20.Mimpi Buruk

1272 Kata

Malam itu, Dinan memboncengi Kala untuk pulang karena pria itu sempat gemetaran melihat kecoak. Sungguh tidak bisa diandalkan. Seorang polisi, tinggi dan besar. Tapi tidak berdaya di hadapan hewan mungil itu. Bagaimana bisa melindungi masyarakat?—itulah yang Dinan keluhkan sejak tadi. Dinan mengayuh sepeda jadul yang memiliki satu lampu kuning di depannya menyusuri desa yang sudah berangsur sunyi. Angin malam berhembus mesra di antara celah dahan dan ranting. “Udah sampai!” Dinan mengerem lajunya. “Uhm?” Kala terperangah seolah baru tersadar setelah malam panjang. “Cepat turun!” tegas Dinan. Ibu satu anak itu lantas menghempaskan napasnya kasar. “Aku jadi penasaran sesuatu.” “Apa?” Kala membuang wajahnya sembarang asal tak menatap mata Dinan yang jeli, apalagi sampai tersentuh olehny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN