33. Kita Berteman

1075 Kata

Pipi Dinan yang putih mulus itu mulai bersemu kemerahan dan terasa memanas. Dinan tak bisa mendeskripsikan perasaannya. Yang jelas, ia jarang sekali dibuat terang-terangan salah tingkah dengan orang lain. Apalagi orang lain itu dengan santainya tertawa dan menggodanya seperti tak tersimpan beban. “Mau ke mana?” tanya Kala masih betah tersenyum. “Itu belum habis jagungnya.” “Aku habisin di rumah, lah.” “Mana enak? Udah makin dingin. Hah!” Kala menghempaskan napas dari mulutnya, menunjukkan betapa dingin udara saat ini saat uap dari mulutnya bertebaran. Kala menepuk papan kosong di sisinya. “Sini, duduk sambil liat bulan.” Dinan mengernyit kesal, lalu duduk di samping Kala dengan sedikit bermandikan jarak. Ia menghabiskan sisa jagung bakar itu dengan malas. “Kayanya kapan-kapan kita per

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN