Meski waktu telah lama berlalu, namun tak dapat menyembuhkan luka. Waktu hanya mengajarkan kita untuk terbiasa menghadapi kepahitan dalam hidup. Nyatanya saat kembali berhadapan dengan bongkahan masa lalu, Dinan masih saja bergetar. Ia tak bisa menantang atau melarikan diri saat berada di hadapan mantan suaminya. Gurat rona wajah wanita cantik serupa bonek itu menampakkan trauma yang mendalam. Ada kekecewaan teramat besar, kebencian hingga penyesalan. Tapi Dinan tak mau terlihat bodoh. Kala bilang, dia adalah orang hebat karena telah mengambil keputusan hebat. Lantas Dinan menatap tangan Juna yang mungkin saja menenggelamkannya lagi ke dalam kubangan masa lalu. Ia jadi teringat pula atas obrolannya dengan Yuli beberapa waktu lalu. “Foto Juna di mana-mana karena sudah masuk masa pilkada.

