhlas jika mereka bertemu.
“Kayanya aku sudah terlalu lama egois? Kenapa tuh laki nyuruh aku buat lebih egois?” Mata Dinan langsung membidik rumah tingkat di seberangnya.
Dinan bersandar di punggung kursi sembari bersedekap. Cih... “Dia sok tau banget.”
Ingatan lain membuat Dinan tertegun. Entah dorongan dari mana yang membuat memori milik Kala yang beberapa waktu lalu pernah ia lihat lewat sentuhan itu teringat kembali dalam urutan tak menentu, membentuk sebuah kaleidoskop.
Boom!
Sebuah benturan antara dua kendaraan begitu menyeruak. Kala yang sedang mengemudi itu tak berdaya, namun menjadi tak terkendali saat melihat seorang wanita di sampingnya telah berlumur cairan merah. Tak berdaya.
“Naya! Naya! Bangun!”
Rupanya Naya dinyatakan meninggal di tempat padahal mereka baru saja kembali dari mengurus persiapan pernikahan. Supir mobil lawan dinyatakan bersalah karena mengemudi dalam keadaan mengonsumsi alkohol, tapi keluarga perempuan bernama Nayanika kadung membenci Kala.
Dinan menghempaskan napasnya sembari menatap rumah di seberangnya. “Dia juga punya trauma berat.”
“Akh!” jerit Dinan saat tersadar. “Kenapa aku harus bersimpati?” Ia menertawai diri sendiri. “Inilah kenapa psikometri sangat menyebalkan. Aku jadi ikut memikirkan kepetingan orang lain.”
Kemudian saat hendak menutup gordyn, satu pandangan membuatnya tertegun. Ia lantas membuka jendela dengan semangat.
“Kalim!”
“Oh, Bu Dinan!”
Dinan membukakan pintu depan dan memberikan Kalim banyak makanan untuk ronda malam. Kebetulan ia dapat banyak makanan dari warga setelah kejadian itu.
“Makasih, ya, Bu Dinan.”
“Sama-sama.” Namun mata Dinan terdorong untuk fokus ke lantai dua kediaman Kala.
“Kamu cari aku?”
Jantung Dinan nyaris melompat saat Kala menuruni tangga, turun dari lantai dua. Ia seolah memperhatikannya.